Hadiri Kongres Global di Brussel, Ketua MUI Dorong Konsolidasi Internasional Bela Palestina
Irma Zuha Attamimi
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto menghadiri Global Sumud Parliamentary Congress yang digelar di Brussel pada 22 April lalu.
Kehadirannya dalam kegiatan tersebut juga dalam kapasitas sebagai Ketua MUI sekaligus Ketua Steering Committee (SC) Koalisi Asia Pasifik untuk Al-Quds dan Palestina.
Prof Sudarnoto tergabung dalam delegasi Indonesia bersama sejumlah tokoh lintas bidang, termasuk ahli hukum, akademisi, tokoh publik, dan aktivis kemanusiaan seperti Wanda Hamidah, perwakilan Dompet Dhuafa Arif Rahmadi Haryono, Feri Amsari, Guru Besar Universitas Indonesia Prof Heru Susetyo, aktivis HAM Gustika Hatta, dan Ketua Gerakan Sumud Flotilla Dr Maimon Herawati.
Saat ditemui MUI Digital di Jakarta, Rabu (29/4/2026), dia menjelaskan bahwa kongres ini merupakan bagian dari gerakan global yang terintegrasi antara aksi darat dan laut.
Kapal Flotilla yang bergerak dari Eropa ke Istanbul akan tembus ke Gaza untuk membuka blokade dan mendorong agar bantuan-bantuan kemanusiaan bisa dilakukan tanpa halangan dari pihak siapapun, termasuk dari pihak Israel.
Baca juga: Sekjen MUI: Dukungan untuk Palestina Tanggung Jawab Kemanusiaan
“Dua aksi darat dan laut ini saling melengkapi dan sekaligus menjadi bagian yang sungguh sangat penting sebagai gambaran terkait dengan perlawanan global” jelasnya.
Gerakan yang berkembang saat ini merupakan bentuk perlawanan global dari masyarakat sipil terhadap agresi yang terus berlangsung di Palestina.
Berbagai upaya gencatan senjata (ceasefire) yang telah diinisiasi oleh sejumlah negara hingga kini belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Prof Sudarnoto juga menyinggung sejumlah inisiatif internasional yang dinilai belum efektif, termasuk upaya yang dikenal sebagai Board of Peace (BOP).
Menurutnya, skema tersebut tidak mampu menjadi wadah yang tepat dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Dia menegaskan bahwa pendekatan yang lebih komprehensif diperlukan melalui penguatan sinergi antara gerakan laut dan darat, yang mana gerakan laut diwujudkan melalui misi kemanusiaan kapal Flotilla, sementara gerakan darat dilakukan melalui kongres parlemen.
Baca juga: Ketua MUI: APCAP Jadi Langkah Strategis Konsolidasi Kekuatan Asia Pasifik untuk Palestina
Kedua pendekatan ini dinilai saling melengkapi dan menjadi bagian penting dalam membangun konsolidasi global yang lebih kuat.
“Untuk ke depannya, berbagai inisiatif akan terus diperluas melalui gerakan yang lebih masif dan terkoordinasi dengan harapan dapat mendorong percepatan penghentian kekerasan serta pemulihan kondisi kemanusiaan di Palestina,” kata dia.
Kongres ini menghadirkan beragam narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari ahli hukum internasional, pembela HAM, anggota parlemen dari berbagai negara, tokoh agama, budayawan, hingga kalangan akademisi.
Forum yang berlangsung selama satu hari penuh ini juga menghadirkan perwakilan reporter dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membahas isu Palestina.
“Laporan dan pandangan yang disampaikan oleh para narasumber serta peserta yang berasal dari 100 negara atau lebih tersebut menunjukkan kesamaan sikap, yakni pentingnya memperkuat konsolidasi global dalam merespons situasi di Palestina,” tambahnya.
Upaya tersebut, lanjutnya, dilakukan melalui berbagai pendekatan termasuk gerakan poliitk, sosial, ekonomi, hingga jalur hukum internasional.
Dalam konteks hukum, salah satu agenda yang mengemuka adalah mendorong efektivitas implementasi putusan lembaga internasional seperti International Court of Justice (ICJ) dan International Criminal Court (ICC).
Meski sejumlah keputusan telah dihasilkan, implementasinya dinilai belum berjalan optimal. Karena itu, penguatan komitmen global untuk menindaklanjuti keputusan tersebut menjadi salah satu semangat utama yang mengemuka dalam Kongres.