Ketua MUI Siti Ma’rifah Ingatkan Perdamaian Global Mustahil Tercapai jika Perempuan Hanya Jadi Penonton
Ketua MUI Siti Ma’rifah Ingatkan Perdamaian Global Mustahil Tercapai jika Perempuan Hanya Jadi Penonton
Jakarta, MUI Digital — Ketua MUI Bidang PRK Dr Siti Ma’rifah mengingatkan dunia internasional bahwa upaya mewujudkan perdamaian dunia yang hakiki tidak akan pernah berhasil selama perempuan diabaikan dan hanya dijadikan penonton dalam proses diplomasi maupun negosiasi konflik.
Hal tersebut disampaikan dalam Forum Perempuan yang bertema “Dari Ibu Indonesia untuk Ibu Palestina: Lukamu Berdenyut di Jantung Kami” di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
“Perdamaian global tidak akan tercapai jika perempuan hanya menjadi penonton. Kita harus mengambil peran aktif dalam mendidik generasi yang damai, menggerakkan solidaritas kemanusiaan, dan terlibat langsung dalam pengambilan keputusan perdamaian yang berkelanjutan,” tegas Siti Ma’rifah.
Siti Ma’rifah menyoroti fakta bahwa dalam berbagai konflik bersenjata global, perempuan kerap menjadi kelompok yang paling terdampak dan menjadi korban kekerasan, namun keterlibatannya dalam meja perundingan masih sangat minim.
Mengutip data resolusi PBB dan UN Women, Puteri Wakil Presiden ke-13 RI ini mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan dalam perjanjian damai baru mencapai sekitar 35 persen, dan bahkan angka keterlibatan perempuan sebagai negosiator perdamaian dunia resmi masih berada di angka yang sangat rendah, yakni sekitar 13 persen.
“Tantangan besarnya adalah perempuan masih diposisikan sebagai korban, belum sebagai pengambil keputusan. Sering kali sifat empati perempuan dianggap emosional, padahal justru kekuatan empati itulah yang melahirkan pendekatan dialogis, netral, dan menghasilkan solusi yang adil (win-win solution),” ujarnya.
Oleh karena itu, Siti Ma’rifah mendorong perlunya strategi penguatan dari tingkat lokal hingga global, termasuk dorongan kebijakan kuota minimal 30% keterlibatan perempuan dalam setiap proses negosiasi perdamaian dunia.
Dalam konteks krisis kemanusiaan di Palestina, Siti Ma’rifah menyerukan agar ibu-ibu di Indonesia tidak tinggal diam melihat penderitaan perempuan dan anak-anak di Gaza.
Berdasarkan data terbaru, tercatat ada puluhan ribu anak di Gaza yang kehilangan orang tua, di mana Provinsi Gaza menjadi wilayah dengan jumlah anak yatim tertinggi yang hidup dalam krisis ekonomi mendalam.
“Ibu-ibu Indonesia bukan hanya ibu bagi anak-anak di rumah kita sendiri, tetapi juga menjadi ibu bagi anak-anak di Palestina dan seluruh dunia yang memerlukan uluran tangan kita,” tuturnya.
Siti Ma’rifah menegaskan bahwa kepedulian bangsa Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina bukan sekadar aksi spontanitas, melainkan berakar kuat pada landasan syariat (maqashid syariah) untuk menjaga jiwa dan kehormatan manusia, serta amanat Konstitusi UUD 1945 yang menentang segala bentuk penjajahan.
Selain itu, ia juga mengajak seluruh organisasi masyarakat (ormas) perempuan, lembaga amil zakat, dan aktivis kemanusiaan untuk mengonsolidasikan kepedulian menjadi gerakan lintas negara yang terstruktur dan tidak sporadis.
“Kebenaran yang tidak teratur akan dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Mari kita satukan gerak dan langkah secara terencana demi membela keadilan dan kemerdekaan Palestina,” tegasnya.
Forum Perempuan ini diselenggarakan oleh Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI bekerja sama dengan Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI.
Hadir dalam acara tersebut, antara lain Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim, dan Ketua IsDF MUI Trisna Ningsih Yuliati.