Isyarat Alquran dan Penjelasan Neurosains Modern tentang Ubun-Ubun sebagai Pusat Kebohongan
Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Perkembangan ilmu kedokteran modern dalam dua dekade terakhir melahirkan banyak temuan mengejutkan tentang cara kerja otak manusia. Salah satunya adalah hasil pemindaian menggunakan “Functional Magnetic Resonance Imaging” (FMRI) terhadap para pembohong, penipu, hingga pelaku kejahatan berat.
Dari penelitian itu, para ilmuwan menemukan
bahwa bagian otak yang paling aktif ketika seseorang merancang kebohongan
ternyata bukan pusat bicara, bukan pula pengendali emosi dasar, melainkan area
paling depan otak yang disebut “prefrontal cortex” atau korteks prefrontal.
Bagian ini terletak tepat di balik tulang dahi manusia—wilayah yang dalam bahasa Arab klasik sering disebut sebagai “nashiyah” atau ubun-ubun depan. Menariknya, sejak 14 abad lalu Alquran telah memberikan isyarat yang sangat spesifik mengenai hubungan antara ubun-ubun dan perilaku dusta manusia.
Baca juga: Arsitektur Baru Ekonomi Syariah: Industri Keuangan, Teknologi, dan Daya Saing
Allah berfirman dalam surat Alquran, surat
Al-‘Alaq ayat 15–16:
كَلَّا لَٮِٕنۡ لَّمۡ يَنۡتَهِ ۙ لَنَسۡفَعًۢا
بِالنَّاصِيَةِۙ. نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ
خَاطِئَةٍ
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak
berhenti, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya. (Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan
lagi durhaka.”
Ayat ini sejak lama dipahami para mufassir
sebagai ungkapan penghinaan terhadap pembangkangan manusia. Namun di era
modern, sebagian ilmuwan muslim mulai melihat adanya dimensi ilmiah yang
menarik: mengapa Alquran menyebut bagian “ubun-ubun” sebagai pusat kedustaan
dan kesalahan?
Dalam perspektif neurosains modern, korteks
prefrontal memang merupakan pusat fungsi eksekutif otak manusia. Ia bertanggung
jawab atas pengambilan keputusan, perencanaan strategis, kontrol moral,
penilaian sosial, hingga kemampuan memanipulasi informasi.
Dengan kata lain, kebohongan bukan sekadar gerakan lidah, tetapi hasil rekayasa kognitif tingkat tinggi yang dirancang oleh otak bagian depan.
Baca juga: Memahami Hadis Nabi Berqurban Satu Ekor Domba untuk Satu Keluarga
Ketika seseorang berkata jujur, otak
bekerja relatif sederhana karena ia hanya menyampaikan fakta sebagaimana
adanya. Namun saat seseorang berbohong, otaknya harus bekerja jauh lebih
kompleks: menyusun narasi palsu, menekan fakta asli, mengatur ekspresi wajah,
mengantisipasi respons lawan bicara, dan menjaga agar ceritanya tetap
konsisten. Semua proses ini membuat aktivitas korteks prefrontal meningkat
tajam dalam pemindaian FMRI.
Dalam ilmu psikologi kognitif, kebohongan
bahkan dianggap sebagai aktivitas mental yang “mahal”. Psikolog terkenal Paul
Ekman menjelaskan bahwa kebohongan membutuhkan beban mental lebih besar dibandingkan dengan kejujuran karena pelaku harus terus mengontrol dirinya secara sadar.
Karena itu, pembohong sering menunjukkan
tanda-tanda stres neurologis: jeda bicara lebih panjang, perubahan ekspresi
mikro, hingga kelelahan mental.
Dari sisi kedokteran saraf, kerusakan pada korteks prefrontal juga sering dikaitkan dengan hilangnya kontrol moral dan meningkatnya perilaku antisosial.
Baca juga: Menjaga Nalar Bangsa di Tengah Arus Perang Pemikiran
Kasus klasik yang sering dibahas dalam
dunia neurologi adalah Phineas Gage, seorang pekerja rel kereta api abad ke-19
yang mengalami kerusakan serius pada bagian depan otaknya akibat kecelakaan.
Setelah selamat, kepribadiannya berubah
drastis: impulsif, kasar, sulit mengontrol perilaku, dan kehilangan
pertimbangan moral.
Artinya, bagian depan otak memang berkaitan
erat dengan etika, pengendalian diri, dan perilaku sosial manusia.
Di titik inilah dialog antara wahyu dan sains menjadi menarik. Tentu Alquran bukan kitab neurologi, sebagaimana laboratorium bukan tempat mencari tafsir ayat. Namun keduanya dapat saling menerangi. Wahyu memberi petunjuk moral dan makna eksistensial, sedangkan sains membantu manusia memahami mekanisme biologis di balik perilaku itu.
Banyak ulama tafsir klasik sebenarnya telah
memberi penjelasan yang cukup dekat dengan makna modern tersebut. Ibnu Katsir
menjelaskan bahwa “ubun-ubun pendusta” dalam ayat itu menunjukkan pusat
kesombongan dan pembangkangan manusia. Sementara Fakhruddin ar-Razi menafsirkan
“nashiyah” sebagai simbol kendali dan kepemimpinan diri manusia.
Dalam budaya Arab klasik, memegang ubun-ubun seseorang juga bermakna menguasai atau mengendalikan dirinya sepenuhnya. Karena itu, ayat tersebut mengandung pesan psikologis mendalam: manusia yang terus-menerus berdusta sesungguhnya sedang merusak pusat kendali moral dirinya sendiri.
Baca juga: Menjawab Tekanan Ekonomi Lewat Kekuatan Pesantren
Perspektif ini juga sejalan dengan kajian
psikologi modern tentang dampak kebohongan terhadap kesehatan mental.
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan berbohong kronis dapat meningkatkan
stres, kecemasan, dan ketegangan neurologis.
Kebohongan memaksa otak hidup dalam keadaan
waspada terus-menerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi
kestabilan emosi dan hubungan sosial seseorang.
Sebaliknya, kejujuran berkaitan erat dengan
ketenangan psikologis. Dalam psikologi positif, integritas dianggap sebagai
fondasi kesehatan mental karena mengurangi konflik internal antara realitas dan
citra diri. Apa yang diucapkan sesuai dengan apa yang diyakini. Tidak ada
energi mental besar yang dihabiskan untuk menyembunyikan kepalsuan.
Karena itu, Alquran tidak sekadar melarang dusta sebagai dosa moral, tetapi juga sebagai perilaku yang merusak struktur kemanusiaan itu sendiri. Dusta bukan hanya pelanggaran etika sosial, melainkan tindakan yang mengacaukan keseimbangan jiwa dan fungsi akal manusia.
Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Di era modern hari ini, ketika manipulasi
informasi, propaganda, dan pencitraan palsu menjadi bagian dari kehidupan
publik, pesan ini terasa semakin relevan.
Manusia modern mungkin berhasil membangun
teknologi yang mampu memindai aktivitas otak, tetapi Alquran jauh sebelumnya
telah mengingatkan bahwa pusat kedustaan manusia berada di bagian paling depan
dirinya—tempat lahirnya niat, perencanaan, dan kesadaran moral.
Sains mungkin baru menemukan mekanismenya sekarang. Namun, wahyu telah lebih dahulu menyentuh substansinya: bahwa kebohongan bukan sekadar ucapan lidah, melainkan keputusan sadar yang lahir dari pusat kendali terdalam manusia.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.