‘Jagalah Alquran’ Pesan Luhur Wisuda Tahfizh Nasional 2026 Daarul Qur'an
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Tangerang, MUI Digital— Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an kembali menggelar agenda tahunan bergengsi, Wisuda Tahfiz Nasional 2026.
Sebanyak 482 santri dari berbagai penjuru Tanah Air berkumpul untuk merayakan pencapaian hafalan Alquran mereka, mulai dari kategori 3 juz, 5 juz, 10 juz, 15 juz, hingga pencapaian tertinggi 30 juz dan kelas sanad.
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, KH Ahmad Jamil, menyatakan wisuda ini bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan sebuah bentuk apresiasi besar untuk memacu semangat para santri agar terus membersamai Alquran sepanjang hayat.
"Wisuda ini adalah apresiasi buat anak-anak sehingga mereka terpacu. Yang masih (hafal) 3 juz bisa terus lanjut, yang 5 juz terus lanjut, sampai kemudian mereka mencapai target 30 juz," ujar Kiai Jamil di Pondok Pesantren Tahfiz Daarul Qur’an, Kota Tangerang, Sabtu (6/6/2026).
Kiai Jamil menyampaikan pesan mengenai tanggung jawab besar seorang penghafal Alquran. Pengurus Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) MUI ini mengutip wasiat luhur dari sahabat Rasulullah SAW, Abdullah bin Mas'ud RA, mengenai tabiat hafalan Alquran yang sangat dinamis.
"Jagalah Alquran ini. Demi Allah yang jiwa Nabi Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya hafalan Alquran itu lebih cepat larinya (hilang) daripada unta yang tali kekangnya terlepas.”
Baca juga: Kritik Mentalitas Tangan di Bawah, Kiai Said: Alquran Sebut Harta Itu Kebaikan
“Artinya, hafalan ini harus terus dijaga dengan sering-sering muraja'ah (mengulang hafalan)," kata Kiai Jamil menjelaskan maksud pernyataan Abdullah bin Mas’ud itu.
Lebih lanjut, Kiai Jamil juga menukilkan pesan dari Khalifah Utsman bin Affan RA terkait korelasi antara intensitas membaca Alquran dan kesucian hati.
Menurut Kiai Jamil, jika seorang santri mulai merasa berat atau jarang melakukan muraja'ah, hal pertama yang harus dievaluasi bukanlah kesibukan atau rasa lelah, melainkan kondisi hatinya sendiri.
Dia mengutip pernyataan Utsman, “Kalau hati kamu bersih, kamu tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca Alquran.”
Baca juga: Alquran Langka Peninggalan Ottoman Bertintakan Emas Ini Curi Perhatian
“Jadi, ketika kita agak renggang dengan Alquran, jangan salahin waktu, jangan salahin kondisi, jangan salahin capek. Koreksi diri, jangan-jangan hati kita yang kurang bersih," tutur Kiai Jamil.
Kiai Jamil mengingatkan bahwa para penghafal Alquran adalah the chosen one orang-orang pilihan yang diamanahi Allah SWT untuk mewarisi kitab suci.
Oleh karena itu, menjaga konsistensi ibadah dan menjauhi maksiat menjadi kunci mutlak agar tidak masuk ke dalam golongan orang yang menzalimi diri sendiri setelah dititipi hafalan.
Wisuda Tahfizh Nasional 2026 ini juga menunjukkan komitmen Daarul Qur'an dalam menjaga kualitas mutu hafalan.
Baca juga: Sejarah Baru, Raja Salman Resmi Beri Ruang Perempuan di Kompetisi Alquran Internasional
Kiai Jamil menjelaskan bahwa proses kelulusan, terutama untuk kategori 30 juz dari jalur non-pesantren (Rumah Tahfizh), menerapkan standar kualifikasi mutqin (hafal di luar kepala) yang sangat ketat.
"Untuk yang 30 juz dari luar pesantren, mereka harus mutqin. Batas maksimum salahnya hanya tiga kali, baik itu berupa salah harakat maupun perubahan kata," jelasnya.
Tidak hanya itu, bagi santri yang telah mengkhatamkan 30 juz, Daarul Qur'an membuka pintu menuju pencapaian tertinggi, yaitu Kelas Sanad. Kiai Jamil meluruskan anggapan bahwa semua penghafal 30 juz bisa otomatis mendapatkan sanad.
Ada tiga proses penyaringan khusus yang melibatkan para syekh secara langsung, yakni ujian kelayakan, sistem halaqah, dan kapasitas memori.
Kemeriahan wisuda tahun ini terasa sangat inklusif karena diikuti oleh santri dari berbagai klaster pendidikan di bawah naungan Daqu.
Peserta berasal dari Daqu Tangerang (Putra dan Putri), serta cabang-cabang daerah seperti Jambi, Kampung, Bandung, Semarang, Banyuwangi, hingga Cariu (Bogor).
Acara ini juga meluluskan para santri yang tergabung dalam Asosiasi Rumah Tahfizh Indonesia (RTI) dan Rumah Tahfizh Center (RTC), hingga tingkat perguruan tinggi.
Menariknya, wisuda tahun 2026 ini mencatatkan sejarah baru dengan kelulusan perdana santri dari program Qur'an Call, layanan belajar dan setoran hafalan Alquran jarak jauh melalui media telepon yang diperuntukkan bagi masyarakat umum (santri luar).
"Hari ini pertama kali 'pecah telur' untuk Qur'an Call. Walaupun mereka santri luar dan belajar lewat telepon, mereka tetap dianggap sebagai Santri Daqu karena mengikuti sistem dan program yang kami miliki," kata Kiai Jamil.