Qiyamul Lail sebagai Wasilah Mengukur Rasa Butuh kepada Allah
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Mari jujur pada diri sendiri bahwa shalat malam (qiyamul lail) adalah ibadah yang sangat berat. Begitu banyak orang yang sering melalaikannya, atau bahkan menyerah sebelum mencoba. Alasan utamanya bukan sekadar karena status hukumnya yang sunnah, melainkan karena “eksekusi” qiyamul lail memang butuh perjuangan tingkat tinggi.
Bayangkan saja, harus terjaga di sepertiga malam terakhir. Di saat tubuh sedang mencicipi fase tidur paling lelap, mata sedang seberat-beratnya, hawa malam begitu dingin, dan suasana di luar begitu sunyi. Sungguh tidak mudah untuk sekadar membuka mata, melangkah ke kamar mandi menembus dinginnya air untuk berwudhu, lalu berdiri tegak menghadap Sang Pencipta, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Mode Jalan Keluar dari Keresahan Hidup
Lalu, mengapa ada
orang yang bisa begitu konsisten melakukannya seolah tanpa beban?
Rahasianya
ternyata bukan pada kekuatan fisik atau kecanggihan alarm ponsel. Qiyamul
lail sejatinya tidak akan pernah terasa menarik bagi orang-orang biasa yang
tidak sedang berjuang atau tidak sedang menempuh jalan dakwah. Mengapa? Karena
mereka tidak sedang memikul beban hidup yang besar.
Mereka tidak
merasakan tanggung jawab yang menghimpit, sehingga secara psikologis, mereka
merasa aman-aman saja dan tidak terlalu membutuhkan intervensi, taufik, maupun
petunjuk khusus dari Allah SWT. Mau dipasang alarm berlapis-lapis pun, jika
jiwa tidak merasa butuh Allah, tubuh akan tetap memilih kembali meringkuk di
balik selimut.
Sebaliknya, qiyamul
lail justru akan terasa sangat nikmat bagi mereka yang sedang “berselimut”
dengan berbagai problematika perjuangan. Mereka yang dadanya sering kali terasa
sesak, mentalnya mulai lelah menghadapi penolakan di masyarakat, sementara
kemampuan diri mereka sangat terbatas, dukungan lingkungan minim, dan teman
seperjuangan pun bisa dihitung jari.
Bagi orang-orang yang memosisikan diri sebagai pelanjut risalah dakwah, qiyamul lail bukan lagi sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah fasilitas VIP atau “tahta ilahiah”. Qiyamul Lail menjadi ruang pertemuan eksklusif antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Di waktu ketika dunia tertidur, langit terbuka lebih luas bagi doa-doa yang tulus.
Baca juga: Mengapa Nabi Tidak Pernah Terjebak dalam Ledakan Emosi?
Malam hari
menjadi ruang aman bagi mereka untuk menumpahkan air mata, merintih, dan
menengadahkan tangan demi menjemput pertolongan Allah. Mereka bangun karena
mereka sadar, kalau malam ini mereka tidak mengetuk pintu pertolongan Allah,
mereka tidak akan punya energi untuk menghadapi dunia esok hari.
Dari sinilah
lahir sebuah otokritik yang cukup menohok bagi para penggerak perubahan. Jika
ada seseorang yang mengaku sedang berjuang di jalan Allah atau berdakwah
membela agama-Nya, namun ia malas dan merasa berat untuk qiyamul lail,
maka sebenarnya ia sedang terjebak dalam kesombongan yang nyata.
Orang seperti ini
terlalu percaya diri dengan kekuatan logikanya. Ia merasa bisa mengubah dunia
dengan kecerdasan, jaringan, atau kemampuan fisiknya sendiri, tanpa perlu
melibatkan Allah SWT.
Aktivis yang
mengabaikan malam berarti telah gagal melewati “fase Al-’Alaq”, yaitu sebuah
fase krusial yang mengantarkan pada kesadaran tauhid. Melalui pesan tersirat
dalam surat Al-’Alaq, seseorang harusnya bisa menumbuhkan kesadaran dengan
sesadar-sadarnya (makrifatullah) bahwa Allah adalah Pencipta semesta,
sementara manusia (makrifatunnas) hanyalah segumpal darah (‘alaq)
yang sangat lemah, tak berdaya, dan selamanya harus bergantung kepada Sang
Pencipta.
Kelalaian terhadap qiyamul lail juga karena tidak tuntas dalam meresapi makna yang terkandung dalam surat Al-Qalam, yaitu memahami betapa beratnya dakwah dan menjalankan syariat Allah. Mereka tidak sedang berselimut dengan beban perjuangan untuk agama Allah, melainkan sedang terlelap, terbius, dan terperangkap dalam selimut ilusi dunia yang melenakan.
Baca juga: Jaminan Petunjuk Allah bagi Pendakwah
Jadi, ukuran
berat atau ringannya tahajud ternyata berbanding lurus dengan seberapa besar
rasa butuh kepada Allah SWT.
Jika malam-malam
masih saja susah beranjak dari tempat tidur, mungkin perlu memeriksa kembali hatinya. Jangan-jangan,
saat ini sedang cuek masa bodoh dengan problematika umat atau merasa hidup
sudah terlalu mapan hingga merasa tak lagi butuh pertolongan Allah SWT.
Selimut Malam
Perintah awal qiyamul
lail secara spesifik ditujukan kepada mereka yang sedang “berselimut”. Maksud
kata “berselimut” di sini bukan lagi sekadar kain penutup tubuh saat udara
dingin, melainkan sebuah metafora spiritual.
Allah SWT sedang
memanggil orang-orang yang sedang berselimut dengan pekatnya problematika umat,
serta mereka yang sedang bergelut dengan beratnya tantangan dakwah di lapangan.
Mereka yang bergelut dengan kesulitan menjadikan malam sebagai “ruang istirahat”
jiwa untuk mengadu atau curhat kepada Allah.
Sebaliknya, bagi
mereka yang hari ini sedang asyik dalam zona nyaman, dikelilingi oleh berbagai
kemudahan hidup, fasilitas yang serba ada, ketenaran, serta dukungan penuh dari
lingkungan, maka qiyamul lail akan terasa sebagai sebuah kemustahilan. Dengan
kata lain, mereka sedang tidak berselimut, tidak terlibat, dan tidak mengambil
bagian dalam urusan perjuangan dakwah.
Mengapa? Karena
ketika hidup terasa terlalu mulus, ego manusia cenderung merasa tidak memiliki
urgensi untuk merintih di tengah malam.
Jangankan untuk mendirikan shalat malam yang berstatus sunnah, dalam banyak kasus, godaan kenyamanan ini bahkan membuat shalat Subuh yang hukumnya wajib pun menjadi terasa sangat berat. Akibatnya, alarm hati sering mati, dan mereka sering kali kesiangan menjemput fajar. Mereka yang dimanjakan kemudahan menjadikan malam sebagai perpanjangan dari kelalaian duniawi mereka.
Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan
Fakta ini menjadi
tamparan keras bagi yang sedang lalai. Fasilitas dan kemudahan hidup yang tidak
dibarengi dengan kesadaran tauhid ala surat Al-‘Alaq justru bisa berubah
menjadi “bius” yang melumpuhkan sensitivitas spiritual.
Sepertinya tidak
berlebihan dikatakan, mereka terlalu mandiri secara semu. Merasa bisa
menyelesaikan semuanya dengan finansial, koneksi, atau jabatan yang dimiliki,
hingga lupa kapan terakhir kali menundukkan kepala paling rendah di hadapan
Allah SWT di sepertiga malam.
Bukan untuk
Kesalehan Pribadi
Dari titik ini, harusnya
kita merasa dituntut untuk berani merombak total cara pandang selama ini. Qiyamul
lail sama sekali bukan sekadar ibadah individual yang dilakukan demi meraih
kesalehan pribadi.
Memang benar, di
antara sekian banyak faedah shalat malam adalah kemampuannya untuk mengobati
kegelisahan batin. Kebiasaan ini adalah ruang paling terapeutik untuk menemukan
kembali ketenangan dan kedamaian jiwa yang sempat koyak setelah seharian didera
hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut segalanya bergerak serba cepat dan
tuntutan tinggi.
Namun, ingatlah bahwa qiyamul lail bukan sekadar ruang relaksasi hati atau tempat pelarian spiritual dari penatnya urusan dunia. Manfaat psikologis berupa ketenangan emosi itu adalah bonus yang pasti ikut menyertai (include) saat bersujud. Mengerdilkan shalat malam hanya sebatas alat penenang stres, laksana mendatangi samudra luas hanya untuk membasuh kaki.
Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Ketenangan batin yang didapatkan di atas sajadah sepertiga malam adalah modal awal, bukan tujuan akhir. Ia adalah fondasi agar mental tidak rapuh saat mengemban tanggung jawab kemanusiaan, profesionalitas, dan dakwah di siang hari.
Kurikulum
Sepertiga Malam
Mengapa banyak
tokoh besar Islam, pemimpin dan ulama dalam sejarah memiliki daya tahan mental
yang luar biasa di tengah badai krisis? Mengapa kualitas kepemimpinan mereka
begitu kokoh dan tidak mudah goyah oleh tekanan eksternal?
Pakar tafsir
terkemuka, Imam al-Qurthubi, memberikan jawaban yang sangat filosofis dalam
kitab tafsirnya. Beliau menjelaskan bahwa qiyamul lail sejatinya adalah
bentuk kurikulum pendidikan ruhani (tarbiyah ruhiyah) yang didesain
langsung oleh Allah SWT untuk menggembleng mental para Nabi-Nya.
Shalat malam disiapkan sebagai bekal utama untuk menghadapi beratnya medan dakwah di siang hari. Ia adalah ruang privat yang sangat intim antara seorang hamba dan Rabb-nya. Di dalam ruang sunyi itulah terjadi munajat, tumpahan harapan, dan penguatan hati yang tidak akan pernah bisa didapatkan di waktu-waktu lainnya.
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Qiyamul lail adalah bahan bakar mental dan spiritual
paling mutakhir untuk menunaikan tanggung jawab yang lebih besar. Mulai dari
urusan sosial, keumatan, hingga profesionalitas kerja. Kekuatan ruhiah yang
di-cas setiap malam inilah yang menjadi pembeda (distinction) nyata
dalam daya lentur dan kualitas kepemimpinan seseorang.
Secara
psikologis, pembiasaan bangun di sepertiga malam adalah latihan dengan standar tingkat
tinggi untuk membangun komitmen dan disiplin sejak dini. Ketika seseorang mampu
menunda kenyamanan tidurnya demi memprioritaskan sesuatu yang lebih bermakna
secara spiritual, ia sedang melatih otot-otot regulasi diri.
Dalam jangka
panjang, kebiasaan ini akan berdampak signifikan pada peningkatan kontrol diri
(self-control) dan integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya,
perspektif sains dan psikologi modern pun sejalan dengan “Kurikulum Sepertiga
Malam” ini. Ketika tubuh beristirahat dari riuhnya aktivitas fisik dan mental
di malam hari, otak manusia sebenarnya masuk ke dalam fase yang sangat kondusif
untuk mengalami konsentrasi tinggi dan refleksi diri yang mendalam (deep
reflection).
Kondisi lingkungan yang tenang inilah yang menjadikan qiyamul lail sebagai waktu ibadah paling optimal secara emosional dan spiritual untuk menata ulang kondisi psikologis.
Baca juga: 5 Keutamaan Shalat Tahajud yang Disarikan dari Alquran dan Hadits
Logikanya sangat sederhana. Jika seorang Rasulullah SAW yang maksum dan mulia saja diperintahkan oleh Allah SWT untuk menguatkan jiwanya lewat qiyamul lail di masa-masa sulit, lalu bagaimana dengan kita? Kita yang hari ini mengaku sebagai penerus estafet perjuangan Nabi, tentu jauh lebih butuh untuk meneladani kebiasaan qiyamul lail ini.
Sebab sesungguhnya, ruh dalam berislam dan beriman tidak akan pernah bisa dibangun hanya dengan diskusi, perdebatan, akademis, dan di ruang-ruang fisik yang bising. Ia harus ditempa di sepertiga malam yang sunyi, di atas hamparan sajadah, di mana ego manusia luruh, lalu menyadari sepenuhnya bahwa hanya Allah yang menjadi satu-satunya tempat untuk bergantung.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.