Seminar Nasional Penguatan Ekonomi dan Bisnis Umat, MUI Sumut Dorong Kemandirian dan Kebangkitan Ekonomi Umat
Administrator
Penulis
Medan, muisumut.or.id., 16 Juli 2026 – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, membuka secara resmi Seminar Nasional Penguatan Ekonomi dan Bisnis Umat yang diselenggarakan MUI Sumut dalam rangkaian Gebyar Muharram 1448 Hijriah sekaligus menjadi bagian dari persiapan menuju Kongres Umat Islam yang akan digelar di Jakarta.
Dalam sambutannya, Maratua Simanjuntak menegaskan bahwa seminar tersebut merupakan salah satu ikhtiar MUI Sumut untuk memperkuat peran umat Islam dalam bidang ekonomi melalui kolaborasi berbagai elemen umat.
Ia mengungkapkan bahwa peringatan 1 Muharram 1448 H tahun ini tidak hanya diisi dengan seminar, tetapi juga berbagai kegiatan yang melibatkan ribuan umat Islam di Sumatera Utara.
“Hari ini kita berkumpul dalam jumlah yang terbatas untuk mengikuti seminar. Namun kemarin kita berhasil mengumpulkan simpul-simpul umat Islam dalam kegiatan Gebyar Muharram yang dihadiri lebih dari 2.500 orang. Ada gerak jalan sehat, bazar UMKM, berbagai perlombaan, serta kegiatan sosial dan keagamaan lainnya yang menjadi bagian dari upaya membangun dan menguatkan umat,” ujarnya.

Menurut Maratua, penyelenggaraan bazar UMKM dalam rangkaian Gebyar Muharram merupakan bentuk nyata komitmen MUI Sumut dalam mendorong penguatan ekonomi umat Islam. Karena itu, tema ekonomi dipilih sebagai salah satu agenda penting dalam peringatan Tahun Baru Hijriah tahun ini.
Ia juga menegaskan bahwa salah satu prinsip yang terus dikedepankan MUI Sumut adalah kemandirian organisasi dengan melibatkan partisipasi luas dari berbagai elemen umat.
“Yang terpenting, semua kegiatan ini kita lakukan dengan semangat kemandirian. Sejak pengukuhan kepengurusan, pelaksanaan Mukerda, hingga Gebyar Muharram dan seminar hari ini, MUI Sumut berupaya membangun kemandirian dengan melibatkan berbagai elemen umat Islam. Kita bermitra dengan organisasi Islam, pengusaha, pengurus masjid, pesantren, akademisi, dan berbagai komponen umat sebagaimana yang hadir dan kita ajak berdialog pada seminar ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Seminar, Prof. Abdullah, menjelaskan bahwa seminar diikuti oleh enam segmen strategis yang memiliki peran penting dalam penguatan ekonomi umat.
Segmen pertama terdiri dari MUI Sumut dan MUI kabupaten/kota se-Sumatera Utara. Segmen kedua berasal dari kalangan pengusaha Muslim, termasuk pelaku usaha besar seperti sektor perhotelan. Segmen ketiga adalah pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) yang telah mengembangkan usaha produktif, di antaranya pengelola Masjid Al Makruf dan Masjid Al Hidayah.
Selanjutnya, segmen keempat berasal dari organisasi kemasyarakatan Islam yang diharapkan mampu melahirkan produk dan unit usaha umat. Segmen kelima adalah para pimpinan pondok pesantren yang membutuhkan penguatan rantai produksi dan pengembangan usaha berbasis pesantren. Sedangkan segmen keenam diikuti pimpinan Fakultas Ekonomi dari berbagai perguruan tinggi untuk menjembatani teori ekonomi dengan praktik bisnis dan pemberdayaan masyarakat.
Prof. Abdullah mengatakan seminar ini menjadi bagian penting dari rangkaian Kongres Umat Islam yang akan dilaksanakan di Jakarta pada Juli mendatang.
Menurutnya, terdapat persoalan besar yang harus dijawab bersama. Umat Islam merupakan mayoritas di Sumatera Utara dengan jumlah sekitar 66 persen dari total penduduk, sementara di Kota Medan mencapai sekitar 69,8 persen.
“Pertanyaannya adalah mengapa umat Islam yang merupakan mayoritas masih belum menjadi kekuatan dominan dalam praktik ekonomi dan dunia bisnis. Inilah yang ingin kita bahas dan carikan solusinya melalui seminar ini,” ujarnya.
Seminar menghadirkan dua narasumber utama, yakni Firsal Dirdaus Mutyara dan Asrul Tanjung. Keduanya membahas strategi penguatan ekonomi umat melalui sinergi antara dunia usaha, lembaga keagamaan, masjid, pesantren, organisasi Islam, dan perguruan tinggi.
Melalui Seminar Nasional Penguatan Ekonomi dan Bisnis Umat ini, MUI Sumut berharap lahir rekomendasi strategis dan gerakan bersama yang mampu memperkuat kemandirian ekonomi umat, sehingga mayoritas umat Islam tidak hanya terlihat dari jumlah penduduk, tetapi juga tercermin dalam kekuatan ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.