Mengetuk Pintu Langit: Muhasabah dan Ikhtiar Menjaga Ibu Pertiwi
Oleh: KH M Anwar Iskandar, Ketua Umum MUI 2025-2030
Jakarta, MUI Digital – Dalam beberapa waktu terakhir, bangsa kita kembali diuji oleh berbagai musibah dan bencana. Dari ujung barat hingga timur negeri ini, kita mendengar kabar duka: banjir, tanah longsor, gempa, dan berbagai bencana lainnya.
Setiap kali musibah datang, kita berduka, kita berdoa. Namun lebih dari itu, sudah sepatutnya kita juga bermuhasabah, melakukan introspeksi diri.
Tidak ada satu musibah pun yang menimpa manusia kecuali karena ulah manusia itu sendiri. Inilah pesan Allah yang perlu kita renungkan dalam-dalam.
Mungkin selama ini kita banyak melupakan kewajiban kita kepada Allah. Apa yang diperintahkan belum kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, sementara yang dilarang justru sering kita lakukan. Maka dari itu, bencana mestinya menjadi cermin bagi bangsa, bukan sekadar peringatan yang lewat begitu saja.
Di tengah cobaan semacam ini, doa dan munajat menjadi kekuatan umat. Sebagaimana yang kita lakukan di Masjid Istiqlal baru-baru ini, bersama para ulama, habaib, dan umat Islam dari berbagai penjuru kita mengetuk pintu langit—memohon keselamatan bangsa. Kita yakini bahwa setiap doa yang tulus tidak akan pernah sia-sia.
Tetapi doa harus diiringi dengan taubat dan istighfar, sebagai bentuk kesadaran dan penyesalan atas kekhilafan. Dengan istighfar, hati menjadi lapang, dan dengan taubat, langkah kita kembali berada di jalan yang benar. Inilah hakikat keimanan: selalu kembali kepada Allah setiap kali kita tergelincir.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bukan hanya milik para pengurus yang dilantik. MUI adalah milik seluruh umat Islam Indonesia, bahkan milik bangsa Indonesia. Karena itu, tanggung jawab MUI adalah membersamai pemerintah dan masyarakat, untuk mewujudkan bangsa yang damai, sejahtera, dan diridhai Allah SWT—sebuah negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.