Lewati ke konten utama
Sabtu, 7 November 2026 / 27 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Waketum MUI Dorong Penguatan Hubungan Antarmasyarakat Lewat Pelatihan Diplomasi Islam Wasathiyah di Darunnajah
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, dalam acara Pelatihan Diplomasi Islam Wasathiyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta Selatan, Sabtu (7/11/2026). Foto: MUI Digital
Berita

Waketum MUI Dorong Penguatan Hubungan Antarmasyarakat Lewat Pelatihan Diplomasi Islam Wasathiyah di Darunnajah

Waketum MUI Dorong Penguatan Hubungan Antarmasyarakat Lewat Pelatihan Diplomasi Islam Wasathiyah di Darunnajah

/ 27 Jumadil Awal 1448 H 2 menit baca 73 dibaca

Jakarta, MUI Digital — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, mendorong penguatan hubungan antarmasyarakat atau people-to-people diplomacy dalam menghadapi dinamika global saat ini.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Pelatihan Diplomasi Islam Wasathiyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta Selatan, Sabtu (7/11/2026).

​Menurut Kiai Marsudi, ilmu diplomasi bukanlah hal baru dalam Islam, melainkan nilai fundamental yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sejak awal risalah diturunkan.

Kiai Marsudi menerangkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya berperan sebagai nabi, tetapi juga pemimpin negara, ahli diplomasi, serta teladan dalam hidup berdampingan secara damai.

​“Diplomasi adalah tentang bagaimana kita berkomunikasi satu sama lain dengan cara saling menghormati, dengan cara damai, dengan cara peace,” ujar Kiai Marsudi.

​Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah ini  menjelaskan, program pelatihan dan sertifikasi diplomasi yang digagas oleh MUI ini terus berlanjut dari tahun ke tahun dan kini mulai menunjukkan hasil nyata.

Kiai Marsudi mengungkapkan, para alumni yang mengantongi sertifikat diplomasi memiliki peran strategis yang tidak hanya dibutuhkan oleh pemerintah Indonesia, tetapi juga dalam lingkup yang lebih luas.

​“Bahwa alumni-alumni yang mempunyai sertifikat diplomasi ini dibutuhkan tidak sekadar oleh Negara Indonesia, pemerintah Indonesia. Tapi ada juga people-to-people diplomacy, yaitu diplomasi antarkeluarga, antarorang perorangan, antar bangsa dengan bangsa lain, antarpenganut agama, antarsemuanya,” imbuhnya.

​Lebih lanjut, Kiai Marsudi menekankan bahwa kemampuan berdiplomasi dan memperluas jaringan (network) antarnegara maupun antargolongan akan membawa dampak positif secara luas, termasuk dalam aspek kesejahteraan.

Kiai Marsudi juga mengingatkan bahwa keterampilan berdiplomasi erat kaitannya dengan tradisi silaturahim yang membawa keberkahan.

​“Berhubungan dengan baik akhirnya menghasilkan rezeki. Orang yang pintar diplomasi rezekinya akan banyak. Kenapa? Karena orang yang pintar diplomasi akan banyak silaturahim ya. Silaturahim akan menambah rezeki,” kata Kiai Marsudi. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads