Lewati ke konten utama
Rabu, 19 Agustus 2026 / 6 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Luncurkan Buku Sejarah Peradaban Islam, Sekjen MUI Ingin Sejarah Islam Tak Cuma Jadi Pajangan

4 menit baca 91 dibaca
Bedah buku
Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan Peluncuran dan Bedah Buku “Sejarah Peradaban Islam” di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Rabu (19/8/2026). Foto: Junaidi/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, meluncurkan karya terbaru Buku dengan judul “Sejarah Peradaban Islam” pada Rabu (19/8/2026).

Buya Amirsyah menjelaskan, gagasan menulis buku tersebut berangkat dari sebuah prinsip yang sangat mendasar dalam tradisi keilmuan Islam, yakni kedudukan adab yang harus menyertai ilmu.

Ilmu yang tinggi, kata dia, tidak akan memberikan manfaat apabila tidak disertai adab bahkan, ilmu yang tidak dibingkai adab berpotensi membawa kerusakan.

Selain itu, Buya Amirsyah juga mengatakan penulisan buku Sejarah Peradaban Islam juga didorong oleh keinginannya agar sejarah Islam tidak dipahami secara parsial.

Menurutnya, sejarah merupakan rangkaian peristiwa yang saling berkaitan dan memiliki benang merah. Karena itu, memahami satu periode tanpa melihat hubungan dengan periode lainnya dapat membuat pembaca kehilangan konteks penting dari perkembangan peradaban Islam.

“Tidak bisa kita pahami hanya sepotong-sepotong. Mengapa? Karena sejarah itu rangkaian, ya rangkaian yang tidak bisa kita putus antara satu dengan lain. Jadi rangkaian itu nanti ada benang merahnya,” ujarnya pada Peluncuran dan Bedah Buku “Sejarah Peradaban Islam” di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Baca juga: Waketum MUI Refleksikan HUT ke-81 RI, Ajak Umat Syukuri Kemerdekaan dan Dukung Cita-Cita Kebangsaan

Dalam sambutannya, Buya Amirsyah menyampaikan, sejarah peradaban Islam tidak boleh berhenti sebagai hafalan atau sekadar pajangan masa lalu. 

Sejarah harus dibaca sebagai sumber ibrah untuk memahami kondisi masa kini sekaligus menyiapkan masa depan.

“Rasulullah memberi contoh teladan yang baik bagi kita semua. Lalu, dengan contoh teladan yang baik ini, apakah hanya kita buat kenangan di atas kertas? Kan itu pertanyaannya. Apakah hanya kita anggap ini sebagai pajangan sejarah? Kan tentu tidak,” lanjutnya.

Dalam paparannya, Buya Amirsyah mengajak peserta melihat kembali kondisi Jazirah Arab sebelum Islam dan masyarakat jahiliah.

Menurutnya, berbagai kondisi tersebut tidak semestinya hanya dipelajari sebagai fakta sejarah, tetapi harus diambil ibrah yang relevan bagi kehidupan saat ini.

Baca juga: HUT ke-81 RI, MUI Ajak Masyarakat Jaga Moral Bangsa

“Apakah ini sebenarnya pajangan sejarah? Atau ada ibrah yang harus kita ambil? Itu sebenarnya intinya,” tanyanya.

Dia kemudian mengaitkan perkembangan masyarakat Islam dengan keberhasilan Rasulullah SAW membangun peradaban di Madinah. 

Menurutnya, pembangunan peradaban tersebut tidak dapat dilepaskan dari proses penguatan iman dan penanaman adab yang dilakukan Rasulullah SAW.

Pembentukan masyarakat Madinah, lanjutnya, menjadi salah satu contoh penting bagaimana nilai keimanan, adab, persatuan dan tata kehidupan bersama dapat menjadi fondasi sebuah peradaban.

Karena itu, Piagam Madinah menurutnya tidak seharusnya hanya dikenang sebagai dokumen sejarah, tetapi perlu menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan kebangsaan.

“Apakah hanya kita buat kenangan di atas kertas? Apakah hanya kita anggap ini sebagai pajangan sejarah? Kan tentu tidak,” tuturnya.

Baca juga: Momentum HUT ke-81 RI, Ketum MUI KH Anwar Iskandar Ajak Masyarakat Rawat Persatuan NKRI

Buya Amirsyah kemudian menghubungkan pengalaman sejarah Madinah dengan kondisi Indonesia saat ini. Menurutnya, Indonesia memiliki modal sosial dan kebangsaan yang besar untuk membangun kehidupan masyarakat yang beradab.

Namun, dia mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan cukup apabila tidak dibarengi dengan adab.

“Nah karena itu Indonesia sebagai miniatur negara Madinah seperti yang dicita-citakan oleh Rasulullah, maka kita harus bangun adab di Indonesia. Lihat Bapak-Ibu sekarang betapa peradaban bangsa kita sungguh memprihatinkan. Mengapa saya katakan prihatin? Ya karena jauh dari adab,” ungkapnya.

Pada bagian akhir paparannya, Buya Amirsyah menegaskan kembali bahwa tujuan mempelajari sejarah bukan sekadar mengetahui masa lalu, melainkan menjadikannya sebagai bahan refleksi dan introspeksi untuk kehidupan sekarang.

Kemudian dia merangkum setidaknya tiga pesan penting dari pembacaan sejarah peradaban Islam.

Pertama, sejarah harus dipahami bukan sekadar sebagai hafalan, melainkan sebagai sumber ibrah untuk membaca masa kini dan menyiapkan masa depan.

Kedua, peradaban tumbuh melalui sejumlah fondasi, yaitu iman, ilmu, persatuan, kepemimpinan, keterbukaan intelektual, serta kemampuan beradaptasi.

Ketiga, tantangan kontemporer seperti globalisasi, digitalisasi, radikalisme, Islamofobia, hingga perkembangan artificial intelligence (AI) membutuhkan respons yang berilmu, etis, moderat, dan konstruktif.