Lewati ke konten utama
Jumat, 23 Oktober 2026 / 12 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
KH Marsudi Syuhud
Waketum MUI, KH Marsudi Syuhud, dalam Istighatsah Kebangsaan memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bertema: Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri. Kegiatan ini digelar atas kerja sama Kementerian Agama RI dengan Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2026) malam. Foto: Alwi/ MUI Digital
Berita

Apresiasi Pemerintah, Kiai Marsudi Syuhud Ajak Santri Kawal Lewat Kritik Membangun

Apresiasi Pemerintah, Kiai Marsudi Syuhud Ajak Santri Kawal Lewat Kritik Membangun

/ 12 Jumadil Awal 1448 H 4 menit baca 64 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan dan capaian program pembangunan yang dijalankan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. 

Di saat yang sama, Kiai Marsudi juga mengajak para santri dan elemen masyarakat lainnya untuk terus mengawal jalannya roda pemerintahan melalui kritik dan masukan yang konstruktif demi kemaslahatan bangsa.

Kiai Marsudi menegaskan bahwa menjaga dan membela negara (hubbul wathan minal iman, wad-difafu anil wathoni fardhu ain) merupakan amanah sejarah yang melekat pada diri santri. 

Kiai Marsudi mengingatkan bahwa Republik Indonesia tidak berdiri secara tiba-tiba, melainkan lahir dari legacy dan perjuangan para ulama serta santri terdahulu.

Oleh karena itu, lanjutnya,  pengawasan terhadap jalannya pembangunan nasional menjadi bagian tak terpisahkan dari ikhtiar menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI. 

Kiai Marsudi menilai bahwa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah berupaya merealisasikan berbagai program demi kemajuan masyarakat.

"Malam hari ini saya mengapresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto beserta Gibran yang telah melaksanakan program-program pembangunannya. Mudah-mudahan apa yang sudah bisa diterima masyarakat, kita bersyukur alhamdulillah dan terus dilanjutkan," ujar Kiai Marsudi dalam gelaran Istighotsah Kebangsaan Hari Santri Nasional 2026 yang mengusung tema: Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri.

Kegiatan ini digelar atas kerja sama Kementerian Agama RI dan Komisi Pesantren MUI di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, pada Kamis (22/10/2026).

Kiai Marsudi menegaskan bahwa menjaga dan membela negara (hubbul wathan minal iman, wad-difafu anil wathoni fardhu ain) merupakan amanah sejarah yang melekat pada diri santri.

Kiai Marsudi mengingatkan bahwa Republik Indonesia tidak berdiri secara tiba-tiba, melainkan lahir dari legacy dan perjuangan para ulama serta santri terdahulu. 

Oleh karena itu, pengawasan terhadap jalannya pembangunan nasional menjadi bagian tak terpisahkan dari ikhtiar menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI.

Kiai Marsudi menilai bahwa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah berupaya merealisasikan berbagai program demi kemajuan masyarakat. 

"Malam hari ini saya mengapresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto beserta Gibran yang telah melaksanakan program-program pembangunannya. Mudah-mudahan apa yang sudah bisa diterima masyarakat, kita bersyukur alhamdulillah dan terus dilanjutkan," ujar Kiai Marsudi.

Kendati demikian, Kiai Marsudi menggarisbawahi bahwa dinamika pembangunan tidak lepas dari berbagai kekurangan yang perlu disempurnakan. 

Dalam merespons kekurangan tersebut, santri diajak untuk mengambil peran aktif menyampaikan masukan secara bijak, objektif, dan berniat membangun, bukan merusak.

"Yang masih belum bisa diterima karena ada kurang ini atau kurang itu, mestinya begini atau begitu, ayo bareng-bareng kita sampaikan. Masih ada yang kurang, oh ini perlu diperbaiki, oh ini masih harus dijalankan terus. Kita sampaikan kritik-kritiknya, tapi jangan kritik yang merusak. Itu semua adalah demi membangun," tegas Kiai Marsudi.

Lebih lanjut, Kiai Marsudi mengingatkan tiga pilar utama tugas santri sebagaimana pernah dipesankan oleh pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.

Ketiga pilar tersebut mencakup kewajiban menjaga agama, menjaga guru atau sanad keilmuan, serta menjaga negara dan bangsa. Menurutnya, keberadaan lembaga pesantren dan organisasi keislaman di Indonesia terbukti menjadi benteng utama dalam merawat persatuan nasional.

"Membangun bangsa adalah suatu keharusan, baik membangun dari segi fisik dan infrastruktur maupun membangun kemaslahatan warganya, seperti yang dilakukan pesantren lewat pendidikan dan MUI lewat perekat persatuan," tambahnya.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, antara lain, Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, serta Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri Komjen Pol Herry Heryawan yang mewakili Kapolri, Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto, Ketua MUI Bidang Infokomdigi KH Masduki Baidlowi, Dirjen Pesantren Kemenag RI sekaligus Ketua Komisi Pesantren MUI KH Basnang Said, Wasekjen MUI Bidang Halal H Rofiqul Umam Ahmad dan Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah KH Mahrus Iskandar.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads