Indonesia dan Kepemimpinan Dunia Islam: Besar Secara Jumlah, Kuat dalam Keteladanan
Indonesia dan Kepemimpinan Dunia Islam: Besar Secara Jumlah, Kuat dalam Keteladanan
Indonesia dan Kepemimpinan Dunia Islam: Besar Secara Jumlah, Kuat dalam Keteladanan?
Oleh: Ahmad Bahrul Anshori – Tenaga Ahli Anggota Komisi I DPR RI/Mahasiswa Program Doktor Kajian Stratejik dan Global SPPB UI
Indonesia adalah rumah bagi salah satu populasi Muslim terbesar di dunia. Jumlah umat Islam yang sangat besar merupakan modal demografis yang tidak kecil. Indonesia juga memiliki kekuatan ekonomi, pengalaman demokrasi, tradisi pesantren, organisasi kemasyarakatan Islam, perguruan tinggi, serta jaringan masyarakat sipil yang dapat menjadi kekuatan penting dalam percaturan dunia Islam.
Namun, besarnya jumlah umat Islam tidak otomatis menjadikan sebuah negara sebagai pemimpin dunia Islam. Kepemimpinan bukan hanya soal jumlah penduduk, kekuatan militer, luas wilayah atau kemampuan tampil di berbagai forum internasional. Kepemimpinan adalah persoalan amanah, keteladanan, keadilan, ilmu pengetahuan dan kemampuan menghadirkan kemaslahatan.
Pertanyaan tentang mengapa Indonesia belum memimpin dunia Islam pada akhirnya diarahkan pada persoalan yang lebih mendasar: apakah kekuatan demografis Indonesia telah diterjemahkan menjadi pengaruh diplomatik yang nyata? Tulisan tersebut juga menegaskan bahwa kehadiran dalam forum internasional belum tentu sama dengan kemampuan menentukan arah keputusan politik. Pertanyaan ini penting untuk direnungkan dari perspektif Islam.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”QS. An-Nahl [16]: 90
Ayat ini memberikan prinsip bahwa kekuatan harus berjalan bersama keadilan dan kebajikan. Sebuah bangsa tidak akan menjadi teladan hanya karena memiliki penduduk Muslim yang besar. Ia harus mampu menunjukkan bahwa nilai Islam benar-benar hidup dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan kebijakan negaranya.
Kepemimpinan adalah amanah
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”HR. Bukhari dan Muslim
Hadis tersebut mengingatkan bahwa kepemimpinan bukanlah kehormatan semata, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Karena itu, Indonesia tidak perlu terlalu sibuk memproklamasikan diri sebagai pemimpin dunia Islam. Yang jauh lebih penting adalah membangun kualitas bangsa sehingga negara-negara lain melihat Indonesia sebagai negara yang layak dipercaya.Kepemimpinan yang sesungguhnya tidak lahir dari klaim, tetapi dari keteladanan.
Palestina menjadi ujian nyata
Persoalan Palestina merupakan salah satu contoh bagaimana kepemimpinan sebuah negara diuji. Indonesia selama ini menunjukkan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina dan bantuan kemanusiaan. Namun, persoalannya bukan hanya seberapa sering Indonesia menyampaikan dukungan, melainkan sejauh mana dukungan tersebut dapat diterjemahkan menjadi diplomasi, bantuan, kerja sama dan kebijakan yang memiliki dampak nyata.
Tulisan ini menyoroti adanya jarak antara pernyataan diplomatik dan kemampuan mengubah keputusan politik yang menentukan nasib manusia. Dalam konteks ini, kepemimpinan diuji melalui strategi, tekanan politik, koalisi dan tindak lanjut yang terukur. Islam sendiri mengajarkan keberpihakan kepada keadilan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan.”QS. An-Nisa [4]: 135
Maka keberpihakan terhadap Palestina seharusnya bukan hanya persoalan politik, tetapi juga persoalan kemanusiaan dan moral.
Dunia Islam bukan satu blok politik
Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa dunia Islam bukanlah satu kesatuan politik yang memiliki kepentingan yang selalu sama. Negara-negara Muslim memiliki kepentingan ekonomi, keamanan, politik dan hubungan internasional yang berbeda.
Karena itu, Indonesia tidak harus mengejar gelar sebagai “pemimpin dunia Islam”. Indonesia justru dapat mengambil posisi sebagai jembatan dialog dan perdamaian.
Tulisan Ahmad Bahrul Anshori juga menekankan bahwa politik Islam global terdiri atas beragam aktor, jaringan dan kepentingan. Karena itu, pengaruh Indonesia akan lebih berarti apabila mampu membangun koalisi dan menawarkan jalan keluar yang dipercaya banyak pihak.
Di sinilah politik luar negeri bebas aktif harus memperoleh makna yang lebih substantif. Bebas bukan berarti pasif. Aktif bukan pula sekadar hadir dalam konferensi.
Aktif berarti berani memperjuangkan keadilan, membangun perdamaian dan memberikan solusi.
Jangan hanya menjadi bangsa yang pandai berbicara
Indonesia mempunyai modal besar: pesantren, ulama, akademisi, organisasi Islam, generasi muda, lembaga kemanusiaan dan pengalaman kehidupan demokratis.
Semua itu harus diubah menjadi kekuatan peradaban.
Dunia Islam tidak hanya membutuhkan pidato. Dunia Islam membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, kesehatan, ekonomi, bantuan kemanusiaan dan solusi terhadap persoalan perubahan iklim serta kemiskinan.
Negara yang mampu memberikan beasiswa kepada mahasiswa Muslim dari berbagai negara, mengembangkan teknologi kesehatan, memperkuat ekonomi syariah, membantu korban konflik dan membangun kerja sama pendidikan akan memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat daripada negara yang hanya menghasilkan pernyataan politik.
Tulisan sumber juga menegaskan pentingnya kekuatan pengetahuan dan ekonomi sebagai bagian dari modal pengaruh Indonesia.
Keteladanan harus dimulai dari dalam negeri
Ada satu persoalan yang tidak boleh diabaikan: bagaimana mungkin Indonesia ingin menjadi teladan dunia Islam jika keadilan dan persatuan di dalam negeri belum sepenuhnya terwujud? Islam mengajarkan bahwa keadilan tidak boleh berhenti pada slogan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” QS. Ar-Ra’d [13]: 11
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan besar harus dimulai dari perubahan internal.
Indonesia harus terus memperbaiki pendidikan, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, pemerataan ekonomi, perlindungan kelompok lemah, kerukunan antarumat beragama dan kualitas kehidupan masyarakat.
Jika Indonesia berhasil membangun keadilan dan kemakmuran di dalam negeri, maka suara Indonesia di luar negeri akan memiliki kekuatan moral yang lebih besar.
Bukan siapa yang paling besar, tetapi siapa yang paling bermanfaat
Pada akhirnya, pertanyaan “Mengapa Indonesia tidak memimpin dunia Islam?” mungkin perlu diubah.
Bukan: siapa yang paling pantas menjadi pemimpin?
Tetapi: siapa yang paling mampu menghadirkan keadilan, perdamaian dan kemaslahatan?
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”HR. Ahmad
Inilah ukuran kepemimpinan yang sesungguhnya. Indonesia tidak harus menjadi negara yang paling keras mengatakan dirinya pemimpin dunia Islam. Indonesia harus menjadi negara yang ketika berbicara, didengar; ketika menawarkan solusi, dipercaya; ketika terjadi krisis kemanusiaan, kehadirannya dirasakan; dan ketika mengajak perdamaian, dunia melihat keteladanan.
Kepemimpinan tidak selalu harus dinyatakan dengan gelar. Kadang-kadang kepemimpinan justru lahir ketika sebuah bangsa mampu menjadi contoh.
Maka Indonesia memiliki peluang besar untuk memainkan peranan penting dalam dunia Islam. Tetapi peluang itu hanya akan menjadi kenyataan apabila jumlah umat Islam yang besar, kekuatan ekonomi, pendidikan, diplomasi dan modal sosial benar-benar diubah menjadi kekuatan moral, ilmu pengetahuan, keadilan dan kemaslahatan.
Dunia Islam tidak membutuhkan Indonesia yang paling lantang mengaku sebagai pemimpin.
Dunia Islam membutuhkan Indonesia yang paling dapat dipercaya ketika umat dan kemanusiaan membutuhkan keadilan.
Catatan: Artikel ini merupakan pengembangan dan pengayaan dari gagasan dalam tulisan Ahmad Bahrul Anshori berjudul “Mengapa Indonesia Tak Memimpin Dunia Islam?”, dengan tambahan perspektif Al-Qur’an dan hadis.