Lewati ke konten utama
Rabu, 28 Oktober 2026 / 17 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Prof. Arifinsyah: Ukhuwah Islamiyah Harus Diwujudkan melalui Kolaborasi Nyata
Sumatera Utara

Prof. Arifinsyah: Ukhuwah Islamiyah Harus Diwujudkan melalui Kolaborasi Nyata

Prof. Arifinsyah: Ukhuwah Islamiyah Harus Diwujudkan melalui Kolaborasi Nyata

/ 16 Jumadil Awal 1448 H 2 menit baca

Medan, muisumut.or.id., 27 Oktober 2026 — Penguatan ukhuwah Islamiyah tidak cukup diwujudkan melalui seruan persatuan, tetapi harus diterjemahkan menjadi kerja sama nyata dalam pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kegiatan kemanusiaan, dan penyelesaian persoalan sosial. Perbedaan pandangan, mazhab, organisasi, maupun pilihan politik juga perlu dikelola dengan dialog, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama.

Hal tersebut menjadi pokok pemaparan Guru Besar UIN Sumatera Utara sekaligus Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Sumut, Prof. Dr. H. Arifinsyah, M.Ag., dalam Dialog Ukhuwah Kolaborasi Ormas Islam dan MUI Sumatera Utara di Aula MUI Sumut, Selasa (27/10/2026).

Dalam materi bertajuk “Berukhuwah dan Bersinergi untuk Kemaslahatan Umat dan Bangsa”, Arifinsyah menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) dan hubungan antarmanusia (hablum minannas). Karena itu, kesalehan individu harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan amanah.

Ia menempatkan ukhuwah Islamiyah sebagai fondasi persatuan umat. Persaudaraan, menurut kerangka materi yang disampaikan, tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan membangun kesediaan untuk saling menghormati, menolong dalam kebaikan, dan menyelesaikan perselisihan secara adil.

Landasan tersebut merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 tentang persaudaraan orang-orang beriman dan kewajiban mendamaikan pihak yang berselisih. Prinsip persatuan juga ditegaskan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 103, sedangkan Surah Al-Ma’idah ayat 2 memberikan dasar bagi kerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan.

Arifinsyah mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat menghambat terwujudnya ukhuwah, di antaranya kebanggaan kelompok yang berlebihan, keterbatasan cakrawala pengetahuan, fanatisme, individualisme, lemahnya kepemimpinan, dan pemahaman agama yang tidak komprehensif.

Untuk mengatasinya, ia menekankan pentingnya penguatan pemahaman keagamaan yang moderat dan berakhlak, komunikasi yang sehat, literasi digital, etika bermedia sosial, serta kolaborasi ant organisasi Islam. Sinergi dengan pemerintah dan masyarakat luas juga diperlukan untuk memperkuat keadilan sosial dan pemberdayaan ekonomi.

Lebih jauh, ukhuwah perlu diarahkan menjadi gerakan produktif melalui pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi umat, penanggulangan bencana, penguatan kerukunan antarumat beragama, kolaborasi pemuda dan pelajar, serta penegakan etika politik dan kewargaan.

Dalam materi tersebut, Arifinsyah juga menyoroti pentingnya Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan sebagai sarana pembentukan generasi berkarakter, masjid sebagai pusat pembinaan spiritual dan silaturahmi, serta ukhuwah Islamiyah sebagai kekuatan pemersatu umat.

Melalui dialog ini, penguatan persaudaraan diharapkan tidak berhenti pada pertemuan dan pernyataan bersama. MUI Sumut dan berbagai ormas Islam diharapkan mampu mengembangkan program kolaboratif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta memperkuat kontribusi umat Islam bagi kemaslahatan bangsa.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads