Krisis Internal Israel Dinilai Kian Dalam, Analis Soroti Erosi Struktural yang Berkepanjangan
Miftahul Jannah
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Jakarta, MUI Digital – Sejumlah analis menilai Israel tengah menghadapi akumulasi krisis internal yang semakin kompleks, mulai dari persoalan keamanan, politik, ekonomi hingga identitas sosial. Kondisi tersebut dinilai memicu proses erosi struktural yang dapat berdampak pada keberlangsungan jangka panjang negara tersebut.
Perkembangan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi Israel tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dari berbagai persoalan internal yang terus berkembang.
Sebagaimana dikutip MUI Digital dari Mehr News Agency pada Senin (1/6/2026), pembahasan mengenai masa depan Israel kembali menjadi perhatian setelah pernyataan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ali Khamenei, yang menegaskan bahwa rezim Zionis tengah menuju fase akhir keberadaannya.
Baca juga: Israel Dilaporkan Maju hingga Pinggiran Nabatieh, Ketegangan di Lebanon Selatan Semakin Meningkat
Menurutnya, peristiwa 7 Oktober menjadi titik balik penting dalam persepsi publik terhadap kemampuan keamanan Israel. Selama puluhan tahun, Israel membangun citra sebagai negara dengan sistem keamanan dan intelijen yang kuat. Namun, serangan yang berhasil menembus pertahanan negara itu dinilai telah mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap salah satu fondasi utama legitimasi keamanan Israel.
Perang berkepanjangan di Gaza juga disebut belum mampu mewujudkan tujuan yang dicanangkan pemerintah Israel. Meski operasi militer dilakukan dalam skala besar dengan biaya kemanusiaan dan ekonomi yang tinggi, kelompok-kelompok perlawanan Palestina masih tetap bertahan dan aktif di lapangan.
Baca juga: Iran Kecam Pelanggaran Gencatan Senjata dan Peringatkan Israel
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat, elite politik, maupun militer mengenai efektivitas strategi keamanan yang selama ini dijalankan pemerintah Israel.
Di dalam negeri, Israel juga menghadapi polarisasi politik yang semakin tajam. Bahkan sebelum perang terbaru berlangsung, perdebatan mengenai reformasi peradilan telah memecah masyarakat ke dalam dua kubu yang berseberangan.
Sejumlah laporan juga menunjukkan adanya anggota pasukan cadangan yang menyatakan keberatan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Bagi Israel yang sangat bergantung pada kekuatan pasukan cadangan dalam sistem pertahanannya, situasi tersebut dinilai sebagai sinyal peringatan serius.
Selain itu, fenomena migrasi keluar dari wilayah pendudukan menjadi perhatian para pengamat. Dalam beberapa tahun terakhir, ribuan warga dilaporkan memilih meninggalkan Israel karena faktor keamanan, ketidakstabilan politik, ketidakpastian masa depan, serta meningkatnya perpecahan sosial.
Yang menjadi perhatian lebih lanjut adalah banyaknya warga yang hengkang berasal dari kalangan profesional, akademisi, tenaga kesehatan, dan pekerja sektor teknologi, yang selama ini menjadi pilar utama ekonomi berbasis pengetahuan di Israel.
Dari sisi ekonomi, perang dan ketegangan yang berkepanjangan turut memberikan tekanan signifikan. Peningkatan anggaran militer, berkurangnya investasi asing, perlambatan sektor jasa, serta menurunnya pendapatan dari sektor pariwisata disebut menjadi sebagian dampak yang dirasakan.
Sementara itu, di tingkat internasional, citra Israel menghadapi tantangan yang semakin besar. Penyebaran informasi dan gambar mengenai krisis kemanusiaan di Gaza telah memicu gelombang protes di berbagai negara, termasuk di kampus-kampus dan kelompok masyarakat sipil di negara-negara Barat.
Laporan tersebut juga menyoroti krisis identitas yang berkembang di dalam masyarakat Israel. Perbedaan pandangan antara kelompok sekuler dan religius, ketegangan antarkelompok etnis dan sosial, serta meningkatnya jarak antara institusi politik dan militer disebut semakin mengikis kohesi sosial yang selama ini menjadi salah satu fondasi negara tersebut.
Meskipun demikian, Israel masih memperoleh dukungan politik dan militer yang kuat dari Amerika Serikat. Namun, sejumlah analis berpendapat bahwa dukungan eksternal tidak akan cukup untuk menjamin keberlangsungan suatu negara apabila persoalan internal terus memburuk.
Menurut laporan Mehr News Agency, berbagai indikator seperti menurunnya kohesi sosial, meningkatnya migrasi keluar, melemahnya kepercayaan publik terhadap institusi negara, serta menurunnya efektivitas pemerintahan telah mendorong sejumlah analis menyebut Israel sedang memasuki fase “erosi struktural bertahap”.
Secara keseluruhan, Israel dinilai tengah menghadapi kombinasi krisis keamanan, politik, ekonomi, dan sosial yang saling berkaitan. Meski belum menunjukkan tanda-tanda keruntuhan dalam waktu dekat, kondisi tersebut dipandang dapat menjadi tantangan jangka panjang yang serius bagi masa depan negara tersebut apabila tidak mampu dikelola secara efektif.