Lewati ke konten utama
Selasa, 21 Juli 2026 / 6 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Di Maestro Summit, Sekjen MUI Serukan Seniman dan Budayawan Gelorakan Budaya Bersih Bebas Korupsi

3 menit baca 644 dibaca
Sekjen Maestro
Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan dalam Maestro Summit: Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia ke-2, yang digelar di Pesantren Modern Daar El-Qolam, Gintung, Banten, Sabtu (18/7/2026). Foto: Istimewa
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital—Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, menyerukan para seniman dan budayawan Muslim untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun peradaban bangsa melalui seni dan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Seruan tersebut disampaikan Buya Amirsyah saat memberikan sambutan dalam Maestro Summit: Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia ke-2, yang digelar di Pesantren Modern Daar El-Qolam, Gintung, Banten, Sabtu (18/7/2026).

Menurutnya, pertemuan para seniman dan budayawan tidak boleh berhenti sebatas forum dan diskusi. Gagasan yang lahir dari Maestro Summit harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata dengan hadir langsung di tengah masyarakat.

“Acara ini tidak cukup sampai di sini. Teman-teman seniman dan budayawan, turunlah ke pesantren, masjid, dan sekolah untuk menyuarakan betapa pentingnya kebudayaan yang bersih dari korupsi di Tanah Air,” serunya

Buya Amirsyah menilai, seniman dan budayawan memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter dan arah peradaban suatu bangsa.

Baca juga: Maestro Summit 2026 Pertemukan Ulama, Seniman, dan Budayawan untuk Perkuat Dakwah Kebudayaan

Karena itu, kata dia, mereka tidak semestinya hanya menghasilkan karya, tetapi juga perlu hadir membawa nilai dan memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Maestro adalah kata kunci bagi seorang ahli. Berasal dari bahasa Italia yang artinya ‘guru’,” ujarnya.

Namun, Buya Amirsyah menilai, hampir dua dekade terakhir, istilah maestro seolah semakin senyap dari perhatian publik.


Padahal, Indonesia memiliki banyak seniman dan budayawan dengan kemampuan besar yang seharusnya dapat mengambil peran lebih kuat dalam mengangkat peradaban bangsa.

Menurutnya, sebagian seniman dan budayawan juga terseret terlalu jauh dalam kepentingan politik sehingga peran kebudayaan untuk membangun peradaban belum sepenuhnya muncul ke permukaan.

Di tengah berbagai persoalan budaya yang dihadapi bangsa, Buya Amirsyah pun menyerukan agar para maestro kembali tampil dan menunjukkan perannya.

“Mungkin sudah terlalu lama maestro-maestro tenggelam. Bangkitlah, perlihatkan bahwa Anda mau menyelamatkan bangsa,” serunya.

Dia menegaskan, seni dan kebudayaan seharusnya menjadi kekuatan untuk menanamkan nilai-nilai luhur sekaligus memperkokoh karakter bangsa.

Dalam konteks itu, nilai Islam rahmatan lil ‘alamin perlu menjadi karakter kebudayaan yang mampu menjaga pilar-pilar kehidupan berbangsa.

“Sekali lagi, wahai para seniman dan budayawan, lihatlah negeri ini dan selamatkan bangsa ini. Islam rahmatan lil ‘alamin kita jadikan karakter budaya yang mampu menjaga pilar-pilar bangsa,” katanya.  

Maestro Summit (Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia ke-2)dirangkaikan dengan Pra-Kongres Umat Islam Indonesia VIII serta Rapat Koordinasi Nasional LSBPI-MUI.

Kegiatan yang berlangsung pada 18–19 Juli 2026 ini diselenggarakan di Pesantren Modern Daar El-Qolam (Darul Qalam), Gintung, Banten, dengan mengangkat tema:

"Arah Baru Budaya Indonesia: Budaya Islam sebagai Kekuatan Dakwah, Akar Persatuan, dan Kemajuan Bangsa."


Acara ini menjadi momentum penting dalam mempertemukan para ulama dengan insan seni dan budaya untuk memperkuat peran kebudayaan sebagai media dakwah, pembinaan karakter bangsa, serta pengokoh persatuan nasional.

Dari kalangan seniman, budayawan, sastrawan, dan tokoh publik tampak hadir Neno Warisman, Fatin Hamama, Oki Setiana Dewi, Habiburrahman El-Shirazy, Ahmadun Yosi Herfanda, Sutardji Calzoum Bachri, Aguk Irawan, Rhoma Irama, Dwiki Dharmawan, Jose Rizal Manua, serta banyak tokoh lainnya yang selama ini dikenal aktif mengembangkan seni dan budaya yang bernafaskan nilai-nilai Islam.

Forum ini diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan strategis mengenai arah pembangunan kebudayaan Indonesia yang berpijak pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. 

Selain menjadi ajang silaturahim lintas profesi, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara ulama, cendekiawan, seniman, budayawan, dan generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman, terutama di era digital dan globalisasi budaya.

Panitia berharap hasil Rakornas dan Multaqa ini dapat melahirkan berbagai rekomendasi yang akan menjadi kontribusi nyata bagi Pra-Kongres Umat Islam Indonesia VIII, sekaligus memperkuat peran seni dan budaya sebagai instrumen dakwah yang santun, memperkokoh akhlak bangsa, mempererat persatuan umat, serta mendorong lahirnya peradaban Indonesia yang maju dan bermartabat.