Sebut Barat Sedang 'Menurun', Din Syamsuddin Dorong Asia Pimpin Tata Dunia Baru Berbasis Moral
Jakarta, MUI Digital--Cendekiawan Muslim, Prof Din Syamsuddin, menegaskan bahwa supremasi Barat dalam memimpin peradaban global saat ini tengah mengalami penurunan (declining). Situasi dunia yang carut-marut oleh konflik bersenjata dan kebuntuan komunikasi antarnegara memperkuat urgensi bagi kawasan Asia untuk bangkit memimpin tata dunia baru.
Pernyataan tersebut disampaikan Din Syamsuddin saat hadir sebagai pembicara dalam peringatan International Day for Dialogue among Civilizations (Hari Dialog Antar Peradaban Internasional).
Agenda penting ini digelar oleh Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Acara yang mengusung tema "Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia" ini menjadi panggung bagi para tokoh untuk menyuarakan pesan perdamaian dari gedung parlemen Indonesia.
Dalam pidatonya, Din Syamsuddin menyoroti kondisi global yang disebutnya sedang berada dalam pusaran kekacauan besar (global cumulative impairment). Merujuk pada data lembaga perdamaian internasional, saat ini terdapat sekitar 120 konflik bersenjata yang berkecamuk di berbagai belahan dunia, termasuk tragedi kemanusiaan dan genosida di Gaza, Palestina.
Menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, ketegangan geopolitik terakhir, termasuk konstelasi yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran, merupakan potret nyata dari kepanikan global.
"Dalam pembacaan saya, ini adalah sebuah upaya untuk menunda kejatuhan Barat. Jadi, maaf untuk mengatakan, Barat sedang menurun. West is declining," ujar Din Syamsuddin di hadapan para peserta yang hadir.
Baca juga: Gandeng DPR-DPD, MUI akan Gelar Dialog Antar-Peradaban Internasional Sikapi Konflik Global
Dia menjelaskan bahwa sejarah peradaban dunia selalu berputar. Setelah era kejayaan Persia, Mesopotamia, China, hingga masa keemasan Islam pada abad ke-9 hingga ke-11, kini giliran Asia yang mengambil alih kemudi global.
"Suka atau tidak suka, agree or disagree, sekarang telah terjadi pergeseran pusat gravitasi ekonomi dan geopolitik dunia dari Atlantik ke Pasifik, dengan munculnya Asia Timur dan kebangkitan China. Asia Pasifik adalah episentrum peradaban baru," tegasnya.
Melihat momentum rotasi peradaban ini, Din Syamsuddin mendesak agar momentum kebangkitan Asia tidak hanya berfokus pada dominasi ekonomi dan kekuatan militer, melainkan pada rekonstruksi moralitas universal.
Dia mendorong lahirnya tata dunia baru (new world order) yang meninggalkan ego hegemonik dan kembali pada nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Din mengingatkan bahwa seluruh agama besar di dunia, baik agama Samawi maupun agama-agama Asia lainnya, memiliki mandat universal yang sama, yaitu menjadi wakil Tuhan untuk membangun bumi tanpa merusaknya.
Oleh karena itu, ia meminta para pemimpin dan pemeluk agama di Asia, khususnya dari Indonesia, untuk aktif berkolaborasi dan tidak lagi menjadi bagian dari masalah global.
"Agama-agama harus bangkit berperan. Agama harus menjadi problem solvers untuk kebangkitan peradaban baru, bukan lagi menjadi bagian dari masalah (part of the problems), apalagi menjadi problem maker," pungkasnya.