Lewati ke konten utama
Kamis, 1 Oktober 2026 / 19 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Sekjen KPRK
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia, Buya Amirsyah Tambunan dalam Seminar Penguatan Institusi Pendidikan yang Ramah Anak di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Jakarta, Rabu (30/9/2026). Foto: Irma/ MUI Digital
Berita

Sekjen MUI Ingatkan Orang Tua, Jangan Biarkan Anak Tumbuh tanpa Kasih Sayang

Sekjen MUI Ingatkan Orang Tua, Jangan Biarkan Anak Tumbuh tanpa Kasih Sayang

/ 19 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 166 dibaca

Jakarta, MUI Digital - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia, Buya Amirsyah Tambunan, menekankan pentingnya kasih sayang dalam membangun keluarga dan melindungi anak dari berbagai persoalan yang dihadapi di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Buya Amirsyah saat membuka Seminar Penguatan Institusi Pendidikan yang Ramah Anak di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Menurutnya, kasih sayang merupakan kebutuhan mendasar bagi anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.

Kasih sayang dari orang tua, kata dia, menjadi modal utama bagi anak maupun keluarga dalam menghadapi berbagai ujian dan persoalan sosial.

“Kasih sayang adalah modal utama agar kita menghadapi berbagai ujian, percobaan, dan penyakit dalam masyarakat,” ujar Buya Amirsyah.

Dia kemudian menyinggung kondisi keluarga di Indonesia yang terus menghadapi berbagai tantangan. Berdasarkan data Long Form Sensus Penduduk yang disampaikannya, jumlah rumah tangga di Indonesia berada di kisaran 79,5 juta. 

Sebagian rumah tangga juga dikepalai perempuan, baik karena menjadi orang tua tunggal, kehilangan pasangan, maupun karena kondisi tertentu yang membuat perempuan menjadi pencari nafkah utama.

Buya Amirsyah juga menyebut sekitar 14,3 persen perempuan di Indonesia berstatus sebagai pencari nafkah utama keluarga.

Dalam kondisi tersebut, perempuan tidak hanya memiliki tanggung jawab ekonomi, tetapi juga tetap menjalankan peran pengasuhan terhadap anak.

“Bagaimana seorang ibu yang menjadi kepala rumah tangga dan pencari nafkah utama tetap dapat memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup kepada anak?” katanya.

Menurut Buya Amirsyah, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengasuhan anak tidak dapat dilepaskan dari berbagai persoalan lain yang berkembang di masyarakat.

Ketika kebutuhan kasih sayang tidak terpenuhi, persoalan dalam keluarga dapat berkembang menjadi luka dan trauma pada anak.

Dia menyinggung adanya kasus kekerasan yang meninggalkan trauma, baik berupa luka fisik maupun luka batin. Menurutnya, berbagai persoalan tersebut merupakan akumulasi dari banyak hal, mulai dari persoalan teknologi, kurangnya kasih sayang, hingga dinamika sosial yang terjadi di masyarakat.

Karena itu, Buya Amirsyah mengajak para orang tua untuk kembali menempatkan kasih sayang sebagai bagian penting dalam pengasuhan anak.

Dia  mengingatkan pesan Rasulullah SAW, “Man la yarham la yurham”, yang bermakna bahwa siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.

“Kalau kita ingin melakukan sesuatu tetapi kehilangan kasih sayang, yang terjadi kemudian adalah kekerasan, kekerasan yang terus-menerus,” tuturnya.

Buya Amirsyah juga menyoroti fenomena broken home dan persoalan sosial yang dapat muncul ketika anak kehilangan figur orang tua atau tidak mendapatkan rasa aman di dalam keluarga.

Menurutnya, anak membutuhkan kehadiran orang tua bukan hanya secara fisik, tetapi juga melalui perhatian, perlindungan, dan kasih sayang.

Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, anak dapat mengalami luka batin yang berpengaruh terhadap perilakunya di kemudian hari.

Dia mengingatkan agar para orang tua tidak mengulangi pola pengasuhan yang berpotensi mewariskan luka kepada anak.

“Boleh jadi seseorang berhasil secara ekonomi, tetapi menyimpan luka batin, mudah marah, sulit mencintai, atau justru mengulang pola yang sama kepada anak,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, perlu menjadi perhatian karena dapat membentuk apa yang dikenal sebagai warisan trauma lintas generasi.

Padahal, kata Buya Amirsyah, Islam tidak mengajarkan pola pengasuhan yang dibangun atas kekerasan dan ketakutan. Sebaliknya, Islam mengajarkan rahmat, kelembutan, serta pendekatan yang dilandasi keikhlasan.

“Islam mengajarkan rahmat, yaitu kelembutan dan pendekatan yang penuh ikhlas,” katanya.

Dia juga mengajak para orang tua untuk melakukan evaluasi terhadap pola pengasuhan di dalam keluarga. Menurutnya, keberhasilan anak tidak semata-mata dapat diukur dari pencapaian akademik maupun ekonomi.

Sebab, terdapat anak yang secara pendidikan dan ekonomi terlihat berhasil, tetapi belum tentu tumbuh dengan kondisi batin yang sehat. Sebaliknya, ada pula keluarga dengan jumlah anak yang lebih sedikit, tetapi tetap menghadapi persoalan pengasuhan yang tidak sederhana.

“Ini tentu menjadi bahan evaluasi di tengah-tengah keluarga kita sekarang,” ujarnya.     

BAGIKAN: