Lewati ke konten utama
Jumat, 23 Oktober 2026 / 12 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
HSN
Istighatsah Kebangsaan memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bertema: Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri. Kegiatan ini digelar atas kerja sama Kementerian Agama RI dengan Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2026) malam. Foto: Alwi/ MUI Digital
Berita

Dirjen Pesantren Kemenag Sebut Santri Punya Peluang yang Sama Membangun Bangsa

Dirjen Pesantren Kemenag Sebut Santri Punya Peluang yang Sama Membangun Bangsa

/ 12 Jumadil Awal 1448 H 2 menit baca 75 dibaca

Jakarta, MUI Digital—Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Pesantren Kementerian Agama RI Basnang Said menyebut santri memiliki kesetaraan peluang dengan lulusan lembaga pendidikan lainnya untuk berkontribusi dan membangun bangsa di berbagai bidang profesi.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Istighotsah Kebangsaan Hari Santri Nasional 2026 bertema "Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri" di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2026).

"Anak-anakku semua tidak perlu berkecil hati, tidak perlu rendah diri. Kalian sama dengan lulusan-lulusan yang lainnya. Mau menjadi polisi, insya Allah ada. Mau menjadi tentara, tidak ada halangan. Menjadi dokter, tidak ada halangan. Mau menjadi apa saja, santri bisa!" ujar Basnang Said. 

Ketua Komisi Pesantren MUI ini menilai keunggulan santri terletak pada kuatnya pendidikan karakter dan pembentukan soft skill selama berada di pondok pesantren. 

Menurutnya, nilai-nilai seperti kejujuran, kesederhanaan, dan ketangguhan yang diajarkan di pondok pesantren membuat santri mampu beradaptasi dalam kondisi apa pun.

"Di pesantren, kita lama dididik soft skill-nya: jujur, apa adanya, dan tidak neko-neko. Makanya dalam kondisi apa pun, santri tetap bisa survive karena sudah terlatih sejak di pondok," jelasnya.

Selain itu, Basnang menekankan bahwa pesantren merupakan pilar penting dalam merawat kebhinekaan. Basnang mengatakan santri terbiasa hidup berdampingan dengan rekan-rekannya yang berasal dari berbagai latar belakang daerah.

"Di pondok pesantren, kita tidak pernah mempermasalahkan perbedaan kulit, rambut, agama, maupun daerah asal. Bagi santri, perbedaan adalah hal yang biasa. Oleh karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan asli Nusantara harus terus kita pertahankan," kata dia menegaskan. 

Dalam kesempatan tersebut, Basnang Said juga melaporkan agenda peluncuran program perlindungan santri yang digagas Komisi Pesantren MUI, yaitu Himayatu Tholabah (Himayatu Tullab). 

Basnang menjelaskan program ini dihadirkan untuk memastikan pesantren menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi seluruh santri tanpa adanya kekerasan fisik maupun seksual.

"Pemerintah dan MUI berkomitmen menjamin masa depan santri dan menghadirkan ruang tinggal yang aman serta nyaman bagi anak-anak kita di pesantren," kata Basnang. 

Acara Istighotsah Kebangsaan ini turut dihadiri oleh Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Sekda DKI Jakarta Uus Kuswanto, Kabaharkam Polri Komjen Herry Heryawan, Pengasuh Ponpes Asshiddiqiyah KH Mahrus Iskandar, Ketua MUI Bidang Infokomdigi KH Masduki Baidlowi.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads