Babe Haikal: Industri Halal Bukan Monopoli Umat Islam
Babe Haikal: Industri Halal Bukan Monopoli Umat Islam
Jakarta, MUI Digital - Industri halal saat ini telah berkembang menjadi bagian dari ekonomi global dan tidak lagi menjadi sektor yang hanya berkaitan dengan kebutuhan umat Islam. Sejumlah negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim bahkan menjadi produsen produk halal terbesar di dunia.
Hal tersebut disampaikan Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan dalam tanggapannya pada kegiatan Tukar Pikiran Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 (WHO 2026) di Kantor MUI, Kamis (8/10/2026).
Babe Haikal, sapaan akrabnya, menyebut China sebagai negara penghasil produk halal terbesar di dunia dengan nilai sekitar 21 miliar dolar AS per tahun. Posisi kedua ditempati Brasil dengan sekitar 20 miliar dolar AS per tahun, sedangkan Amerika Serikat berada di posisi ketiga dengan nilai sekitar 18,7 miliar dolar AS per tahun.
Korea Selatan, Prancis, dan India juga masuk dalam jajaran negara penghasil produk halal dunia, sementara Indonesia berada di posisi kedelapan berdasarkan data yang disampaikannya.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa halal tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang hanya menjadi kepentingan umat Islam.
“Jadi masing-masing negara punya urusan halal dan tidak monopoli umat Islam semata,” ujar Haikal.
Ia mencontohkan bagaimana sejumlah negara memberikan makna tersendiri terhadap produk halal. Di Eropa, halal disebut dipandang sebagai elite food. Sementara di Korea Selatan, halal dikaitkan dengan konsep double clean, dan di Amerika Serikat disebut sebagai symbol of health.
“Jadi masing-masing negara punya urusan halal,” katanya.
Babe Haikal juga menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi sejumlah provinsi di China. Ia menemukan bahwa halal dipandang sebagai bagian dari potensi ekonomi.
“China yang lebih menarik. Beberapa provinsi yang saya datangi dan mereka mengatakan, what is halal? Halal, kata mereka, ini growth economy engine,” tuturnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa industri halal telah dipandang sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Indonesia perlu melihat halal dalam perspektif yang lebih luas.
Ia pun mendukung gagasan agar Indonesia mengembangkan konsep halal for all dan halal for everybody, sehingga produk halal Indonesia tidak hanya ditujukan bagi konsumen Muslim, tetapi juga dapat diterima masyarakat dunia.
“Saya sangat setuju 100 persen kita Indonesia akan halal for all, halal for everybody. Halal Indonesia untuk masyarakat dunia karena halal milik semua orang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Haikal mengaitkan konsep tersebut dengan perintah dalam Al-Qur'an mengenai konsumsi makanan yang halal dan baik. Ia menyinggung penggunaan seruan “Ya ayyuhan-nas” dalam QS Al-Baqarah ayat 168 yang ditujukan kepada seluruh manusia.
“Halalan itu iman, halalan itu iman satu paket,” katanya.
Menurutnya, prinsip halal pada akhirnya bukan sekadar persoalan label atau kebutuhan kelompok tertentu, tetapi merupakan bagian dari ajaran Islam yang memiliki nilai universal.