Lewati ke konten utama
Kamis, 29 Oktober 2026 / 18 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Agama dan Teori Sosial: Memahami Perilaku Keagamaan pada Masyarakat
Sulawesi Selatan

Agama dan Teori Sosial: Memahami Perilaku Keagamaan pada Masyarakat

Agama dan Teori Sosial: Memahami Perilaku Keagamaan pada Masyarakat

/ 18 Jumadil Awal 1448 H 4 menit baca
Dr. H. Muhammad Sabiq, M.Si. (Sekertaris Komisi Bidang Kajian MUI Sulsel)

Agama dan masyarakat merupakan dua realitas yang tidak dapat dipisahkan.

Agama tidak hanya hadir sebagai sistem keyakinan dan pedoman moral, tetapi juga menjadi kekuatan sosial yang memengaruhi cara manusia berpikir, bertindak, membangun hubungan, serta memahami kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari, agama hadir dalam praktik ibadah, hubungan keluarga, solidaritas sosial, aktivitas ekonomi, dinamika politik, hingga interaksi masyarakat di ruang digital.

Memahami agama dalam kehidupan sosial tidak cukup hanya melalui pendekatan teologis atau normatif.

Kita perlu melihat bagaimana agama dipahami, dipraktikkan, dinegosiasikan, dan terkadang dipertentangkan dalam realitas masyarakat.

Di sinilah teori sosial memiliki peran penting untuk menjelaskan hubungan antara keyakinan keagamaan dan perilaku manusia.

Agama Bukan Sekadar Keyakinan, tetapi Juga Realitas Sosial

Durkheim, salah seorang tokoh utama sosiologi klasik, memandang agama sebagai fenomena sosial yang berperan membangun solidaritas dan kesadaran kolektif.

Melalui ritual dan simbol-simbol bersama, masyarakat memperkuat ikatan sosial serta menegaskan nilai yang mereka anggap penting.

Perspektif ini membantu kita memahami mengapa kegiatan keagamaan di Indonesia sering kali melampaui kepentingan ibadah individual.

Pengajian, peringatan hari besar keagamaan, tradisi keagamaan lokal, dan kegiatan sosial berbasis masjid dapat menjadi ruang perjumpaan, gotong royong, dan pemeliharaan solidaritas masyarakat.

Agama tidak selalu menghasilkan integrasi sosial.

Dalam kondisi tertentu, identitas keagamaan juga dapat menjadi batas yang membedakan kelompok, memperkuat prasangka, atau memunculkan persaingan otoritas.

Pada masyarakat, otoritas keagamaan dapat terbentuk melalui penguasaan ilmu agama, tradisi pendidikan pesantren, keteladanan, pengabdian sosial, pengakuan komunitas, maupun kemampuan menyampaikan pesan keagamaan kepada publik.

Akan tetapi, sumber otoritas tersebut dapat berubah seiring perubahan struktur masyarakat dan perkembangan media komunikasi.

Di era digital, pendakwah yang memiliki kemampuan mengelola media sosial dapat memperoleh perhatian luas dalam waktu singkat. Popularitas, jumlah pengikut, dan interaksi digital berpotensi menjadi modal simbolik baru. Pada saat yang sama, otoritas keagamaan yang dibangun melalui pendidikan, pengalaman, dan pengakuan komunitas tetap memiliki peranan penting.

Pertanyaan sosiologis: apakah popularitas digital selalu sejalan dengan otoritas keilmuan? Bagaimana masyarakat menilai kebenaran pesan agama ketika informasi beredar melalui algoritma, potongan video, dan konten viral?

Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan perilaku keagamaan tidak dapat dilepaskan dari perubahan struktur komunikasi, distribusi pengetahuan, dan mekanisme pembentukan kepercayaan.

Agama pada Masyarakat Digital

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama, mengikuti pengajian, berinteraksi dengan tokoh agama, dan mengekspresikan identitas keagamaan.

Ruang digital memungkinkan pengetahuan keagamaan menjangkau kelompok yang lebih luas, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan baru.

Informasi keagamaan yang ringkas dan emosional dapat lebih mudah menarik perhatian daripada penjelasan yang panjang dan kontekstual.

Perbedaan pandangan juga berpotensi berubah menjadi pertentangan ketika diperkuat oleh polarisasi kelompok dan penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.

Pandangan Sosiologi agama, persoalan ini bukan sekadar masalah teknologi. Ia menyangkut perubahan otoritas, pembentukan identitas, pola interaksi, serta cara masyarakat menghasilkan dan mempercayai pengetahuan keagamaan.

Karena itu, literasi digital perlu disertai literasi sosial dan keagamaan.

Masyarakat tidak hanya perlu mampu mengakses informasi, tetapi juga memahami konteks, memeriksa sumber, menghargai perbedaan, dan mempertimbangkan dampak sosial dari penyebaran pesan keagamaan.

Agama Membaca Melalui Realitas Masyarakat 

Pada konteks ini, relasi agama dan masyarakat memiliki kekhasan karena berinteraksi dengan tradisi lokal, hubungan kekerabatan, budaya komunitas, lembaga pendidikan, serta perubahan ekonomi dan politik.

Tradisi keagamaan masyarakat Sulawesi Selatan, misalnya, dapat dikaji dengan memperhatikan hubungan antara ajaran agama, adat, kehormatan, solidaritas, dan otoritas sosial.

Praktik tersebut tidak cukup dipahami sebagai warisan budaya semata, tetapi perlu dilihat sebagai ruang tempat masyarakat menafsirkan nilai, membangun identitas, dan merespons perubahan.

Dengan demikian, perilaku sosial keagamaan menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang lebih luas: bagaimana solidaritas dipertahankan, bagaimana konflik dikelola, bagaimana kepercayaan dibangun, dan bagaimana masyarakat menegosiasikan perubahan tanpa kehilangan sumber daya sosial dan budayanya.

Mengembalikan Agama pada Kehidupan Sosial

Relasi agama dan teori sosial mengingatkan kita bahwa agama tidak hanya hidup dalam teks dan doktrin, tetapi juga dalam tindakan manusia, institusi, relasi sosial, serta pengalaman sehari-hari masyarakat.

Durkheim membantu menjelaskan agama sebagai kekuatan solidaritas; Weber memperlihatkan pentingnya makna dalam tindakan sosial; sementara Bourdieu membuka ruang analisis mengenai otoritas, habitus, dan modal simbolik. Ketiganya memberikan perangkat konseptual untuk memahami bagaimana perilaku sosial keagamaan terbentuk dan berubah.

Tantangan kita bukan sekadar mempertanyakan seberapa jauh agama hadir dalam kehidupan masyarakat, melainkan bagaimana nilai-nilai agama berhubungan dengan keadilan, solidaritas, kepercayaan, dan tanggung jawab sosial.

Pada akhirnya, memahami agama secara sosiologis bukan berarti mengurangi makna spiritualnya.

Justru, pendekatan ini membantu kita melihat secara lebih mendalam bagaimana agama bekerja dalam kehidupan nyata, bagaimana ia membentuk manusia, dan bagaimana manusia melalui tindakan sosialnya turut memberi makna pada kehidupan beragama.

Agama menjadi penting bukan hanya sebagai keyakinan yang diucapkan, tetapi juga sebagai realitas sosial yang dapat dikaji melalui cara manusia hidup bersama, memperlakukan sesama, dan menghadapi perubahan zaman.

 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads