9 WNI Relawan Gaza Dibebaskan, MUI Tegaskan Perlawanan terhadap Israel
Latifahtul Jannah
Penulis
Azharun N
Editor
JAKARTA, MUI Digital— Majelis Ulama Indonesia menggelar acara silaturahmi dan tasyakuran atas bebasnya sembilan warga negara Indonesia (WNI) relawan delegasi Global Sumud Flotilla (GSF) yang sebelumnya sempat diculik otoritas Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza.
Kegiatan itu dihadiri pimpinan MUI, lembaga filantropi, organisasi kemanusiaan, serta sembilan relawan Indonesia yang telah dipulangkan.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menegaskan bahwa perjuangan membela Palestina tidak boleh berhenti.
“Acara sore hari ini, di samping tasyakuran dan rasa syukur kita kepada Allah, juga sekaligus mengingatkan kepada semua pihak bahwa Israel memang harus dilawan,” ujar Prof Sudarnoto di Aula Buya Hamka, Gedung MUI, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).
Sembilan WNI yang sebelumnya sempat ditahan otoritas Israel merupakan relawan delegasi Global Sumud Flotilla (GSF) yang tergabung dalam misi kemanusiaan internasional untuk Gaza. Mereka berasal dari berbagai lembaga kemanusiaan dan media nasional.
Berdasarkan laporan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sembilan WNI tersebut ialah Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Asad Aras Muhammad, Hendro Prasetyo, Bambang Noroyono, Thoudy Badai Rifan Billah, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo.
Prof Sudarnoto menjelaskan, pembelaan terhadap Palestina bukan semata isu keagamaan, melainkan persoalan kemanusiaan global yang menjadi tanggung jawab seluruh bangsa dan masyarakat dunia.
“Pembelaan kemanusiaan itu adalah tugas kita, tugas semua bangsa, tugas masyarakat, Islam atau tidak Islam. Pembelaan untuk mengamankan Palestina itu adalah sebuah kewajiban bagi kita,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Prof Sudarnoto mengungkapkan bahwa pembebasan sembilan relawan Indonesia tidak terlepas dari peran diplomasi internasional, khususnya dukungan dari Turki yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
“Saya mengulangi, beruntung kita punya sahabat Turki. Turki itu sahabat kita, tetapi Turki juga punya hubungan dengan Israel. Karena itu, ini mempermudah pembebasan,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan membebaskan para relawan menjadi bukti bahwa upaya bersama lintas negara dan elemen masyarakat dapat membuahkan hasil, meski menghadapi risiko besar.
“Dengan dibebaskannya sembilan relawan ini membuktikan bahwa upaya-upaya serius secara bersama-sama bisa kita hasilkan,” tuturnya.
Prof Sudarnoto menekankan, pembebasan tersebut merupakan hasil perjuangan kolektif antara pemerintah, masyarakat sipil, lembaga filantropi, organisasi kemanusiaan, dan negara-negara sahabat.
“Ini perjuangan bersama, Pemerintah dengan pemerintah, negara dengan negara, tetapi juga pemerintah dan masyarakat sipil, filantropi, serta penggerak kemanusiaan,” katanya.
Dalam forum itu, Prof Sudarnoto juga menyoroti perlakuan yang dialami para relawan selama ditahan otoritas Israel. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi gambaran kecil dari penderitaan rakyat Gaza yang telah berlangsung bertahun-tahun.
“Tadi sudah dijelaskan betapa kejinya Israel terhadap relawan. Ini cuma beberapa hari, tetapi saudara-saudara kita di Gaza sudah mengalami lebih lama,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong masyarakat internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk mengambil langkah tegas terhadap Israel atas dugaan pelanggaran kemanusiaan.
“Kita harus dorong masyarakat global melalui PBB dan OKI untuk menghukum Israel dan pelaku kejahatan kemanusiaan,” katanya.
Lebih lanjut, Prof Sudarnoto menyebut peristiwa penculikan Israel terhadap relawan Indonesia menjadi tantangan bersama bagi pemerintah, masyarakat sipil, lembaga filantropi, dan organisasi kemanusiaan untuk memperkuat diplomasi kemanusiaan secara global.
“Peristiwa terakhir ini adalah tantangan kita semua untuk terus melakukan diplomasi kemanusiaan secara lebih masif. Ini membutuhkan koordinasi dan konsolidasi global,” ujarnya.
Prof Sudarnoto menilai peluang memperkuat solidaritas internasional terhadap Palestina semakin besar seiring munculnya gerakan masyarakat sipil di berbagai negara untuk mendobrak kebuntuan politik, hukum, dan kemanusiaan terkait konflik Palestina.
“Spirit global yang dilakukan masyarakat sipil untuk mendobrak kebuntuan politik, hukum, dan kemanusiaan itu sudah mulai muncul di mana-mana, bahkan di Amerika Serikat,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Sudarnoto juga mengungkapkan terbentuknya Asia Pacific Coalition for Al-Quds and Palestine (APCAP), yakni koalisi masyarakat sipil negara-negara Asia Pasifik untuk memperkuat solidaritas terhadap Palestina.
“APCAP adalah inisiatif masyarakat sipil negara-negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, yang meminta Indonesia menjadi headquarters,” ujarnya.
Menurutnya, forum tersebut akan menjadi sarana memperkuat konsolidasi global dan mempercepat dukungan internasional bagi perjuangan rakyat Palestina.
“Nantinya forum global Asia Pasifik ini bisa mempercepat dan memperkuat solidaritas global terhadap Palestina,” kata Prof. Sudarnoto.
Prof Sudarnoto juga mengingatkan pentingnya mempererat hubungan antara masyarakat sipil dan pemerintah dalam isu kemanusiaan Palestina agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Momentum sekarang tepat untuk mendekatkan masyarakat sipil dengan pemerintah. Jangan sampai pemerintah dan masyarakat sipil justru bertubrukan,” ujarnya.