Lewati ke konten utama
Senin, 28 September 2026 / 16 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Mengais Pencerahan Ilmu dari Bumi Andalusia
Foto: AI Modified/ChatGPT
Paradigma Islam

Mengais Pencerahan Ilmu dari Bumi Andalusia

Mengais Pencerahan Ilmu dari Bumi Andalusia

/ 16 Rabiul Akhir 1448 H 9 menit baca 155 dibaca

Jakarta, MUI Digital — Andalusia, bumi yang begitu indah. Mercusuar ilmu pengetahuan pernah memancar dari sana. Pelita-pelita ilmu pengetahuan memancar terang. Orang-orang dari seluruh penjuru dunia datang berbondong-bondong ke bumi Andalusia seperti laron yang keluar dari sarangnya mencari cahaya untuk menghangatkan tubuhnya walaupun nyawa taruhannya.

Hiruk-pikuk pasar buku pernah meramaikan kota itu, diskusi pernah menjadi makanan sehari-hari masyarakatnya, perpustakaan menjadi tempat yang ramai dikunjungi. Namun, sejarah sudah membalik semuanya. Ketika kita berkunjung ke sana, suasana itu sudah sirna; yang ada tinggal puing-puing reruntuhan yang hanya bisa dikenang.

Andalusia sudah gelap gulita tanpa pelita, karena pelita itu sudah berpindah ke negara-negara Eropa yang berbentuk pencerahan ilmu pengetahuan yang mengantarkannya menuju peradaban yang didambakan.

Pada awalnya, Eropa gelap gulita, kebodohan merajalela di mana-mana. Orang-orang Eropa saat itu berada di bawah bayang-bayang dogma gereja yang mengekang kebebasan berpikir mereka. Apa pun hasil pemikiran yang tidak sesuai dengan ajaran gereja, maka inkuisisi jawabannya. Yang tidak sesuai itu akan dipasung dan dilemparkan ke kubangan kotoran yang menghinakan. Pemikiran mereka mandeg, tanpa ada inovasi dan penemuan untuk meningkatkan kemajuan hidup mereka.

Akan tetapi, diam-diam segelintir orang Eropa itu memberanikan diri untuk menjelajah ke dunia lain untuk mencari sesuatu yang bisa mengubah kondisi masyarakatnya. Kemudian mereka menemukan bumi Andalusia yang gegap gempita penuh dengan kajian ilmu pengetahuan.

Peradaban Andalusia yang begitu agung, yang dilandasi oleh ilmu dan agama Islam, menjulang tinggi ke langit, membuat orang-orang Eropa waktu itu kagum. Mereka berpikir, bagaimana seandainya keadaan ini berpindah ke tanah mereka, pasti masyarakatnya dengan tangan terbuka akan menerima, karena setelah sekian lama terkungkung dalam kegelapan yang belum ada ujung pangkalnya.

Hal itu seperti yang digambarkan oleh Tamim Ansary, seorang sejarawan Muslim dunia, “Pada abad kedua belas, para sarjana Kristen yang mengunjungi Andalusia Muslim secara tak sengaja menemukan terjemahan Latin dari terjemahan Arab atas teks-teks Yunani karya para pemikir seperti Aristoteles dan Plato. Kebanyakan dari karya-karya ini dihasilkan di Toledo, tempat berkembang pesatnya industri penerjemahan. Dari Toledo, buku-buku masuk ke wilayah Eropa barat, lalu pada akhirnya menemukan jalan ke perpustakaan-perpustakaan gereja dan biara.”

Tamim menambahkan, “Kemudian orang-orang Kristen itu mengolah apa yang ditemukan itu sesuai dengan apa yang menjadi seleranya. Karya-karya berbahasa Arab yang ditemukan di Andalusia mencakup banyak komentar oleh filsuf muslim seperti Ibn Sina (Avicenna) dan Ibn Rusyd (Averroes). Tulisan-tulisan mereka terfokus pada rekonsiliasi filsafat Yunani dengan wahyu Islam. Orang Kristen tidak terlalu tertarik pada pencapaian itu, sehingga mereka melucuti apa pun yang telah ditambahkan kaum muslim pada karya Aristoteles dan lain-lain serta mulai bekerja menggali bagaimana filsafat Yunani dapat diperdamaikan dengan wahyu Kristen. Berkat upaya ini, muncullah epik filsafat “skolastik” dari para pemikir seperti Thomas Aquinas, Duns Scotus, dan lain-lain. Lalu, hubungan muslim dengan karya-karya Yunani kuno pun dihapus dari memori budaya Eropa.”

Kemudian sedikit demi sedikit, di Eropa muncul komunitas-komunitas pembelajaran yang kemudian berbuah pada munculnya universitas-universitas pertama di Eropa. Tamim Ansary kembali mengetengahkan situasi ini. Menurutnya, ilmuwan Eropa mulai berdatangan ke biara-biara yang memiliki perpustakaan karena buku-buku itu ada di sana. Kemudian, calon-calon siswa mulai mendekati biara yang punya perpustakaan karena para sarjana ada di sana.

Sembari melanjutkan kajian mereka, para sarjana Eropa yang miskin itu mencari penghidupan dengan mengajar. Komunitas pembelajaran terbentuk di sekitar biara-biara dan berubah menjadi universitas-universitas pertama di Eropa. Salah satu yang paling awal muncul di sekitar Katedral Notre-Dame di Paris. Komunitas pembelajaran paling awal lainnya menjadi Universitas Naples. Lalu sebuah universitas berkembang pula di Oxford, Inggris.

Ketika terjadi perselisihan antara para sarjana di sana, kelompok pembangkang bermigrasi ke Cambridge dalam sekejap dan memulai komunitas belajar tersendiri. Dari gerakan seperti inilah kemudian di Eropa muncul gerakan Renaisans (Pencerahan), yang mengantarkan Eropa pada kemajuan peradabannya sampai sekarang.

Dari bumi Andalusia, mereka, orang-orang Eropa menemukan pencerahan itu. Alhasil, siapa pun yang mencarinya tentu akan mendapatkannya, tidak peduli latar belakang yang dimilikinya.

Lalu, bagaimana umat Islam sekarang? Sungguh memprihatinkan, mereka tampaknya tidak mengindahkan warisan semangat nenek moyang. Mereka sudah terlanjur silau melihat peradaban yang dicapai oleh Barat. Seolah mereka sudah kehilangan kekuatannya untuk membangun peradaban.

Teks-teks Alquran ataupun hadis seolah sudah tidak berdaya menyulut emosi mereka untuk mencari dan mendalami ilmu dari mana pun datangnya. Umat Islam seolah sudah merasa kalah menghadapi serangan musuh yang di matanya seperti raksasa yang sulit dikalahkan. Padahal apa yang mereka sangka itu belum tentu benar, karena mereka belum membuktikannya.

Melihat kondisi yang demikian, lalu apa yang seharusnya dilakukan? Berpangku tangan menerima kenyataan tanpa ada usaha sama sekali atau menghadapi realitas dengan kepala tegak berdiri mencari pencerahan kembali dengan mengais hikmah di reruntuhan peradaban Islam?

Tentunya, sebagai umat yang dalam Alquran telah diakui oleh Allah sebagai “khaira ummah” (sebaik-baik umat), harus mengencangkan ikat pinggang, membangun kembali peradaban yang disinari oleh keimanan yang kokoh dan semangat yang membara untuk terjun ke pentas keilmuan.

Menggali Inspirasi Kisah “Hayy ibnu Yaqdhan” karya Ibnu Thufail

Kembali ke bumi Andalusia. Dalam reruntuhan peradaban di sana, masih bisa ditemukan warisan karya dari tokoh ilmuwan muslim yang hidup pada masa Andalusia, yang masih dikuasai orang-orang muslim. Warisan karya itu, beberapa di antaranya telah dibawa ke Eropa dan dipelajari dengan saksama di sana pada abad pertengahan.

Dalam konteks tersebut, apa yang ingin saya lakukan adalah mencoba untuk melacak dan mencari hikmah dari karya-karya ilmuwan agung Andalusia untuk bisa dijadikan pijakan dalam mengusahakan pencerahan kembali peradaban ilmu dalam Islam. Salah satunya adalah karya Ibnu Thufail, yaitu kisah Hayy ibnu Yaqdhan.

Siapakah Ibn Thufail itu? Dialah bintang kebanggaan bumi Andalusia ketika masih menjadi mercusuar ilmu pengetahuan. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Muhammad bin Thufail al-Andalusi al-Qoisi. Lahir sekitar tahun 500 H/1106 M atau sekitar sembilan ratus empat tahun yang lalu di Wadi Asyir yang terletak di sebelah utara bagian timur kota Granada Spanyol.

Ibn Thufail bekerja sebagai seorang dokter, lalu memegang jabatan sebagai seorang menteri di Granada. Pada tahun 549 H/1154 M ia bergabung dengan pasukan tentara kaum Muwahidin di Afrika dan bertugas sebagai mata-mata Amir Abi Said bin Abdul Mu’min.

Pada tahun 558 H/1163 beliau menjadi dokter khusus Amir Abu Ya’qub Yusuf, Sultan kaum Muwahidin. Lalu, pada tahun 578 H/1182-1183 M Ibnu Thufail meninggalkan jabatannya dalam kesultanan Abi Ya’qub dan digantikan oleh muridnya, Ibnu Rusyd, salah satu filsuf agung dunia yang memiliki peranan penting dalam memberikan pencerahan pemikiran manusia.

Ibnu Thufail wafat pada tahun 581 H/1185 M di Marcia dan dimakamkan di sana. Menurut pendapat ilmuwan yang hidup setelah beliau, Ibnu Thufail memiliki karya-karya dalam bidang filsafat dan ilmu kosmologi. Namun, karya-karya yang terlacak sepeninggalnya hanya kisah Hayy ibnu Yaqdhan dan beberapa potongan risalah atau bait-bait syair yang tersebar di mana-mana.

Di antara hal yang menarik dan tidak boleh dilewatkan dalam mengenang Ibnu Thufail adalah bahwa ia adalah seorang guru yang menganjurkan dua orang muridnya, yaitu Nurudin Abi Ishaq Al-Bathruhi untuk mengkritik aturan Ptolemeus dan Ibnu Rusyd untuk meringkas dan memudahkan buku-buku Aristoteles.

Dari karya Ibnu Thufail Hayy ibnu Yaqdhan itu, kita mencoba untuk menggali inspirasi pemikiran sang bintang pengetahuan dari bumi Andalusia. Walaupun karyanya berupa karya sastra yang berbentuk cerita, namun tetap memiliki peranan dalam menjelaskan pemikiran filsafat penulisnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Simone de Beauvoir, orang yang menolak peranan karya sastra dalam menjelaskan pemikiran dan pendapat mereka mengenai filsafat adalah orang yang memisahkan bentuk (shurah) dari wujud benda. Selain itu, juga merupakan tindakan menghina sifat yang tampak tanpa menyebutkan hakikat yang menyatukan keduanya.

Sebab, jika kita tahu bahwa yang tampak adalah hakikat, sementara yang wujud adalah bentuk (shurah) benda, maka kita takkan mampu memisahkan senyuman dari wajah orang yang tersenyum. Atau dengan kata lain, memisahkan makna kejadian dari kejadian itu sendiri.

Kisah Hayy ibnu Yaqdhan menceritakan tentang seorang anak yang terlantar di hutan belantara yang masih perawan. Di tempat itu, ia diasuh oleh seekor rusa. Disebut dalam cerita itu, anak tersebut bernama Hayy ibnu Yaqdhan.

Hayy hidup jauh dari peradaban manusia. Di sebuah pulau terpencil tanpa ada manusia sama sekali selain ia sendiri. Yang ada hanya hewan-hewan liar yang berlalu-lalang mendiami hutan itu. Namun, dengan segala daya upaya yang dimilikinya, pada akhirnya ia menemukan hakikat dirinya sendiri dan menemukan kebenaran yang paling hakiki, yaitu “Al-Haq Al-Wajibul Wujud”. Bahkan lebih jauh dari itu, ia mampu sampai ke tingkatan di mana ia menyaksikan “Al-Haq Al-Wajibul Wujud” dalam alam Ilahiyah.

Yang menarik dari perjalanan pencarian kebenaran itu, adalah bahwa ia semata-mata mengandalkan kemampuannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya manusia itu mempunyai kemampuan untuk mengenal Tuhannya melalui percobaan-percobaan dan penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukannya dengan anugerah akal yang dimilikinya.

Namun demikian, apa yang disampaikan dalam buku itu bukan berarti meniadakan wahyu sebagai petunjuk utama dalam mengenal Tuhan, sebab pada akhirnya, setelah bertemu sosok Isal dan diajari tentang syariat agama, Hayy mengikuti ajaran agama Isal.

Persoalannya, ketika seorang peneliti sampai pada kesimpulan bahwa ada sesuatu yang menggerakkan alam ini, misalnya, peneliti akan dihadapkan pada dua pilihan: mempercayainya atau tidak mempercayainya. Dan dalam hal ini, sosok Hayy ibnu Yaqdhan yang digambarkan dalam kisah di atas memilih pilihan yang pertama, yaitu mempercayainya.

Sebelumnya, mungkin lebih tepat jika buku yang saya singgung di atas disebut novel, karena gaya kepenulisan yang memang menjurus ke sana.

Menariknya, novel ini pernah menggemparkan dunia Eropa pada abad pertengahan. Novel ini bahkan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti bahasa Latin, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia dan lain-lain.

Sebagai novel fiksi ilmiah, Hayy ibnu Yaqdhan dipandang sebagai novel yang mendahului zamannya, karena ternyata metode penulisan yang dilakukan oleh Ibnu Thufail ini banyak ditiru dan menjadi inspirasi penulis-penulis selanjutnya, terutama dari dunia Eropa.

Namun demikian, penting dicatat di sini, bahwa ketika novel tersebut menjadi inspirasi orang-orang Eropa, ternyata mereka tidak mengambil semua hikmah yang ada di dalamnya. Mereka hanya mengambil sebagian dan membuang sebagian yang lain. Mereka hanya terinspirasi dari sisi sainsnya dan mengesampingkan aspek ketuhanan yang ada dalam novel itu. Sehingga, apa yang diambilnya tidak utuh, atau semacam ada reduksi. Padahal tujuan pertama dan utama novel ini ditulis—seperti yang disampaikan Ibnu Thufail dalam prolognya—adalah untuk menjelaskan dan mengajarkan bagaimana seseorang itu bisa mencapai derajat tertinggi dalam dunia ilmu pengetahuan, yaitu mengenal Tuhannya.

Walaupun demikian, kontribusi novel ini bagi kemajuan dunia pikir Eropa tidak bisa dielakkan. Artinya, Renaisans yang terjadi di Eropa pada abad pertengahan, salah satu inspirasinya adalah pengaruh dari karya Ibnu Thufail itu.

Lalu, kalau demikian adanya, mungkinkah novel ini yang umurnya sudah ratusan tahun dan merupakan khazanah ilmu pengetahuan Islam mampu menggerakkan umat Islam untuk mendapatkan pencerahannya kembali dalam dunia keilmuan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu bukan perkara yang mudah. Melihat kondisi umat Islam yang belum juga menyadari sepenuhnya akan pentingnya budaya iqro’, sepertinya harapan adanya pencerahan peradaban ilmu dalam Islam masih butuh waktu yang panjang. Wallahu a’lam bis shawab.

BAGIKAN: