Lewati ke konten utama
Rabu, 21 Oktober 2026 / 10 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Ketua MUI Siti Ma’rifah: Perempuan Bukan Pelengkap, melainkan Kekuatan Utama Perdamaian
Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK), Dr Siti Ma’rifah, dalam Forum Perempuan yang bertajuk “Dari Ibu Indonesia untuk Ibu Palestina: Lukamu Berdenyut di Jantung Kami” yang digelar di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Foto: MUI Digital/Sadam
Berita

Ketua MUI Siti Ma’rifah: Perempuan Bukan Pelengkap, melainkan Kekuatan Utama Perdamaian

Ketua MUI Siti Ma’rifah: Perempuan Bukan Pelengkap, melainkan Kekuatan Utama Perdamaian

/ 10 Jumadil Awal 1448 H 3 menit baca 77 dibaca

Jakarta, MUI Digital — Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK), Dr Siti Ma’rifah, mengingatkan pentingnya peran strategis perempuan dalam membangun solidaritas kemanusiaan dan perdamaian global.

Siti Ma’rifah juga menegaskan bahwa peran perempuan bukan sekadar elemen pelengkap, melainkan kekuatan utama di garis depan penyelesaian konflik dan pembangunan perdamaian. Hal ini disampaikan dalam Forum Perempuan yang bertajuk “Dari Ibu Indonesia untuk Ibu Palestina: Lukamu Berdenyut di Jantung Kami” yang digelar di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

“Peran strategis perempuan dalam membangun solidaritas kemanusiaan dan perdamaian global bukan hanya pelengkap, tetapi merupakan kekuatan utama perdamaian. Karena ibu adalah sebagai pendidik, mediator, penggerak, sekaligus pemimpin,” ujarnya.

Putri Wakil Presiden ke-13 RI ini menjelaskan bahwa posisi strategis perempuan berada di titik kunci keluarga, dunia pendidikan, komunitas, hingga panggung politik. Di tingkat mikro keluarga, perempuan bertindak sebagai sekolah pertama (madrasatul ula).

“Nilai-nilai toleransi, empati, dan anti-kekerasan ditanamkan mulai dari rumah untuk memutus rantai konflik sejak dini. Anak yang dibesarkan dengan empati tinggi akan lebih toleran dan tidak mudah terpengaruh kelompok ekstrem,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, perempuan cenderung menggunakan pendekatan dialogis dan nonkekerasan dalam menyelesaikan masalah. Menurutnya, gaya kepemimpinan yang mengutamakan empati ini mampu menghasilkan solusi yang saling memenangkan (win-win solution) serta menciptakan kebijakan yang lebih manusiawi di tingkat internasional.

​Meski memiliki potensi besar, Siti Ma’rifah menyayangkan masih rendahnya keterlibatan perempuan dalam meja negosiasi dan pengambilan keputusan perdamaian dunia. Mengutip data UN Women, keterlibatan perempuan dalam perjanjian damai global baru mencapai sekitar 35 persen, sementara sebagai negosiator perdamaian resmi hanya berkisar 13 persen.

​“Perdamaian global tidak akan pernah tercapai jika perempuan hanya dijadikan penonton. Kita perlu mendorong penguatan keterlibatan perempuan, termasuk dalam penetapan kuota kebijakan minimal 30% keterlibatan perempuan dalam proses-proses perdamaian dunia,” ungkapnya.

​Menyinggung situasi kemanusiaan di Jalur Gaza, Siti Ma’rifah menggarisbawahi komitmen umat Islam dan bangsa Indonesia yang berakar pada nilai kepedulian keimanan (maqashid syariah) serta amanat Konstitusi Pembukaan UUD 1945.

Siti Ma’rifah juga menyoroti nasib anak-anak di Gaza yang kian memprihatinkan, di mana data menunjukkan ada lebih dari 68.000 anak kehilangan orang tua atau menjadi yatim akibat konflik berkepanjangan.

​“Sebagai ibu-ibu di Indonesia, kita tidak hanya menjadi ibu bagi anak-anak di rumah kita sendiri, tetapi juga ibu bagi anak-anak di Palestina dan di seluruh dunia yang membutuhkan uluran tangan,” tuturnya.

Siti Ma’rifah mengutip kaidah penting untuk menyatukan langkah dan gerak nyata bagi kemanusiaan, yakni “Al-haqqu bila nidhamin yaghlibuhul-bathilu binidhamin”.

“Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Mari kita satukan gerak dan langkah secara terstruktur dan berkelanjutan untuk Palestina,” tegasnya.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI bekerja sama dengan Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI. Hadir dalam acara ini, antara lain Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim, dan Ketua IsDF MUI Trisna Ningsih Yuliati.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads