Lewati ke konten utama
Sabtu, 3 Oktober 2026 / 21 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
04dde03e-224e-48d6-aaa9-fefd7b08bc42
Berita

Sambut Cucu Syekh Bin Bayyah, Ketum MUI Tekankan Islam Wasathiyyah dan Perdamaian Dunia

Sambut Cucu Syekh Bin Bayyah, Ketum MUI Tekankan Islam Wasathiyyah dan Perdamaian Dunia

/ 21 Rabiul Akhir 1448 H 2 menit baca 182 dibaca

JAKARTA, MUI Digital— Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerima kunjungan delegasi Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).

Kunjungan tersebut berlangsung bertepatan dengan Simposium Ilmiah bertajuk Pembentukan Fatwa dan Fikih Realitas Menurut Al-Allamah Abdullah bin Bayyah.

Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, didampingi Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, menerima Peneliti Senior Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian Dr Muhammad Mahbub bin Bayyah. Ia merupakan cucu ulama terkemuka Syekh Abdullah bin Bayyah.

Dalam kunjungan tersebut, hadir pula mantan Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Islam, Dr Muhammad Sholahuddin Al-Mustawi.

Pertemuan itu kemudian membahas pentingnya memperkuat pemikiran Islam Wasathiyyah dan nilai-nilai perdamaian dunia (as-silm). 

Kiai Anwar mengaitkan hal tersebut dengan kondisi geopolitik dan geoekonomi global yang kian tidak menentu.

“Kedatangan beliau berdua dan rombongan ini akan memberikan satu pemahaman dan kerja sama tentang pentingnya wasathiyyah, pemikiran tawassuth, serta perdamaian dunia. Keadaan dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja dan itu berbahaya bagi masa depan umat manusia,” ujar Kiai Anwar.

Pembahasan tersebut berlanjut pada gagasan fikih realitas yang diusung Syekh Abdullah bin Bayyah. 

Wakil Rais Aam PBNU ini menilai fikih realitas menjadi salah satu solusi konkret dalam menghadapi berbagai dinamika krisis global.

Gagasan tentang Islam Wasathiyyah dan perdamaian itu juga ia kaitkan dengan prinsip keberagaman. 

Mengutip Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 143 dan Al-Hujurat ayat 13, Kiai Anwar mengingatkan bahwa keberagaman diciptakan agar manusia saling mengenal, menghormati, dan hidup berdampingan secara damai.

“Betapapun kita berbeda latar belakang, baik suku, bangsa, bahasa, bahkan agama, prinsip-prinsip universal kemanusiaan harus tetap kita jaga,” terangnya. 

“Hari ini kita membangun kesepahaman antara dua bangsa dan sesama muslim agar dunia diterangi oleh kedamaian,” imbuhnya. 

BAGIKAN: