Lewati ke konten utama
Senin, 6 Juli 2026 / 20 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Kiai Said: Ceramah Agama Menjamur, Tetapi Belum Berdampak pada Perbaikan Akhlak

2 menit baca 171 dibaca
Said aqil
Mustasyar PBNU, KH Said Aqil Siroj. Foto: Miftahul Jannah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof KH  Said Aqil Siroj, menyatakan berbagai persoalan moral di Indonesia, seperti korupsi dan kezaliman, masih marak terjadi karena keimanan banyak umat Islam belum benar-benar tertanam dalam hati.

Hal itu disampaikannya dalam tausiah pada acara Cahaya Hati Cahaya Indonesia bertema "Merawat Iman, Menjaga Umat, Membangun Bangsa" yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (4/7/2026) malam lalu.

Menurut Kiai Said, syiar Islam di Indonesia berkembang sangat pesat. Pengajian dan ceramah agama mudah ditemukan di berbagai tempat. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya berdampak pada perbaikan akhlak masyarakat.

"Mengapa di Indonesia syiar Islam semakin banyak, tetapi kemungkaran seperti korupsi dan kezaliman masih terus terjadi? Karena iman kita kebanyakan masih sebatas di lisan, belum benar-benar masuk ke dalam hati," ujarnya.

Diaa menjelaskan bahwa keimanan tidak cukup hanya diucapkan melalui dua kalimat syahadat atau dipahami secara intelektual melalui ilmu kalam dan teologi. 

Baca juga: Ketum MUI: LGBT dan Korupsi Itu Pelanggaran HAM Berat, Jangan Diputarbalikkan!

Menurutnya, iman sejati adalah keyakinan yang bersemayam di dalam hati sehingga mampu membimbing perilaku seseorang.

Kiai Said kemudian menguraikan tiga unsur penting dalam hati manusia. Pertama adalah bashirah (penglihatan batin), yaitu kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah. 

Kedua adalah dhamir (hati nurani atau moral), yang mendorong seseorang melakukan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. 

Ketiga adalah fuad, yaitu bagian hati yang menjadi hakim bagi diri sendiri untuk menilai setiap perbuatan.

"Fuad tidak pernah berbohong. Mulut bisa berdusta, tetapi hati akan selalu mengetahui apakah seseorang benar atau salah," katanya.

Baca juga: Menteri Agama Soal Desakan MUI Pidanakan LGBT: Saya Mau Baca Dulu Aturannya

Dia menambahkan, suara hati akan terus mengingatkan manusia ketika melakukan kesalahan. Namun, apabila kesalahan terus diulang tanpa disertai tobat, suara hati itu akan semakin lemah hingga akhirnya sulit lagi dirasakan.

Menurutnya, banyak orang baru tersadar ketika menghadapi musibah, sakit keras, atau berada dalam kondisi yang mengancam nyawa. 

Baca juga: Sekjen MUI: Hukuman Mati Koruptor Sepadan dengan Kerusakan yang Dialami Rakyat

Saat itu mereka berjanji akan bertobat, tetapi setelah keadaan membaik sering kali kembali mengulangi perbuatan yang sama.

Karena itu, Kiai Aqil mengajak umat Islam untuk menjadikan agama sebagai ukuran moral dalam setiap keadaan, bukan hanya ketika berada di lingkungan tertentu atau demi kepentingan duniawi.

"Keimanan yang hakiki akan melahirkan akhlak yang baik di mana pun kita berada. Agama harus menjadi pedoman hidup, bukan sekadar simbol atau slogan," kata dia.