Lewati ke konten utama
Rabu, 21 Oktober 2026 / 10 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Ketua Umum MUI Sumsel: Pesantren dan Santri Harus Menjadi Garda Terdepan Penjaga Akhlak Umat dan Generasi Muda
Sumatera Selatan

Ketua Umum MUI Sumsel: Pesantren dan Santri Harus Menjadi Garda Terdepan Penjaga Akhlak Umat dan Generasi Muda

Ketua Umum MUI Sumsel: Pesantren dan Santri Harus Menjadi Garda Terdepan Penjaga Akhlak Umat dan Generasi Muda

/ 10 Jumadil Awal 1448 H 4 menit baca

Ketua Umum MUI Sumsel: Pesantren dan Santri Harus Menjadi Garda Terdepan Penjaga Akhlak Umat dan Generasi Muda

 

PALEMBANG — Pesantren dan santri harus menjadi garda terdepan dalam menjaga akhlak umat serta melindungi generasi muda dari berbagai ancaman kerusakan moral yang dapat membahayakan masa depan bangsa. Peran pesantren tidak hanya mencetak generasi yang memahami ilmu agama, tetapi juga membentuk pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial.

Demikian disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Selatan, Dr. KH. Supadmi Kohar, MM., dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2026.

Supadmi menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pesantren, para kiai, ustaz, ustazah, serta santri yang selama ini telah memberikan kontribusi besar bagi agama, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

Menurutnya, pesantren memiliki posisi strategis dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus membangun karakter bangsa. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, pesantren diharapkan terus menjadi pusat pendidikan, pembinaan spiritual, dan pembentukan akhlak generasi muda.

“Pesantren dan santri harus menjadi garda terdepan dalam menjaga akhlak umat serta melindungi generasi muda dari berbagai penyakit masyarakat yang dapat merusak moral, mental, dan masa depan bangsa,” tegasnya.

Ia menilai, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, perjudian, kekerasan, serta berbagai bentuk perilaku yang bertentangan dengan nilai agama dan norma sosial membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat.

Dalam menghadapi persoalan tersebut, pesantren tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara ulama, pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda secara sehat, baik secara moral, spiritual, maupun sosial.

Santri Harus Menjadi Teladan

Supadmi menegaskan, santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama secara teoritis. Nilai-nilai Islam harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, baik melalui kejujuran, kedisiplinan, kesantunan, kepedulian terhadap sesama, maupun sikap menghormati perbedaan.

Santri juga diharapkan mampu tampil sebagai teladan di tengah masyarakat. Dengan bekal ilmu, iman, dan akhlak, santri harus berani mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan umat serta memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.

Menurutnya, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual dan penguasaan teknologi, tetapi juga oleh kualitas moral dan integritas generasi penerusnya.

Karena itu, pendidikan pesantren perlu terus diperkuat agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga memiliki wawasan luas, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi tantangan zaman.

Pesantren juga diharapkan mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri dan tradisi keilmuannya. Penguatan literasi digital, pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, dan keterampilan hidup menjadi bagian penting dalam mempersiapkan santri menghadapi masa depan.

Meneruskan Perjuangan Para Pendahulu

Lebih lanjut, Supadmi mengingatkan bahwa Hari Santri Nasional bukan sekadar kegiatan seremonial atau momentum mengenang sejarah perjuangan para santri. Peringatan ini harus menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali komitmen dalam membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak mulia.

Sejarah mencatat bahwa kalangan pesantren dan santri turut memberikan kontribusi penting dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pesantren juga berperan dalam mencerdaskan masyarakat, membina kehidupan keagamaan, serta menjaga persatuan dan kerukunan di tengah keberagaman bangsa.

Warisan perjuangan tersebut, menurutnya, harus dilanjutkan oleh generasi santri masa kini dan mendatang. Semangat pengabdian para pendahulu perlu diterjemahkan melalui karya nyata, pendidikan yang berkualitas, dakwah yang menyejukkan, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

MUI Sumatera Selatan berharap pesantren terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak untuk membangun lingkungan yang sehat secara moral, kuat secara spiritual, dan harmonis dalam kehidupan sosial.

Para dai, mubalig, pendidik, dan tokoh masyarakat juga diharapkan memberikan bimbingan kepada generasi muda melalui pendekatan yang bijaksana, penuh keteladanan, dan sesuai dengan tantangan kehidupan masa kini.

“Mari kita jadikan Hari Santri sebagai momentum memperkuat sinergi antara pesantren, ulama, pemerintah, dan masyarakat. Kita ingin melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh imannya, luhur akhlaknya, luas wawasannya, dan besar pengabdiannya kepada agama, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Supadmi berharap Hari Santri Nasional 2026 menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan pembangunan moral dan spiritual.

Dengan demikian, pesantren dan santri diharapkan terus menjadi kekuatan penting dalam membangun umat yang berakhlak mulia sekaligus menyiapkan generasi penerus yang mampu menjaga kehormatan agama, memperkuat persatuan, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. Santri Berakhlak, Umat Bermartabat, Indonesia Kuat.

Editor: Ahmad Soleh Sakni 

 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads