Lewati ke konten utama
Kamis, 5 November 2026 / 25 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Prof Hasbullah: Nikotin Vape Sama Seperti Etanol, Picu Kecanduan Jangka Panjang
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof Hasbullah Thabrany, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Permasalahan Vape atau Rokok Elektrik (REL)” yang diselenggarakan oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026). Foto: MUI Digital
Berita

Prof Hasbullah: Nikotin Vape Sama Seperti Etanol, Picu Kecanduan Jangka Panjang

Prof Hasbullah: Nikotin Vape Sama Seperti Etanol, Picu Kecanduan Jangka Panjang

/ 24 Jumadil Awal 1448 H 2 menit baca 65 dibaca

​Jakarta, MUI Digital — Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof  Hasbullah Thabrany, mengatakan bahwa kandungan nikotin dalam rokok elektrik atau vape memiliki sifat adiktif yang setara dengan etanol atau alkohol.

Hal tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Permasalahan Vape/Rokok Elektrik (REL)” yang digelar oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).

Prof Hasbullah menyoroti pentingnya peninjauan dari sudut pandang medis dan toksikologi terhadap zat yang dikonsumsi masyarakat. Menurutnya, Komisi Fatwa MUI harus lebih berfokus pada penilaian manfaat serta mudarat zat nikotin bagi konsumen secara langsung, alih-alih mempertimbangkan kepentingan ekonomi produsen atau pedagang semata.

​“Nikotin itu, kalau saya menilai, membaca buku, membaca literatur, itu sama dengan alkohol, etanol, zat adiktif. Cuma bedanya Allah menciptakan segala sesuatu ini tidak semuanya satu. Ada yang efeknya cepat, seperti narkotika dan alkohol. Ada yang efeknya lambat, bertahun-tahun tidak bergerak,” ujar Prof Hasbullah.

Prof Hasbullah menjelaskan, zat yang memberikan efek lambat justru sering kali lebih berbahaya karena dampaknya tidak langsung dirasakan dalam waktu singkat. Untuk menggambarkan fenomena akumulasi bahaya jangka panjang ini, ia menggunakan analogi manajemen tentang proses merebus seekor kodok.

​“Kalau kita masukin kodok di dalam air mendidih yang efeknya cepat, dia langsung lompat. Tapi ada yang kita taruh pelan-pelan suhunya dinaikin, dia tidak bakalan lompat, tahu-tahu sudah empuk saja dagingnya. Jadi, untuk mencegah jangan sampai rusak, ya harus pahami ada efek jangka panjang itu,” jelasnya.

​Lebih lanjut, Prof Hasbullah juga membandingkan skala dampak antara pihak yang memproduksi atau berdagang dengan masyarakat luas yang berisiko terpapar.

Dia mengungkapkan bahwa jumlah perokok pasif di Indonesia jauh lebih besar dan rentan menjadi korban dari peredaran zat adiktif tersebut.

​Oleh karena itu, dalam perumusan fatwa ke depan, dia mendorong agar MUI dapat memberikan panduan dan informasi yang jelas serta objektif kepada umat Islam mengenai zat nikotin. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads