Lewati ke konten utama
Jumat, 23 Oktober 2026 / 12 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Menag
Menteri Agama, Prof KH Nasaruddin Umar, dalam Istighatsah Kebangsaan memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bertema: Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri. Kegiatan ini digelar atas kerja sama Kementerian Agama RI dengan Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2026) malam. Foto: Alwi/ MUI Digital
Berita

Menteri Agama: Pesantren tak Hanya Olah Nalar, Tapi Juga Olah Batin Santri

Menteri Agama: Pesantren tak Hanya Olah Nalar, Tapi Juga Olah Batin Santri

/ 12 Jumadil Awal 1448 H 3 menit baca 64 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan pondok pesantren memiliki keunggulan komparatif mendasar dibanding sekolah formal pada umumnya. 

Tak sekadar mengasah logika intelektual, Menag menyebut lembaga pendidikan pesantren menempa para santri secara komprehensif melalui perpaduan olah nalar dan spiritualitas batiniah.

Hal tersebut disampaikan Menag KH Nasaruddin Umar saat memberikan tausiyah dalam kegiatan Istighatsah Kebangsaan Hari Santri Nasional 2026 bertema "Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri" yang berlangsung di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2026).

Menag menjelaskan bahwa metodologi pembelajaran di sekolah umum dominan mengandalkan deduksi akal dan analisis nalar semata dengan sumber keilmuan tunggal. 

Sebaliknya, pondok pesantren memiliki tradisi keilmuan holistik yang bersumber dari lima dimensi pengetahuan.

"Kalau di sekolah, sumber keilmuan diperoleh melalui olah nalar,” ujar Menag. 

 Namun di pondok pesantren, ada lima sumber ilmu pengetahuan. Metodologinya tidak hanya mengandalkan deduksi akal dan analisis pikiran, tetapi juga mengandalkan unsur-unsur batin.

Menag memperinci kelima sumber keilmuan tersebut, yakni deduksi akal, intuisi (istifta’al qalb), wahyu Alquran, ilham, serta petunjuk batiniah (ru'ya). 

Menurutnya, pengasahan dimensi batin melalui ibadah malam seperti shalat tahajud, wudhu, dan riyadhah spiritual inilah yang membuat hati para santri menjadi jernih dan tajam dalam menerima kebenaran.

Lebih lanjut, Menag menggarisbawahi sejarah panjang tradisi pesantren yang telah mengakar sejak abad ke-16 melalui dakwah Wali Songo. 

Menag menegaskan bahwa kehadiran pesantren terbukti memelopori pondasi pendidikan nasional jauh sebelum lahirnya perguruan tinggi modern. 

"Seandainya tidak pernah ada penjajah yang mendistorsi sejarah, lembaga pendidikan terkemuka di Indonesia sejak abad lalu adalah universitas-universitas berbasis pesantren," ujar Menag.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyampaikan apresiasi atas terbitnya Keputusan Presiden (Kepres) di era Presiden Prabowo Subianto yang menaikkan martabat kelembagaan pesantren dari tingkat direktorat menjadi Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren Kementerian Agama RI.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk pengakuan penuh negara terhadap kesetaraan dan eksistensi pendidikan pesantren dalam sistem pendidikan nasional.

Menag turut menyuntikkan semangat kepada para santri agar percaya diri dalam menatap masa depan. Menag mencontohkan hadirnya tokoh-tokoh penting nasional berlatar belakang santri, salah satunya Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman.

"Santri itu tak ada matinya. Santri bisa jadi Menko, jadi jenderal, hingga jadi menteri. Beruntunglah kalian yang menuntut ilmu di pesantren karena sumber pengetahuannya melimpah dan mendalam," tuturnya memotivasi.

Acara Istighatsah Kebangsaan yang diselenggarakan atas kerja sama Kementerian Agama RI dan Komisi Pesantren MUI ini turut dihadiri Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, Sekda Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto, Kabaharkam Polri Komjen Herry Heryawan, Ketua MUI Bidang Infokomdigi KH Masduki Baidlowi, Dirjen Pesantren Kemenag RI sekaligus Ketua Komisi Pesantren MUI KH Basnang Said, Pengasuh PP Asshiddiqiyah KH Mahrus Iskandar, serta Wasekjen MUI H Rofiqul Umam Ahmad.


Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads