Lewati ke konten utama
Sabtu, 3 Oktober 2026 / 21 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
9e6af31f-04da-4146-91ed-3004723c0332
Berita

MUI dan Abu Dhabi Forum for Peace Bahas Islam Wasathiyyah, Perdamaian, dan Fikih Realitas

MUI dan Abu Dhabi Forum for Peace Bahas Islam Wasathiyyah, Perdamaian, dan Fikih Realitas

/ 21 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 221 dibaca

JAKARTA, MUI Digital— Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama delegasi Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian (Abu Dhabi Forum for Peace) membahas penguatan pemikiran Islam Wasathiyyah (moderat) dan nilai-nilai perdamaian global.

Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan kehormatan delegasi Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Sabtu (3/10/2026). 

Kunjungan tersebut berlangsung bersamaan dengan Simposium Ilmiah bertajuk Pembentukan Fatwa dan Fikih Realitas Menurut Al-Allamah Abdullah bin Bayyah.

Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar melihat penguatan pemikiran wasathiyyah dan keterlibatan tokoh agama penting di tengah dinamika krisis global, konflik geopolitik, serta ketidakpastian ekonomi dunia.

“Kedatangan beliau berdua dan rombongan ini akan memberikan satu pemahaman dan kerja sama tentang pentingnya Islam wasathiyyah, pemikiran tawassuth, serta perdamaian dunia. Keadaan dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja dan itu berbahaya bagi masa depan umat manusia,” ujar Kiai Anwar Iskandar.

Bagi Kiai Anwar, pembicaraan tentang perdamaian juga berkaitan dengan cara Islam memandang hubungan antarmanusia dan antarbangsa. 

Wakil Rais Aam PBNU tersebut menjelaskan, ajaran Islam menekankan nilai-nilai keseimbangan dan persaudaraan antarbangsa, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 143 dan Surah Al-Hujurat ayat 13.

Keragaman suku, bangsa, dan latar belakang, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, Kediri, Jawa Timur itu, merupakan sunnatullah yang semestinya menjadi ruang untuk saling mengenal dan menghormati, bukan sumber perpecahan.

“Betapapun kita berbeda latar belakang, baik suku, bangsa, bahasa, bahkan agama, prinsip-prinsip universal kemanusiaan harus tetap kita jaga. Hari ini kita membangun kesepahaman antara dua bangsa dan sesama muslim agar dunia diterangi oleh kedamaian,” tegasnya.

Gagasan tentang wasathiyyah dan perdamaian tersebut mendapat perhatian dari Peneliti Senior Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian, Dr Muhammad Mahbub bin Bayyah. 

Cucu ulama terkemuka Syekh Abdullah bin Bayyah ini mengapresiasi peran historis dan kepemimpinan MUI dalam membimbing umat dengan kearifan serta pandangan yang tajam.

Dr Mahbub juga menilai Indonesia sebagai model pionir dalam menerapkan moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk.

Dari gagasan tersebut, Dr Mahbub kemudian memaparkan pentingnya pendekatan fikih yang adaptif terhadap dinamika zaman untuk merespons gejolak krisis dan ekstremisme global. 

Pendekatan itu, menurutnya, dapat ditempuh melalui penguatan fikih realitas (fiqh al-waqi’) dan ijtihad berbasis tujuan syariat (al-ijtihad al-maqashidi).

Menurut Dr Mahbub, pendekatan tersebut mampu menghadirkan solusi konkret yang moderat tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar agama.

“Kemitraan aktif kita hari ini merupakan penerjemahan nyata dari upaya bersama kita menuju penyampaian narasi Islam yang autentik, yang mampu menghadirkan solusi-solusi fikih realistis yang berkontribusi dalam menyebarkan perdamaian dunia, memadamkan api ekstremisme, melawan kedzaliman, dan menebarkan keadilan,” paparnya.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat komitmen tersebut secara berkelanjutan, Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian juga menjajaki penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kemitraan strategis bersama MUI dalam waktu dekat.

Dalam acara tersebut, hadir Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh serta mantan Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Islam Dr Muhammad Sholahuddin Al-Mustawi. 

BAGIKAN: