Lewati ke konten utama
Selasa, 21 Juli 2026 / 6 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII 2026, MUI Libatkan 87 Organisasi Islam

3 menit baca 196 dibaca
8719afa4-cc6c-4f36-9fc0-c1b0971e7605
Bagikan:

JAKARTA, MUI Digital — Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan membuka Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII pada 24 Juli 2026. 

Forum lima tahunan yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu akan menjadi wadah konsolidasi sekitar 87 organisasi Islam dari seluruh Indonesia sekaligus ruang dialog mengenai berbagai isu strategis kebangsaan.

Mengusung tema "Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat", Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII akan diselenggarakan di Hotel Bidakara, Jakarta, pada 24 hingga 26 Juli 2026.

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI, KH Marsudi Syuhud, mengatakan pembukaan KUII VIII akan dilakukan langsung oleh Presiden pada hari pertama pelaksanaan kongres.

"Acara ini akan dibuka oleh Presiden, yaitu pada tanggal 24 Juli kira-kira jam 16.00. Setelah itu dilanjutkan dengan sidang pleno-pleno," ujarnya dalam Konferensi Pers Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Kantor Pusat MUI, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).

Kiai Marsudi menjelaskan, KUII merupakan amanat organisasi yang diselenggarakan sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun. 

Tahun ini, kongres akan berlangsung pada 24–26 Juli 2026 dengan diikuti sekitar 87 organisasi Islam dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Kiai Marsudi, MUI menjadi rumah besar yang menghimpun berbagai organisasi Islam sehingga memiliki tanggung jawab memfasilitasi forum tersebut.

"Kongres Umat Islam Indonesia ini akan diikuti oleh organisasi-organisasi Islam yang jumlahnya kurang lebih 87 organisasi. Kenapa dilakukan oleh MUI? Karena organisasi-organisasi Islam itu berada dalam satu umbrella, satu rumah besar, yaitu Majelis Ulama Indonesia," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Steering Committee (SC) KUII VIII 2026 itu menegaskan bahwa kongres bukan sekadar forum seremonial, melainkan ruang musyawarah untuk menyampaikan gagasan, pandangan, serta masukan kepada pemerintah dalam rangka membangun bangsa.

"Membangun bangsa adalah sebuah keharusan. Maka kritik itu biasa jika nanti di dalam kongres ini ada masukan-masukan terhadap pemerintah," ujarnya.

Kiai Marsudi menjelaskan, berbagai pembahasan dalam kongres diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat memperkuat kemaslahatan bangsa melalui penguatan demokrasi, pembangunan nasional, ketahanan pangan, energi, ekonomi, pendidikan, penegakan hukum, hingga kehidupan sosial kemasyarakatan.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti rangkaian sidang pleno yang menghadirkan para menteri, pimpinan lembaga negara, aparat penegak hukum, akademisi, serta pemangku kepentingan sesuai bidang pembahasan.

Berbagai isu yang akan dibahas meliputi penguatan demokrasi, kebijakan pembangunan nasional, politik dan keamanan, kekuasaan kehakiman, ketahanan pangan, pertahanan nasional, ekonomi, energi, akhlak bangsa, hingga dinamika geopolitik global.

Selain dihadiri tokoh-tokoh organisasi Islam, MUI juga mengundang perwakilan non-Muslim pada acara pembukaan, serta unsur pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkaya perspektif dalam pembahasan isu-isu kebangsaan.

Kiai Marsudi berharap KUII VIII menghasilkan rekomendasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional sekaligus memperkuat peran umat Islam dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan.

"Tujuannya adalah untuk kemaslahatan bangsa dan anak bangsanya," sambungnya.