Apa yang Perlu Diketahui Soal Negosiasi Iran dan AS di Islamabad? Simak Tanya Jawab Berikut
A Fahrur Rozi
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Dunia internasional kembali menaruh perhatian pada perkembangan konflik Timur Tengah, menyusul upaya diplomatik yang digelar di Islamabad, Pakistan.
Pada Sabtu (11/4/2026), ibu kota itumenjadi lokasi penting bagi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran guna mendorong tercapainya gencatan senjata permanen, setelah konflik bersenjata selama sekitar 40 hari yang dipicu serangan besar terhadap Teheran.
Langkah ini hadir di tengah masa gencatan senjata sementara selama dua pekan yang mulai berlaku sejak Rabu malam, membuka peluang bagi jalur diplomasi untuk menghentikan eskalasi lebih lanjut.
Berikut poin-poin penting yang perlu diketahui terkait perundingan tersebut sebagaimana dilansir Aljazeera, Sabtu (11/4/2026) :
1. Apa yang menjadi pokok perundingan?
Perbedaan antara kedua pihak masih cukup tajam. Amerika Serikat mengajukan proposal 15 poin yang berfokus pada isu pengayaan uranium serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran mengusulkan 10 poin yang mencakup tuntutan kendali atas selat tersebut, pemberlakuan biaya bagi kapal yang melintas, penghentian operasi militer di kawasan, serta pencabutan seluruh sanksi ekonomi.
Selain itu, delegasi AS juga dikabarkan akan menuntut pembebasan warga negaranya yang ditahan di Iran sebagai bagian dari kesepakatan damai.
2. Bagaimana sikap Amerika Serikat menjelang negosiasi?
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran tidak memiliki posisi tawar yang kuat, kecuali pengaruhnya terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan apabila perundingan gagal.
Wakil Presiden J D Vance menegaskan bahwa pihaknya siap bernegosiasi secara konstruktif, namun tidak akan mentoleransi sikap yang dianggap tidak serius dari Iran.
3. Bagaimana sikap Iran terhadap negosiasi ini?
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menetapkan prasyarat sebelum negosiasi dimulai, yakni pelaksanaan gencatan senjata di Lebanon serta pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Iran menilai kedua hal tersebut merupakan bagian dari komitmen awal yang belum dipenuhi oleh pihak lawan.
4. Siapa saja yang terlibat dalam delegasi kedua negara?
Delegasi Iran dipimpin oleh Qalibaf dan turut melibatkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, pejabat pertahanan, serta perwakilan sektor ekonomi dan keamanan.
Sementara itu, delegasi Amerika Serikat terdiri dari Wakil Presiden J. D. Vance, utusan Timur Tengah Steve Witkoff, serta Jared Kushner, bersama pejabat dari Dewan Keamanan Nasional dan kementerian terkait.
5. Bagaimana posisi Lebanon dalam dinamika ini?
Isu Lebanon menjadi salah satu titik krusial. Iran menegaskan bahwa kelanjutan negosiasi bergantung pada penghentian serangan di wilayah tersebut.
Namun, Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengumumkan rencana pembicaraan terpisah dengan pemerintah Lebanon.
6. Bagaimana sikap Israel?
Israel dilaporkan bersiap menghadapi kemungkinan kegagalan perundingan. Seorang pejabat menyatakan bahwa jika tidak ada kesepakatan signifikan, operasi militer terhadap Iran dapat kembali dilanjutkan.
7. Apa peran Pakistan sebagai mediator?
Perdana Menteri Shehbaz Sharif menilai perundingan ini sebagai peluang penting untuk mencapai perdamaian permanen.
Pakistan dipandang memiliki posisi strategis karena hubungan baiknya dengan berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat, Iran, Arab Saudi, dan China, serta kedekatan historis dengan Iran.
8. Bagaimana persiapan keamanan di Islamabad?
Pemerintah Pakistan menerapkan pengamanan ketat di Islamabad. Aktivitas kota dibatasi melalui penetapan hari libur, pengalihan lalu lintas, serta peningkatan pengawasan wilayah udara.
Hotel-hotel di kawasan “Red Zone”, termasuk Hotel Serena, juga dikosongkan sebagai bagian dari pengamanan tingkat tinggi.
9. Bagaimana mekanisme perundingan akan berlangsung?
Negosiasi diperkirakan dilakukan secara tidak langsung. Kedua delegasi akan ditempatkan di ruangan terpisah, sementara mediator Pakistan menyampaikan pesan dan proposal di antara keduanya—model yang sebelumnya juga digunakan dalam mediasi oleh Oman.
Perundingan ini menjadi ujian penting bagi diplomasi internasional dalam meredam konflik berskala besar. Keberhasilan atau kegagalannya tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga stabilitas global secara keseluruhan.