Tenaga Ahli Menteri Pertanian: Potensi Agribisnis Pesantren Dapat Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Bandung, MUI Digital – Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Prof Mat Syukur, menyatakan pesantren memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam memperkuat ketahanan nasional melalui pengembangan sektor agribisnis.
Potensi tersebut didukung oleh luasnya lahan wakaf yang dimiliki pesantren di berbagai daerah serta sumber daya yang dapat dikelola secara produktif.
Hal itu disampaikannya dalam Multaqa Ru'asa al-Ma'ahid II yang diselenggarakan oleh Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI), di STMIK AMIK, Bandung akhir pekan lalu.
Baca juga: Pra-KUII VIII, MUI Dorong Transformasi Kemandirian Ekonomi Pesantren yang Adaptif Zaman
Dalam pemaparannya, Prof Mat Syukur menjelaskan bahwa ribuan hektare lahan wakaf yang dimiliki pesantren merupakan aset ekonomi yang sangat besar apabila dikelola secara profesional.
Dia memperkenalkan konsep zonasi komoditas dan hilirisasi pertanian, yaitu pemanfaatan lahan sesuai karakter wilayah serta pengolahan hasil panen agar memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.
“Tanamlah komoditas yang sesuai dengan potensi wilayah, kemudian olah hasilnya agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi," ujar Prof Mat Syukur.
Dia mengingatkan agar aset wakaf tidak dibiarkan tanpa pemanfaatan yang produktif.
"Jangan biarkan tanah wakaf hanya ditumbuhi ilalang," kata dia.
Prof Mat Syukur menegaskan bahwa apabila potensi agribisnis tersebut dikembangkan secara optimal, pesantren tidak hanya mampu memperkuat kemandirian ekonominya, tetapi juga memberikan kontribusi yang lebih luas bagi bangsa.
"Pesantren dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional," ungkapnnya.
Paparan tersebut mendapat perhatian serius dari peserta Multaqa Ru'asa al-Ma'ahid II karena dinilai relevan dengan kondisi banyak pesantren yang memiliki aset lahan cukup luas, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Pengembangan agribisnis berbasis pesantren dinilai dapat menjadi salah satu model pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kontribusi pesantren terhadap ketahanan pangan dan pembangunan nasional.