Lewati ke konten utama
Kamis, 24 September 2026 / 12 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
1000580138
Berita

Dengar Azan Setiap Pukul 2 Pagi, Mualaf Ini Bertahan hingga Raih Gelar S2 Tanpa Dukungan Keluarga

Dengar Azan Setiap Pukul 2 Pagi, Mualaf Ini Bertahan hingga Raih Gelar S2 Tanpa Dukungan Keluarga

/ 12 Rabiul Akhir 1448 H 6 menit baca 61 dibaca

Bogor, Jawa Barat, MUI Digital — Setiap pukul 02.00 dini hari selama sepekan, Lubna Puteri Azzahra mendengar suara azan di telinganya. Bukan dari masjid, bukan pula dari orang di sekitarnya. Suara itu justru terdengar dari telinga kiri hingga kanan, membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang ia alami.

Lubna Puteri Azzahra, yang sebelumnya bernama Sri Agustina Nadeak, merupakan salah satu dari 43 mualaf dari berbagai daerah yang mengikuti Bootcamp Muharrik Mualaf 2026 yang diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Mualaf Majelis Ulama Indonesia (LP2M MUI) pada 18–20 September 2026 di Jakarta dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan bertajuk “Dari Mualaf Menjadi Muharrik: Tumbuh dalam Islam, Berdaya untuk Kemaslahatan” tersebut membekali peserta dengan pemahaman keislaman, keterampilan usaha, serta kemampuan membangun jejaring dan menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.

Di tengah puluhan peserta, Lubna membawa kisah panjang tentang perjalanan menemukan keyakinan sekaligus mempertahankan hidup sebagai perantau.

Saat memutuskan memeluk Islam, Lubna masih berusia 19 tahun. Ia datang ke Jakarta untuk kuliah dan tinggal seorang diri. Pada masa itu, ia mengalami sesuatu yang hingga kini masih sulit ia jelaskan.

“Setiap jam 2 malam selama satu minggu. Bukan dengar dari masjid, bukan dengar dari orang. Tapi di kuping di kiri dan di kanan,” ujar Lubna saat menceritakan pengalamannya kepada tim MUI Digital di Villa Bukit Pinus, Caringin, Kabupaten Bogor, Sabtu (19/9/2026).

Lubna kemudian mencari tahu suara yang terus terdengar tersebut. Ia mengetahui bahwa suara itu adalah azan, tetapi belum memahami apa maknanya bagi dirinya.

Setelah mencari tahu lebih jauh, ia memutuskan pergi ke Masjid Agung Sunda Kelapa. Menurut Lubna, pengalaman itu kemudian ia maknai sebagai sebuah petunjuk yang menggerakkan hatinya untuk semakin memantapkan keputusan bersyahadat dan memeluk Islam.

Namun, keputusan tersebut membawa konsekuensi besar. Dukungan dari orang tua dan keluarga perlahan berkurang hingga akhirnya terhenti. 

“Dukungan-dukungan dari orang tua, keluarga itu berkurang dan di stop sama sekali. Komunikasi, support mental itu nggak ada,” tuturnya.

Pada saat yang sama, Lubna tetap harus menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan perantau. Kondisi ekonomi membuatnya bahkan harus memilih antara membayar biaya kuliah atau mempertahankan tempat tinggal.

“Kalau aku bayar uang kuliah, aku tuh nggak bisa bayar kosan. Kalau nggak bisa bayar kosan mau tinggal di mana. Akhirnya aku memutuskan untuk bayar kosan aja deh kuliah nanti,” jelasnya.

Usianya yang masih 19 tahun dan belum memiliki pengalaman kerja membuat pencarian pekerjaan tidak mudah. Ia mengirimkan lamaran ke berbagai tempat, tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan.

Sampai akhirnya, pekerjaan sebagai penggoreng pisang menjadi salah satu jalan baginya untuk bertahan. 

Selama kurang lebih dua tahun, ia menjalani pekerjaan tersebut dengan penghasilan sekitar Rp1,8 juta.

Di tengah beban sebagai perantau dan seorang anak yang memilih jalan berbeda dari keluarganya, Lubna tetap memelihara keinginan untuk kembali berkuliah.

“Aku berpikir ada beban ganda sebagai perantau dan juga sebagai yang memilih jalan berbeda dari orang tua. Kayaknya dengan gaji yang waktu itu cuma 1.800.000. Akhirnya memilih, ah gimana pun aku harus kuliah deh. Mimpi itu tetap ada nyala dalam diri,” ungkapnya.

Lubna kemudian mencari kampus yang sesuai dengan kemampuan finansialnya. Pandemi Covid-19 saat itu membuka kemungkinan baginya untuk mengikuti perkuliahan secara daring. Pilihan pembayaran biaya kuliah secara cicilan juga membantu Lubna kembali melanjutkan pendidikan.

Dalam prosesnya, pertemuan dengan teman dan senior di kampus maupun komunitas membuka kesempatan-kesempatan baru. Ia mulai mendapatkan rekomendasi pekerjaan hingga perlahan kondisi kehidupannya membaik.

“Pelan-pelan jalan hidup kayaknya melalui orang yang kukenal dibukakan sama Allah. Alhamdulillah,” kenangnya.

Perjuangan itu akhirnya berbuah hasil. Lubna berhasil menyelesaikan pendidikan S1. Setelah itu, ia mengabarkan pencapaiannya kepada orang tua dan mengundang mereka datang ke Jakarta.

Kedatangan orang tua menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Orang tua yang sebelumnya meragukan keputusannya akhirnya melihat sendiri bahwa Lubna mampu menyelesaikan pendidikan. 

“Anggapan mereka kan waktu itu, anak ini salah jalan atau bergaul sama siapa sih. Tapi akhirnya selesai,” tambahnya.

Tidak berhenti pada S1, Lubna kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Program yang seharusnya ditempuh selama 18 bulan berhasil ia selesaikan hanya dalam waktu 12 bulan.

Ketika orang tuanya kembali datang, Lubna mengalami momen yang membuat perjalanan panjang itu terasa semakin berarti. Ia melihat kedua orang tuanya menangis.

“Dan orang tua datang lagi. Akhirnya di situ yang pertama kali aku lihat mama sama bapak itu nangis,” ucapnya.

Bagi Lubna, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan keadaan tidak harus memadamkan mimpi. Ia yang pernah bekerja sebagai penggoreng pisang akhirnya mampu menempuh pendidikan hingga S2.

“Siapa sangka seorang penggoreng pisang ternyata bisa kok, kuliah S1, S2 bisa. Dan bisa jadi pengacara juga bisa. Dan gak ada yang gak mungkin gitu,” tegasnya.

Lubna mengaku masih memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi apabila Allah kembali membukakan jalan. Ia meyakini ilmu dapat menjadi jalan untuk meningkatkan derajat sekaligus memberi manfaat bagi orang lain.

“Aku percaya dan sangat meyakini kalau Allah itu akan mengangkat derajat orang-orang berilmu,” ujarnya.

Tujuh tahun perjalanan sebagai mualaf juga membentuk cara pandangnya tentang pilihan hidup. Menurutnya, setiap pilihan memiliki konsekuensi, termasuk ketika seseorang memilih untuk tidak mengambil keputusan.

“Setiap pilihan itu punya konsekuensi masing-masing. Bahkan saat kita tidak memilih pun ada konsekuensinya dalam diri kita,” katanya.

Lubna pun berpesan kepada anak muda yang sedang menghadapi keraguan agar tetap merawat harapan. “Yang perlu kita tekankan itu tetap merawat harapan, tetap semangat. Mungkin hari ini hujan, tapi besok belum tentu hujan. Bahkan terang aja ada waktunya, malam ada waktunya,” pesannya.

Kini, Lubna kembali mencari ruang untuk belajar dan bertumbuh melalui Bootcamp Muharrik Mualaf 2026. Baginya, kegiatan tersebut bukan sekadar tempat mendapatkan pengetahuan agama, tetapi juga ruang untuk menemukan lingkungan yang dapat memberi rasa kekeluargaan.

“Saya masih sangat membutuhkan yang namanya keluarga. Mungkin bukan keluarga sedarah, tapi seiman,” ungkapnya.

Melalui bootcamp tersebut, ia berharap dapat bertemu dengan teman-teman baru, berbagi pengalaman, serta mendapatkan ilmu dan wawasan dari para narasumber.

Lubna juga berharap semangat belajar agamanya kembali tumbuh, sehingga perjalanan hidup yang telah dilaluinya tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi dapat menjadi jalan untuk memberi manfaat bagi orang lain.

“Untuk menghidupkan kembali semangat saya untuk belajar agama. Untuk tetap melanjutkan hidup dan bagaimana bermanfaat untuk saya dan untuk yang lain,” pungkasnya.

Dari suara azan yang terdengar setiap pukul 02.00 dini hari hingga perjuangan bertahan hidup sebagai perantau, perjalanan Lubna tidak berhenti pada keputusan memeluk Islam. Ia terus melangkah, dari menjadi penggoreng pisang hingga menyelesaikan pendidikan S1 dan S2.

Kini, di usia 27 tahun, ia masih menyimpan mimpi untuk terus belajar. Baginya, selama harapan tetap dirawat, jalan untuk tumbuh dan menjadi pribadi yang bermanfaat selalu mungkin terbuka.

BAGIKAN: