Lewati ke konten utama
Jumat, 31 Juli 2026 / 16 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah

Khutbah Jumat: Bulan Safar dan Momentum Menghargai Waktu

7 menit baca 453 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Khutbah Jumat: Bulan Safar dan Momentum Menghargai Waktu
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Oleh : Dr KH A Bahrul Hikam, M.Ed, Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang

Khutbah I

الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَشْهُرَ مَوَاقِيتَ لِلْعِبَادِ، وَأَبْطَلَ شُؤْمَ صَفَرَ وَغَيْرِهِ مِنَ الْأَوْهَامِ وَالْفَسَادِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا يُنِيرُ قُلُوبَ الزُّهَّادِ، وَيَهْدِي إِلَى سَبِيلِ الرَّشَادِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْقِذُنَا مِنْ ظُلُمَاتِ الْعِنَادِ، وَتَفْتَحُ لَنَا أَبْوَابَ السَّدَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدنا ونبينا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْأَمْجَادِ، وَقُدْوَةُ الْعُبَّادِ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَجْوَادِ، صَلَاةً تَبْقَى مَا بَقِيَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالْأَعْوَادُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَأَنْ نَعْمَلَ فِيْ  شَهْر صَفَرَ بِتَجْدِيْدِ الْإِيْمَانِ، لَا بِالتَّشَاؤُمِ وَالعُدْوَانِ، فَإِنَّمَا الشُّؤْمُ فِي الْمَعَاصِي لَا فِي الْأَزْمَانِ، فَأَيَّامُ اللّٰهِ كُلُّهَا سَوَاءٌ، إِنْ أَحْسَنَّا فَلَنَا الْحُسْنَى، وَإِنْ أَسَأْنَا فَالعَاقِبَةُ النَّدَامَةُ وَالخُسْرَانُ.

وَقَالَ تَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ)

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat rahmat-Nya, inayah-Nya, karunia-Nya, Allah kumpulkan kita bersama pada hari yang mulia ini, di tempat yang mulia ini untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat.

Mudah-mudahan shalat Jumat kita dan apa pun ibadah yang kita lakukan selama ini diterima oleh Allah. Dan semoga semua ibadah itu dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya. Amin

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Saat ini kita berada di pertengahan bulan Safar. Masih kita temukan di kalangan masyarakat yang memandang Safar sebagai bulan kesialan, bulan turunnya bala, dan bulan penuh malapetaka.

Akibat keyakinan ini, banyak di antara kita yang terbelenggu rasa takut: misalnya ada yang takut menikah di bulan Safar karena khawatir bercerai, takut bepergian jauh karena khawatir kecelakaan, takut membuka usaha karena khawatir bangkrut.

Pandangan seperti itu dalam agama disebut sebagai tathayyur, yaitu merasa sial karena waktu, tempat, atau tanda-tanda tertentu.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ

“Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada kesialan, tidak ada anggapan sial dengan burung hantu, tidak ada anggapan sial bulan Safar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa Safar adalah bulan biasa sebagaimana bulan-bulan lainnya. Sehingga tidak dibenarkan jika ada yang mempercayai adanya kesialan di dalam bulan Safar. Dan karena itu, sepatutnya seorang muslim mengisi bulan ini dengan berbagai amal kebaikan. Tidak perlu khawatir hal buruk menimpa kita, jika kita senantiasa bersandar kepada Allah SWT.

Jika kita membuka lembaran sejarah, kita akan menemukan bagaimana Nabi menganggap bulan Safar sama dengan bulan-bulan lainnya. Itulah mengapa kita ketahui dalam sejarah, bahwa pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah terjadi di bulan Safar. Selain itu, Nabi juga menggelar pernikahan putrinya, Sayyidah Fatimah, yang dinikahkan dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib di bulan Safar.

Tidak hanya soal pernikahan, Nabi SAW juga memulai perjalanan hijrahnya di bulan Safar. Begitu juga, beberapa peperangan terjadi di bulan Safar, seperti penaklukan Khaibar dan Perang Abwa.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat At-Taubah ayat 36—yang membicarakan tentang bilangan bulan dalam satu tahun, menjelaskan bahwa nama Safar terkait dengan aktivitas masyarakat Arab terdahulu. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penamaan ini diambil dari kata “shafara” yang berarti kosong.

صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ

 “Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian.”

Pada bulan Safar ini, perkampungan Arab dan kota Makkah biasa ditinggalkan penduduknya untuk  bepergian dan berperang. Masyarakat Arab keluar meninggalkan rumah mereka dalam keadaan kosong untuk melakukan perjalanan jauh, berdagang, atau berperang karena bulan-bulan sebelumnya (terutama Muharram) termasuk bulan suci yang melarang peperangan.

Kemudian, karena kota sepi dan banyak harta yang dijarah oleh kabilah yang berperang, masyarakat Jahiliyah menganggap bulan ini sebagai bulan kesialan atau petaka. Dari situasi semacam inilah timbul mitos bahwa Safar adalah bulan kesialan.

Padahal, sejatinya Islam tidak mengenal hari, bulan, atau tahun sial. Sebagaimana seluruh keberadaan di alam raya ini, waktu adalah makhluk Allah. Waktu tidak bisa berdiri sendiri. Ia berada dalam kekuasaan dan kendali penuh Rabb-nya.

Setiap umat Islam wajib berkeyakinan bahwa pengaruh baik maupun buruk tidak ada tanpa seizin Allah.   Begitu juga dengan bulan Safar. Ia adalah bagian dari dua belas bulan dalam satu tahun Hijriah. Safar hanyalah bulan kedua dalam kalender Qamariyah, yang terletak sesudah Muharram dan sebelum bulan Rabiul Awwal.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Allah SWT berfirman dalam surat Al-‘Ashr:

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Ibnu Katsir, ketika menafsiri surat ini mengutip perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, sebagai berikut:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسِعَتْهُمْ

Andai manusia mau merenungkan surah Al-‘Ashr ini, maka itu sudah mencukupi mereka.”

Mengapa sedemikian besar perhatian Imam Syafi’i terhadap surat ini? Tidak lain karena Allah menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya sedang mengalami kerugian. Dan kerugian itu bukan terutama karena kehilangan harta, tetapi karena kehilangan waktu yang tidak digunakan untuk iman, amal saleh, dakwah, dan kesabaran.

Surat Al-‘Ashr jelas menegaskan bahwa setiap waktu yang berlalu—termasuk di bulan Safar ini—adalah momentum yang tidak akan kembali. Jika kita tidak mengisinya dengan iman dan amal saleh, maka kita termasuk orang-orang yang rugi.

Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada manusia. Namun, waktu juga merupakan salah satu nikmat yang sering disia-siakan. Betapa berharganya waktu dan betapa besar kerugian yang dialami oleh mereka yang tidak memanfaatkannya dengan baik.

Waktu yang kita miliki adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ

Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang masa mudanya untuk apa digunakan.” (HR Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa umur dan waktu adalah hal yang akan dihisab di akhirat. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan setiap detik yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Mengapa waktu begitu penting?

Jawabannya sudah jelas, bahwa waktu tidak dapat dikembalikan. Waktu adalah sumber daya yang tidak bisa diulang atau dikembalikan. Ketika waktu berlalu, ia tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu, setiap momen harus dimanfaatkan dengan bijak.

Sahabat Nabi, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ. وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika kamu memasuki sore hari, maka jangan menunggu pagi hari. Jika kamu memasuki pagi hari, maka jangan menunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.”

Dalam sebuah hadis shahih riwayat Imam Al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan sebuah peringatan yang sangat menampar kesadaran kita. Beliau bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu (merugi) di dalamnya, yaitu: kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari)

Kata maghbun dalam hadis ini merujuk pada kerugian dalam sebuah transaksi perdagangan. Mengapa diibaratkan demikian? Karena sejatinya, setiap hari kita sedang “berdagang” dengan Allah. Dan modal utama kita dalam perdagangan ini bukanlah uang, bukanlah emas, melainkan waktu dan usia kita.

Sayangnya, betapa sering kita tertipu. Saat sehat dan punya waktu luang, kita merasa hidup masih sangat panjang. Kita menghabiskannya untuk hal-hal yang sia-sia, menunda-nunda ketaatan, dan asyik terbuai dengan dunia. Padahal, waktu adalah satu-satunya modal yang jika sudah berlalu, tidak akan pernah bisa ditarik kembali, walau ditebus dengan harta sepenuh bumi.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Di era modern ini, ujian menyia-nyiakan waktu menjadi sangat luar biasa. Kemajuan teknologi sering kali melenakan kita. Berapa banyak waktu yang kita buang sekadar untuk berselancar di media sosial, melihat kehidupan orang lain yang tidak ada manfaatnya bagi akhirat kita?

Berapa banyak waktu luang di malam hari yang dihabiskan untuk nongkrong, berdebat kusir, atau membicarakan aib orang lain, sementara mushaf Alquran di rumah kita berdebu karena tak pernah disentuh?

Kita sering beralasan “tidak ada waktu” untuk shalat berjamaah ke masjid, tidak ada waktu untuk ikut majelis ta’lim, tidak ada waktu untuk membaca satu lembar Alquran sehari. Padahal bukan waktunya yang tidak ada, melainkan hati kita yang terlalu sibuk mencintai dunia sehingga ketaatan kepada Allah tidak lagi menjadi prioritas.

Para sahabat pernah mendapati Nabi Muhammad SAW tidur di atas tikar, kemudian beliau bangun dan tikar itu membekas di rusuk Beliau. Lalu mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membuat kasur yang lembut?” Menanggapi tawaran tersebut, lantas beliau bersabda:

مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Apa urusanku dengan dunia. Aku di dunia ini tidak lain seperti seorang penunggang kendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, lalu pergi meningalkannya.” (HR Tirmidzi)

Lihatlah, Nabi mengibaratkan hidup di dunia sekedar sebagai orang yang melintas di jalan, berhenti sejenak untuk istirahat, lalu melanjutkan perjalanan. Maka, mestinya seorang musafir tahu dia tidak akan tinggal lama, dia hanya membawa bekal secukupnya dan fokusnya adalah tujuan akhir, bukan tempat singgah.

Semoga Allah SWT mengaruniakan taufik-Nya kepada kita semua. Menjadikan kita hamba-hamba yang cerdas mengelola waktu, mengisi sisa umur dengan ketaatan, dan kelak diakhiri dengan husnul khatimah. Amin.

وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَآ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَآ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.