MUI Jatim Tegas Nyatakan Fenomena Mengaku Imam Mahdi dan Jual Tiket Surga Sebagai Kesesatan Nyata
MUI Jatim Tegas Nyatakan Fenomena Mengaku Imam Mahdi dan Jual Tiket Surga Sebagai Kesesatan Nyata
SURABAYA, MUI Jatim – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur merespons tegas munculnya fenomena seorang oknum yang mengaku sebagai Imam Mahdi, menawarkan “top up” umur, memberikan tiket jaminan masuk surga, hingga memeras para pengikutnya. Sekretaris Umum MUI Jatim, Dr. KH. M. Hasan Ubaidillah, S.H.I., M.Si., menyatakan bahwa klaim dan ajaran oknum tersebut merupakan bentuk kesesatan yang nyata.
Tanggapan tersebut disampaikan oleh Dr. KH. M. Hasan Ubaidillah dalam sesi wawancara bersama stasiun televisi TV One pada Rabu (28/10/2026). Ia mengungkapkan keprihatinan MUI Jatim terhadap kasus penyesatan berkedok agama yang terus berulang di masyarakat.
“MUI Jawa Timur sangat menyayangkan dan selalu prihatin ya, karena kasus-kasus seperti ini seringkali terjadi dan berulang,” tegasnya. “Padahal MUI itu sudah merilis 10 kriteria aliran yang dikategorikan sesat. Di antara 10 kriteria tersebut, mengaku-ngaku sebagai Nabi dan Imam Mahdi itu merupakan bentuk kesesatan yang nyata,” imbuhnya menjelaskan posisi MUI terkait kasus ini.
Lebih lanjut, Sekretaris Umum MUI Jatim ini memaparkan bahwa sosok Imam Mahdi yang sebenarnya telah dijelaskan secara rinci dalam literatur Islam yang sahih.
“Karena dalam riwayat-riwayat hadis yang muktabar, yang sahih, di antara yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dan Tirmidzi yang mengeluarkan hadis itu, bahwa Imam Mahdi jelas merupakan garis keturunan Rasulullah dan nasabnya tersambung kepada Rasulullah,” jelas Dr. KH. M. Hasan Ubaidillah. “Ciri-cirinya pun itu juga namanya Muhammad bin Abdillah, mirip-mirip rupanya juga seperti Rasulullah yang keturunan dari bangsa Arab,” lanjutnya.
Berdasarkan dalil-dalil sahih tersebut, MUI Jatim memastikan bahwa oknum asal daerah Kamal, Madura tersebut tidak memenuhi kriteria apa pun yang merujuk pada sosok Imam Mahdi.
“Maka ketika ada orang Madura, orang Kamal yang bukan bangsa Arab, nasabnya tidak tersambung kepada Rasulullah, kemudian mengaku sebagai Imam Mahdi, ya itu jelas merupakan kesalahan,” tegasnya. “Dan ketika itu ajarannya dijelaskan top up umur dan lain sebagainya, itu kesesatan yang nyata,” pungkasnya memberikan peringatan.