Kiai Marsudi: Pesantren Tak Hanya Melahirkan Ijazah Akademik, tetapi Juga Ijazah Spiritual
Kediri, MUI Digital – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Marsudi Syuhud, menyatakan kekuatan pesantren tidak hanya terletak pada pengakuan akademik melalui ijazah formal, tetapi juga pada tradisi pemberian ijazah pondok yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren sejak dahulu.
Saat menjadi narasumber dalam forum Multaqa Ru'asa Al-Ma'ahid di Pesantren Al Amien, Kediri, Kamis (11/6/2026) lalu, Kiai Marsudi mengisahkan pengalamannya sebagai santri yang merasakan langsung perkembangan sistem pendidikan pesantren dari masa ke masa.
Menurutnya, pada masa lalu banyak pesantren belum mengenal sistem ijazah formal seperti sekarang. Namun para santri tetap memperoleh pengakuan keilmuan melalui sanad keilmuan dan ijazah amaliah yang diberikan langsung oleh para kiai.
"Saya mendapatkan tiga macam ijazah, yaitu ijazah tertulis, ijazah spiritual berupa amalan-amalan, dan ijazah berupa pengakuan keilmuan dari guru kepada murid," ujarnya kiai Marsudi.
Dia menjelaskan bahwa tradisi ijazah pondok merupakan salah satu kekayaan pesantren yang perlu dijaga. Melalui tradisi tersebut, seorang santri tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga memperoleh bimbingan amaliah dan nilai-nilai keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Meski demikian, Kiai Marsudi mengakui bahwa perkembangan zaman menuntut pesantren untuk terus beradaptasi. Kehadiran pemerintah melalui program muadalah hingga Mahad Aly menjadi bentuk pengakuan terhadap sistem pendidikan pesantren yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.
Baca juga: Ketum MUI: Frasa "Membantu" dalam UU Pesantren Itu Menyakitkan!
"Muadalah datang, berarti pemerintah datang. Yang sebelumnya hanya diakui di lingkungan pesantren, kini semakin mendapat pengakuan secara luas," katanya.
Menurut Kiai Marsudi, perkembangan tersebut tidak boleh menghilangkan identitas pesantren. Dia berharap pesantren tetap menjaga tradisi keilmuan dan keagamaan yang selama ini menjadi kekuatan utama pendidikan pesantren.
"Selain ijazah formal, pesantren memiliki kekayaan berupa ijazah spiritual dan sanad keilmuan yang harus tetap dipelihara sebagai bagian dari warisan ulama," tegasnya.
Baca juga: Kiai Marsudi Syuhud: Pesantren Harus Beradaptasi tanpa Kehilangan Jati Diri
Dia menambahkan, keberagaman model pesantren juga perlu terus dijaga agar masyarakat memiliki banyak pilihan dalam menempuh pendidikan keislaman.
Pesantren salaf, pesantren modern, maupun pesantren yang memadukan pendidikan agama dan formal memiliki kontribusi masing-masing dalam membangun umat dan bangsa.
Di akhir pemaparannya, Kiai Marsudi mengajak para kiai dan pengelola pesantren untuk terus memperkuat kualitas pendidikan sekaligus memperluas dakwah ke berbagai daerah, khususnya wilayah Indonesia Timur yang masih membutuhkan banyak kader pendakwah dan pendidik Islam.