Perkuat Kemandirian Pesantren, Komisi PDUF MUI Jatim Gelar Sosialisasi Program Dana Abadi
Surabaya, MUI Jatim – Komisi Pengembangan Dana Umat dan Filantropi (PDUF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur sukses menyelenggarakan acara Sosialisasi Program Dana Abadi Pesantren. Kegiatan yang berlangsung pada hari Selasa, 28 Juli 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai ini bertempat di Kantor MUI Provinsi Jawa Timur.
Acara ini dihadiri oleh jajaran Dewan Pimpinan MUI Jawa Timur, di antaranya Ketua Umum MUI Jatim Prof. Dr. KH. Abdul Halim, Sekretaris Umum MUI Jatim Dr. KH. M. Hasan Ubaidillah, Bendahara Umum MUI Jatim H. Rasidi S.E., serta Ketua Bidang Filantropi Dr. KH. Noor Shodiq Askandar. Turut hadir pula para narasumber, pengasuh dan pengurus pondok pesantren se-Jawa Timur, beserta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperkuat pemahaman dan sinergi pengembangan Dana Abadi Pesantren sebagai salah satu instrumen penting bagi pemberdayaan dan keberlanjutan pesantren.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum MUI Jatim, Prof. Dr. KH. Abdul Halim memberikan sambutan sekaligus arahan kepada para hadirin. Beliau mengucapkan selamat datang di Majelis Ulama Provinsi Jawa Timur dan mengajak seluruh pihak untuk terus meramaikan gedung tersebut dengan berbagai kegiatan keumatan yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa, khususnya di wilayah Jawa Timur.
Dalam paparan sambutannya, Prof. Halim menekankan bahwa pesantren merupakan amanah besar yang harus dikembangkan secara bersama-sama. Beliau merefleksikan bahwa merintis sebuah pesantren membutuhkan perjuangan batin yang jauh lebih besar dibandingkan mendirikan lembaga pendidikan umum.
“Ternyata merintis pesantren itu tidak semudah merintis perguruan tinggi… Gimana para founding fathers pesantren merintis pondok dengan dana secukupnya, tetapi tirakat dan mujahadahnya itu luar biasa. Itu yang akhirnya pondok pesantren itu bisa eksis beratus-ratus tahun lamanya,” ungkap Prof. Halim.
Lebih lanjut, merujuk pada temuan penelitian tokoh-tokoh besar seperti Prof. Mukti Ali, Prof. Halim menegaskan posisi pesantren sebagai lembaga yang paling berhasil dalam membina karakter santri secara utuh. Beliau menjabarkan perbandingan nyata antara sistem pendidikan di dalam dan di luar pesantren.
“Lembaga yang ada di luar pondok pesantren hanya berhasil membina otak, tapi tidak dalam membina watak. Di pondok pesantren, terintegrasi antara pendidikan otak dan pendidikan watak,” tegasnya.
Beliau juga menjabarkan bahwa resep utama dari keberhasilan pembinaan karakter di pesantren bertumpu pada Panca Jiwa Pesantren. Kelima jiwa tersebut meliputi jiwa kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, ukhuwah islamiyah, serta jiwa bebas yang bertanggung jawab. Penerapan nilai-nilai yang istiqomah inilah yang pada akhirnya membentuk santri menjadi pribadi yang memiliki kemandirian tangguh dan solidaritas yang tinggi.
Terkait dengan adaptasi zaman, Prof. Halim menyoroti perkembangan pesantren di Jawa Timur yang sangat pesat. Saat ini, banyak pesantren yang telah bertransformasi dengan mendirikan institusi pendidikan lanjutan seperti perguruan tinggi hingga program pascasarjana melalui Ma’had Aly. Saat ini, para tenaga pengajar dan kiai di pesantren tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga banyak yang telah menempuh pendidikan tinggi hingga bergelar doktor maupun guru besar. Hal ini membuktikan bahwa pesantren terus melakukan kaderisasi dan antisipasi yang sangat baik terhadap perubahan zaman. Terlebih lagi, ekosistem ini semakin didukMa’hadeh hadirnya berbagai regulasi dari pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Mengakhiri sambutannya, Prof. Halim kembali menegaskan pentingnya kolaborasi untuk menjaga kemandirian pesantren, khususnya dari sisi pendanaan. Beliau menaruh harapan besar pada kegiatan sosialisasi Dana Abadi Pesantren ini sebagai solusi konkret ke depan.
“Mayoritas kemandirian pesantren dari sisi pendanaan ini perlu dibantu. Saya kira yang membantu itu pahalanya tidak kalah besar dengan yang dibantu… Pahalanya tidak hanya memperoleh keberkahan duniawi, tapi insya Allah di akhirat. Mereka yang membantu pendidikan, yang membantu pesantren, yang membantu menyiapkan generasi di masa-masa yang datang itu pahalanya sangat luar biasa,” pungkas Prof. Halim menutup sambutannya.