Lewati ke konten utama
Sabtu, 17 Oktober 2026 / 6 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Arifah
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifah Fauzi, saat menjadi keynote speaker dalam Talkshow Indonesia Conference on Women and Sharia Community Empowerment (ICWSCE) 2026 bertema “Perempuan Penggerak Inovasi Ekosistem Rantai Nilai Halal” pada rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026). Foto: Irma/ MUI Digital
Berita

Menteri PPPA Dorong Perempuan Jadi Penggerak Inovasi Ekosistem Rantai Nilai Halal

Menteri PPPA Dorong Perempuan Jadi Penggerak Inovasi Ekosistem Rantai Nilai Halal

/ 6 Jumadil Awal 1448 H 3 menit baca 74 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifah Fauzi, mendorong perempuan untuk mengambil peran strategis dalam memperkuat ekosistem rantai nilai halal.

Menurutnya, perempuan tidak hanya perlu terlibat dalam berbagai tahapan industri halal, tetapi juga harus memiliki kesempatan untuk mengembangkan usaha, menciptakan inovasi, dan meningkatkan daya saing di pasar nasional maupun global.

Hal tersebut disampaikan Arifah Fauzi saat menjadi keynote speaker dalam Talkshow Indonesia Conference on Women and Sharia Community Empowerment (ICWSCE) 2026 bertema “Perempuan Penggerak Inovasi Ekosistem Rantai Nilai Halal” pada rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026).

Arifah menjelaskan, perempuan telah berperan di sepanjang rantai nilai halal, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi dan pengolahan, hingga pemasaran dan distribusi. 

Karena itu, perhatian tidak lagi sebatas pada keterlibatan perempuan, tetapi juga pada upaya memperluas peran dan meningkatkan kontribusinya agar semakin berdaya saing.

“Pertanyaannya adalah, bukan lagi sekadar apakah perempuan sudah terlibat, melainkan sejauh mana kita mampu memperluas peran dan meningkatkan kontribusinya agar semakin berdaya saing dan mampu mengambil peluang yang lebih besar,” ujarnya.

Dia juga menyoroti posisi Indonesia dalam perkembangan ekonomi syariah global. Mengacu pada State of the Global Islamic Economy Report 2025, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam ekonomi Islam, peringkat pertama dalam sektor modest fashion, peringkat kedua dalam pariwisata ramah muslim, dan peringkat ketiga dalam sektor makanan halal.

Meski memiliki posisi penting, Arifah menilai masih ada tantangan yang perlu diatasi, terutama dalam mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dikelola perempuan agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan naik kelas.

“Kita tidak ingin UMKM perempuan hanya bertahan, tetapi kita ingin UMKM berkembang dan naik kelas. Tentunya kita semua ingin naik kelas, dan naik kelasnya tidak sendiri-sendiri. Kita naik kelas bersama-sama,” tuturnya.

Dia berharap perempuan dapat mengambil peran yang lebih besar dalam rantai pasok halal nasional maupun global. 

Untuk mewujudkannya, perempuan pelaku UMKM membutuhkan dukungan menyeluruh melalui ekosistem yang memungkinkan usaha berkembang secara berkelanjutan.

Dukungan tersebut meliputi peningkatan keterampilan dan inovasi produk, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, pendampingan serta fasilitasi sertifikasi halal, akses pembiayaan, hingga perluasan akses pasar.

Menurutnya, kualitas produk dan potensi usaha perlu diimbangi dengan akses pasar serta pembiayaan yang memadai. Perempuan yang memiliki gagasan dan semangat untuk mengembangkan usaha juga harus mendapatkan kesempatan yang setara untuk mewujudkan potensinya. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads