Lewati ke konten utama
Kamis, 1 Oktober 2026 / 19 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Bendera Amerika Serikat- Photo by Paul-Alain Hunt on Unsplash
Bendera Amerika Serikat- Photo by Paul-Alain Hunt on Unsplash
Berita

Studi Ungkap Ujaran Kebencian Anti-Asia Selatan di X Meningkat 240 Persen di AS

Studi Ungkap Ujaran Kebencian Anti-Asia Selatan di X Meningkat 240 Persen di AS

/ 19 Rabiul Akhir 1448 H 5 menit baca 74 dibaca

New York, MUI Digital — Ujaran kebencian terhadap masyarakat Asia Selatan di Amerika Serikat meningkat tajam di media sosial X. 

Laporan Center for the Study of Organized Hate (CSOH) mencatat volume unggahan kebencian terhadap warga Asia Selatan meningkat 240 persen antara Januari 2024 dan Juni 2026.

Laporan berjudul The Rising Tide of Anti-South Asian Hate in the United States yang diterbitkan pada Ahad (27/9/2026) menemukan jumlah unggahan kebencian bulanan di X meningkat dari 12.904 unggahan pada Januari 2024 menjadi 43.843 unggahan pada Juni 2026. 

Dikutip MUI Digital dari Aljazeera Selasa (29/9/2026), peneliti mengidentifikasi sekitar 542.360 unggahan kebencian terhadap masyarakat Asia Selatan di X sepanjang Januari 2025 hingga Juni 2026.

Peneliti menggunakan definisi ujaran kebencian yang merujuk pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Mereka mengumpulkan unggahan berdasarkan kata kunci dan narasi tertentu, kemudian melakukan peninjauan untuk membedakan konten kebencian dari kritik yang tidak memenuhi kriteria tersebut.

Laporan tersebut menemukan bahwa sekitar 45 persen unggahan kebencian di X menggambarkan masyarakat Asia Selatan sebagai kelompok yang “menginvasi” Amerika Serikat, mengambil lapangan pekerjaan, atau menjadi ancaman demografis. 

Narasi tersebut antara lain dikaitkan dengan perdebatan mengenai imigrasi dan program visa H-1B.

Sementara itu, hinaan rasial “pajeet” dan variasinya ditemukan dalam sekitar 30 persen unggahan kebencian di X. 

Pada platform yang disebut sebagai platform fringe seperti 4chan, 8chan, dan Gab, istilah tersebut muncul dalam sekitar 45 persen konten yang teridentifikasi sebagai kebencian.

Narasi yang menggambarkan masyarakat Asia Selatan sebagai kelompok yang kotor atau tidak higienis juga mengalami peningkatan. 

CSOH mencatat unggahan dengan narasi tersebut meningkat 171 persen di X antara Januari 2025 dan Juni 2026, menjadi peningkatan tercepat di antara narasi yang dianalisis dalam laporan tersebut.

Laporan itu juga mencatat bahwa ujaran kebencian kerap mencampuradukkan identitas etnis dan agama. Masyarakat India, Pakistan, dan Bangladesh disebut kerap diperlakukan sebagai satu kelompok, sementara umat Hindu, Muslim, Sikh, dan Kristen dari Asia Selatan juga digambarkan secara homogen.

Dikaitkan dengan isu imigrasi

Para peneliti menyebut kebencian terhadap masyarakat Asia Selatan bukan fenomena baru di Amerika Serikat. 

Namun, laporan tersebut mengaitkan peningkatan terbaru dengan sejumlah perkembangan politik dan ekonomi, termasuk kebijakan imigrasi, perdebatan mengenai visa H-1B, retorika politik, serta meningkatnya visibilitas masyarakat Asia Selatan dalam kehidupan publik Amerika.

Program visa H-1B menjadi salah satu isu yang banyak muncul dalam narasi kebencian. Program tersebut memungkinkan perusahaan Amerika mempekerjakan pekerja asing dengan keahlian tertentu. Menurut laporan CSOH, warga negara India mencakup sekitar 71 persen pemegang visa H-1B pada 2024.

CSOH juga menyoroti sejumlah kebijakan dan pernyataan pemerintah AS yang menurut peneliti berkontribusi terhadap meningkatnya permusuhan terhadap masyarakat Asia Selatan.

Salah satu yang disebut adalah perdebatan mengenai H-1B dan kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Laporan tersebut juga menyoroti unggahan akun resmi Departemen Keamanan Dalam Negeri AS pada September 2026 yang menampilkan gambar bertuliskan “Transformers: Age of Deportations”.

Gambar tersebut menampilkan sosok Sikh yang disebut “Mr Singh” dan disertai pesan “get off our roads”. Unggahan tersebut kemudian dihapus pada 10 September 2026.

CSOH juga mencatat unggahan Departemen Pendidikan AS pada 21 September 2026 dengan tulisan “Make Football Great Again”.

Laporan tersebut mengaitkannya dengan unggahan politikus Partai Republik Texas, Bo French, mengenai keberadaan masyarakat Asia Selatan di pertandingan sepak bola Universitas Texas.

Menurut laporan CSOH, perubahan narasi mengenai masyarakat Asia Selatan juga terlihat dari stereotip yang berkembang di ruang digital. 

Warga keturunan India yang sebelumnya kerap digambarkan sebagai “minoritas teladan” dalam wacana Amerika kini, dalam sebagian konten daring, dituduh sebagai pihak yang mengambil lapangan kerja atau memanfaatkan sistem imigrasi.

Peneliti mengaitkan sebagian narasi tersebut dengan kecemasan ekonomi dan persaingan pekerjaan. Mereka juga menemukan narasi yang menggambarkan masyarakat Asia Selatan sebagai ancaman demografis bagi Amerika Serikat.

Laporan tersebut mencatat meningkatnya serangan terhadap tokoh masyarakat Asia Selatan dari berbagai latar belakang politik. 

Peneliti juga menyoroti meningkatnya visibilitas masyarakat Asia Selatan dalam politik Amerika sebagai salah satu faktor yang muncul bersamaan dengan gelombang serangan daring tersebut.

CSOH menemukan bahwa sejumlah akun di X melakukan doxxing, yaitu menyebarkan informasi pribadi seseorang secara daring. Beberapa unggahan menuduh warga Asia Selatan mengambil pekerjaan warga Amerika atau melakukan penipuan terkait visa.

Laporan tersebut juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan generatif untuk menghasilkan gambar dan video yang memuat stereotip rasial. 

Menurut peneliti, teknologi tersebut mempermudah pembuatan dan penyebaran konten yang menggambarkan masyarakat Asia Selatan secara merendahkan.

CSOH menilai kebencian daring tidak berdiri sendiri dari permusuhan di dunia nyata. Laporan itu mencatat sejumlah kasus kekerasan terhadap masyarakat Asia Selatan, termasuk penikaman terhadap seorang pekerja mal Muslim keturunan India di Utah pada Juli 2026 yang oleh jaksa federal didakwa sebagai kejahatan kebencian.

Pada September 2026, seorang pengemudi truk Sikh juga ditikam 17 kali dalam sebuah serangan di tempat peristirahatan truk di Wyoming.

CSOH menyebut kedua peristiwa tersebut dalam konteks meningkatnya kekhawatiran terhadap kekerasan yang menyasar masyarakat Asia Selatan.

Menurut CSOH, perkembangan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara narasi yang beredar di ruang digital dengan bentuk-bentuk permusuhan di dunia nyata. 

Peneliti menilai narasi, stereotip, dan penghinaan dapat berpindah antara media sosial, wacana politik, pemberitaan, dan kehidupan sehari-hari.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa peningkatan ujaran kebencian terhadap masyarakat Asia Selatan perlu dilihat dalam konteks perkembangan lingkungan politik dan digital Amerika Serikat, serta perubahan cara kebencian berbasis identitas diproduksi, diperkuat, dan disebarkan melalui media sosial.    

BAGIKAN: