Lewati ke konten utama
Jumat, 28 Agustus 2026 / 15 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Menyongsong Abad Kedua NU, Nahdliyin Kebumen Harapkan Kepemimpinan Melangit dan Membumi

3 menit baca 300 dibaca
Lautan manusia muktamar
Lautan manusia di arena Muktamar ke-35 NU, Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang. Foto: Sadam/ MUI Digital
Bagikan:

Jombang, MUI Digital—Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi momentum penting dalam menyongsong abad kedua perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menyedot perhatian jutaan warga Nahdliyin. 

Tak sekadar hadir untuk memeriahkan syiar Muktamar dan berziarah ke makam para tokoh pendiri, para jamaah yang hadir dari berbagai penjuru daerah membawa estafet harapan besar bagi masa depan kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Harapan mendalam tersebut salah satunya disampaikan oleh Sri Rahayu Retnowati, pengurus Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PCNU Kebumen, Jawa Tengah. 

Saat ditemui di kawasan makam salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri, di Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Jumat (27/8/2026), perempuan yang akrab disapa Yayu ini menegaskan pentingnya arah kepemimpinan PBNU ke depan yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar keumatan.

Menurut Yayu, menyongsong abad kedua NU, warga Nahdliyin di tingkat akar rumput merindukan sosok pimpinan yang tidak hanya berwawasan luas dan berkelas dunia, tetapi juga tetap rendah hati serta dekat dengan realitas kehidupan masyarakat bawah.

"Yang jelas kita ingin mendapatkan sosok pimpinan yang selain agamanya kuat, juga bisa 'melangit dan membumi'. Bisa ke atas dan ke bawah," ujar Yayu dengan penuh harap saat diwawancarai MUI Digital.

Baca juga: Waketum MUI Kiai Marsudi Dorong Pengesahan UU Perampasan Aset, Ingatkan Pesan Prabowo di Muktamar NU

Ungkapan "melangit dan membumi" tersebut dijelaskan Yayu sebagai figur pemimpin yang memiliki keluhuran spiritual, kedalaman ilmu agama, serta visi strategis yang mumpuni di tingkat nasional maupun global. Namun di sisi lain, kepemimpinan tersebut tidak boleh membuat para pimpinan berjarak dengan jamaah di tingkat bawah.

Dia menegaskan, jadi ketika mereka bergaul atau bersama-sama dengan masyarakat, mereka juga bisa seperti masyarakat biasa. Tapi ketika ditempatkan sebagai sosok pimpinan, dia bisa berstrategi bagaimana umat atau masyarakat yang ada di bawahnya itu sejahtera dengan kepemimpinannya, tanpa meninggalkan keimanan dan ketakwaannya sebagai seorang Nahdhiyyin. 

Perempuan yang juga berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Kebumen ini rela mengambil hak cuti kerjanya demi bisa hadir langsung di Jombang.

Baca juga: Gus Irfan Ingatkan Keputusan Muktamar Pertama Abad Kedua NU tak Boleh Main-Main

Dia menempuh perjalanan darat menggunakan rombongan bus bersama 51 warga Nahdliyin Kebumen lainnya sejak Rabu malam.

Sebelum menghadiri arena Muktamar, Yayu dan rombongan menyempatkan diri berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Tebuireng dan KH Bisri Syansuri di Denanyar.

Perjalanan spiritual dengan prinsip "ngiras-ngirus" yakni menghadiri Muktamar sekaligus silaturahmi dan ziarah ini semakin menguatkan optimismenya melihat antusiasme jamaah di sepanjang jalan.

Dia mengamati betapa besarnya kecintaan warga terhadap NU. Fenomena berbondong-bondongnya warga Nahdliyin yang memadati rest area hingga jalanan menuju arena Muktamar menjadi bukti nyata bahwa semangat berorganisasi di kalangan kaum NU terus membara.

Oleh karena itu, Yayu berharap jajaran kepengurusan PBNU yang terpilih nantinya mampu membawa tata kelola organisasi menjadi jauh lebih terarah, profesional, serta fokus pada peningkatan kesejahteraan umat secara nyata di abad kedua NU ini.