Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Kiai Marsudi Syuhud: Pesantren Harus Beradaptasi tanpa Kehilangan Jati Diri

4 menit baca 342 dibaca
Marsudi Syuhud
Waketum MUI, KH Marsudi Syuhud, dalam forum Multaqa Ru'asa Al-Ma'ahid yang merupakan rangkaian Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Pesantren Al Amien, Kediri, Kamis (11/6/2026). Foto: Junaidi/ MUI Digital
Bagikan:

Kediri, MUI Digital – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Marsudi Syuhud, mengingatkan pesantren harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter dan kekhasan masing-masing. 

Hal itu disampaikannya dalam forum Multaqa Ru'asa Al-Ma'ahid yang merupakan rangkaian Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Pesantren Al Amien, Kediri, Kamis (11/6/2026).

Kiai Marsudi menceritakan pengalaman pribadinya sebagai santri yang tumbuh dalam tradisi pesantren salaf. 

Pada masa itu, menurutnya, pendidikan pesantren berfokus pada penguasaan kitab-kitab klasik dengan sistem pembelajaran yang sangat kuat dalam aspek keilmuan agama.

Dia menjelaskan bahwa pesantren telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Jika dahulu sebagian besar pesantren hanya memberikan pengakuan keilmuan secara internal, kini pemerintah telah hadir melalui berbagai kebijakan yang mengakui sistem pendidikan pesantren, termasuk program muadalah hingga Mahad Aly.

"Muadalah datang, berarti pemerintah datang. Yang tadinya ijazah pesantren hanya diakui di lingkungan pesantren sendiri, sekarang mendapat pengakuan yang lebih luas dari pemerintah dan masyarakat," ujarnya.

Menurut Kiai Marsudi, perkembangan tersebut terus berlanjut hingga jenjang pendidikan tinggi. 

Baca juga: Multaqa Ru’asa al-Ma’ahid Rekomendasikan Bentuk Satgas Anti Kekerasan di Pesantren

Mahad Aly yang sebelumnya hanya berada pada level tertentu kini terus berkembang dan berpotensi mencapai jenjang yang lebih tinggi seiring meningkatnya dukungan pemerintah terhadap pendidikan pesantren.

Meski demikian, dia menekankan bahwa keberagaman model pesantren harus tetap dijaga. Pesantren salaf murni, pesantren modern, maupun pesantren yang memadukan sistem salaf dengan pendidikan formal memiliki peran dan segmen masing-masing di tengah masyarakat.

"Yang seperti Lirboyo, ya biarkan berkembang sebagai Lirboyo. Yang seperti Gontor, berkembang sebagai Gontor. Yang salaf plus sekolah formal juga berkembang. Semua itu menjadi pilihan umat dan kebutuhan masyarakat," katanya.

Dia mengingatkan agar tidak terjadi penyeragaman yang justru menghilangkan kekhasan pesantren. 

Menurutnya, diferensiasi menjadi penting karena setiap pesantren memiliki keunggulan dan kontribusi yang berbeda dalam mencetak kader ulama maupun pemimpin umat.

Baca juga: Multaqa Ru'asa Al-Ma'ahid Soroti Pentingnya Perlindungan Anak dan Penguatan Citra Positif Pesantren

Kiai Marsudi juga menyoroti semakin ketatnya persaingan antar pesantren seiring bertambahnya jumlah lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah. Karena itu, setiap pesantren perlu memiliki keunggulan dan ciri khas yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

"Diferensiasi menjadi penting. Setiap pesantren perlu memiliki karakter dan keunggulan masing-masing agar tetap relevan dengan perkembangan zaman," jelasnya.

Lebih lanjut, dia menilai bahwa perubahan yang terjadi di lingkungan pesantren merupakan bentuk adaptasi terhadap perkembangan dakwah dan kebutuhan umat. 

Kemajuan teknologi, misalnya, telah membuat akses terhadap kitab dan sumber ilmu menjadi jauh lebih mudah dibandingkan masa lalu.

"Dulu membeli kitab harus menjual sapi atau sawah. Sekarang cukup melalui perangkat digital sudah bisa mengakses berbagai kitab dan referensi keilmuan," ungkapnya.

Baca juga: Komisi Pesantren MUI Gelar Multaqa Ru’asa al-Ma’ahid di Ponpes Al-Amien Kediri

Dalam kesempatan itu, Kiai Marsudi juga menegaskan bahwa pesantren sejatinya telah lama melahirkan jiwa kewirausahaan. 

Menurutnya, para kiai merupakan sosok entrepreneur yang membangun lembaga pendidikan dari kondisi yang sangat sederhana hingga berkembang menjadi pusat pendidikan dan dakwah yang besar.

"Kiai itu entrepreneur. Dari yang tidak ada menjadi ada. Dari belum ada musala menjadi ada musala, belum ada madrasah menjadi ada madrasah, lalu berkembang menjadi pesantren yang besar," ujarnya.


Berdasarkan pengalaman kunjungannya ke berbagai negara, termasuk wilayah-wilayah konflik di dunia Islam, Kiai Marsudi menilai sistem pendidikan pesantren Indonesia memiliki banyak keunggulan dan bahkan layak menjadi rujukan bagi dunia internasional.

"Saya melihat pendidikan pesantren Indonesia tidak tertinggal. Bahkan dalam banyak aspek sudah bisa menjadi referensi bagi dunia Islam," katanya.

Di akhir pemaparannya, dia mendorong pesantren untuk memperluas dakwah dan pengabdian ke kawasan Indonesia Timur yang menurutnya masih membutuhkan banyak tenaga pendidik dan kader dakwah.

"Kalau Sumatera sudah mulai banyak pesantren. Yang masih perlu diperkuat adalah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. Kirimkan santri-santri terbaik ke sana untuk berdakwah dan membangun umat," pesannya.

Kiai Marsudi berharap pesantren terus menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga warisan keilmuan Islam yang telah diwariskan para ulama.