Lewati ke konten utama
Rabu, 29 Juli 2026 / 14 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Sebut AI Ancam Tradisi Keagamaan, Kiai Masduki Ingatkan Sanad Ilmu Jangan Hancur Oleh Algoritma

5 menit baca 95 dibaca
Masduki Baidlowi
Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi (kiri) saat membuka sekaligus menjadi Keynote Speaker dalam Workshop “Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI” yang digelar Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Foto: Junaidi/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital-Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi, mengingatkan terkait pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap masa depan tradisi keagamaan di Indonesia.

Kiai Masduki, begitu akrab disapa, menekankan bahwa sistem sanad ilmu dan hubungan guru-murid yang menjadi fondasi keislaman Nusantara tidak boleh sampai tergerus apalagi dihancurkan oleh algoritma digital.

Pesan tersebut disampaikannya saat membuka sekaligus menjadi Keynote Speaker dalam Workshop “Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI” yang digelar Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

​Kiai Masduki menyoroti perkembangan AI yang kini tidak lagi sebatas membuat konten visual atau teks biasa, melainkan telah berevolusi menjadi AI Agent yang mampu merencanakan, mendiskusikan, hingga mengeksekusi keputusan secara rinci.

Menurutnya, jika lembaga keagamaan seperti MUI tidak menyiapkan SDM unggul berkapasitas tinggi, peran ulama dan institusi keagamaan akan perlahan tersingkir dari kehidupan anak muda.

Baca juga: Gandeng Baznas, Komisi Infokomdigi MUI Gelar Workshop AI Siapkan Mujahid Digital

"Anak muda hari ini mencari ekspresi keagamaan lewat AI avatar dan algoritma," kata dia mengungkapkan.

Dia menjelaskan, ketika mereka bertanya dan algoritma menjawab sesuai selera mereka, terjadi fenomena echo chamber atau ruang gema. Mereka hanya akan mengonsumsi informasi yang cocok dan mengesampingkan yang lain tanpa adanya cross-check. 

"Ini sangat berbahaya karena sistem sanad kita, tradisi belajar guru dan murid, bisa dihancurkan oleh sistem digital jika kita pasif," kata Kiai Masduki menegaskan.

Kiai Masduki menambahkan bahwa karakter generasi muda dalam beragama kini mengalami dekonstelasi, di mana agama kerap dipahami sebagai bentuk ekspresi ego dan kenyamanan pribadi, bukan lagi pencarian hidayah secara berproses bersama guru Rabbani. 

Baca juga: Menag: Hasil KUII VIII akan Kami Jadikan Program Kerja Pemerintah

"Akibatnya, jawaban-jawaban serba instan dari platform digital berpotensi memutus mata rantai pemahaman agama yang damai (wasathiyah) dan sahih," tutur dia.

​Meski demikian, Kiai Masduki menegaskan bahwa AI sejatinya adalah alat (tool) yang harus ditaklukkan oleh manusia, bukan sebaliknya.

AI harus dimanfaatkan sebagai sarana efisien untuk menyebarkan nilai keselamatan (assalam), mempermudah layanan keagamaan seperti zakat, hingga membantu proses belajar mengaji yang tetap berada di bawah verifikasi (cross-check) para ulama.

​"MUI harus diisi oleh orang-orang berkapasitas tinggi agar dipercaya generasi muda," ujar dia.

Dia mengingatkan MUI tidak boleh menjadi lembaga medioker yang hanya tahu menyalahkan orang lain. AI ini adalah alat efektif jika dikuasai, bisa mengarahkan konten-konten digital untuk menyebarkan pesan Islam yang moderat, membawa rasa aman, dan merawat tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama Nusantara.

Sementara itu, Ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, menyatakan tantangan dakwah di era modern bukan lagi sebatas penyampaian materi secara konvensional, melainkan pertarungan memenangkan perhatian publik di media sosial melalui pemahaman algoritma dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

"Saat ini kita menghadapi fenomena perang algoritma," ujar pria yang akrab disapa Cak Usma tersebut.

Baca juga:Di KUII VIII, MUI Gandeng UI Kembangkan Artificial Intelligence untuk Kemajuan Bangsa

Dia pun mengingatkan jangan sampai konten keislaman yang menyejukkan dan sahih justru kalah bersaing dengan konten-konten instan yang merusak peradaban, seperti maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal, propaganda LGBTQ, hingga fenomena figur yang hanya mengandalkan popularitas tetapi berani mengeluarkan pandangan keagamaan tanpa dasar ilmiah. 

Cak Usma menjelaskan, perkembangan AI memang membawa tantangan serius berupa manipulasi konten (deepfake), penyebaran informasi yang tidak akurat, hingga maraknya konten keagamaan tanpa proses verifikasi. Namun di sisi lain, AI menyimpan potensi raksasa yang harus direbut umat Islam untuk memperluas dakwah dan literasi keagamaan.

Baca juga:Menag: Hasil KUII VIII akan Kami Jadikan Program Kerja Pemerintah

Oleh karena itu, dalam posisinya sebagai Khadimul Ummah (pelayan umat) dan Shodiqul Ummah (mitra masyarakat dan pemerintah), MUI mendorong lahirnya para Mujahid Digital yang tidak hanya bertindak sebagai penonton atau konsumen teknologi, tetapi juga mampu menguasai teknis produksi dan distribusi narasi digital.

Berbeda dari seminar umum yang kerap berfokus pada wacana akademis, workshop ini dirancang khusus dengan pendekatan berbasis tindakan (action-oriented). Komposisi materi yang disajikan mencakup 40 persen teori dan 60 persen praktik teknis secara mendalam.

Para peserta yang didominasi yang didominasi oleh generasi muda dari perwakilan MUI daerah, pengelola media komisi badan dan lembaga, Baznas, hingga influencer, dibekali berbagai keahlian terapan, di antaranya, penguasaan prompt engineering, generative engine optimization (GEO), produksi konten media, manajemen dan amplifikasi. 

Baca juga:KUII VIII Cetuskan 12 Rekomendasi Strategis, Ini Beberapa Poin Globalnya

"Kami ingin setiap peserta yang hadir tidak keluar masuk dan benar-benar fokus," tutur Cak Usma. 

Dia mengatakan, output dari kegiatan ini adalah karya nyata. Peserta tidak pulang dengan tangan kosong, melainkan membawa bank prompt AI, jadwal publikasi, serta materi yang siap rilis untuk mengamplifikasi pesan-pesan Islam yang moderat dan mencerahkan.

Lebih lanjut, Cak Usma menyoroti pentingnya peran generasi muda produktif sebagai tulang punggung menyongsong Indonesia Emas 2045. Para pegiat digital muda ini diharapkan dapat mengintegrasikan keahlian teknis mereka dengan kedalaman ilmu para kiai dan ulama senior di lingkungan MUI.

Baca juga:Mendikdasmen Abdul Mu'ti Soroti Soal Pendidikan hingga Bahaya Narkoba di KUII VIII

"Banyak pengurus dan ulama kita yang sangat expert di bidangnya namun sudah sepuh. Di sinilah peran adik-adik peserta yang muda ini untuk melakukan pendampingan. Kalian yang menguasai perangkat AI dan algoritmanya, tetapi substansi, validasi dalil, dan etika syariatnya tetap bersumber dari arahan para ulama," tambahnya.

Langkah konkret yang diinisiasi Infokomdigi MUI dan Baznas RI ini sekaligus menjadi bentuk implementasi nyata dari rekomendasi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII, yang menempatkan transformasi digital sebagai agenda prioritas nasional demi merawat peradaban bangsa yang damai, makmur, dan berakhlaqul karimah.