Bagaimana Membangun Pesantren Ramah Anak? Ini Kunci Sukses Nyai Badriyah Fayumi
Bagaimana Membangun Pesantren Ramah Anak? Ini Kunci Sukses Nyai Badriyah Fayumi
Jakarta, MUI Digital— Wakil Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI, Hj Badriyah Fayumi, menekankan pentingnya memahami pesantren secara utuh dalam upaya mewujudkan institusi pendidikan yang ramah anak.
Menurutnya, pesantren tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan pengajaran, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam pengasuhan santri.
Hal itu disampaikan Nyai Badriyah saat menjadi narasumber dalam Seminar Penguatan Institusi Pendidikan yang Ramah Anak di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Ia yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits mengatakan, pengalaman mengelola pesantren menunjukkan bahwa mengurus santri dalam jumlah besar bukanlah pekerjaan sederhana.
Pesantren yang diasuhnya pada 2016 hanya memiliki sekitar 17 anak dan kini berkembang hingga mencapai sekitar 1.000 santri.
“Dari pengalaman saya sendiri, dari tidak ada apa-apa menjadi pesantren. Dari 2016 ada 17 anak dan sekarang menjadi 1.000 anak. Di sana ada satuan-satuan pendidikan dan sekarang juga ada MI,” ujarnya.
Menurutnya, kompleksitas pengelolaan pesantren perlu dipahami bersama. Berbeda dengan sekolah pada umumnya, pesantren menjalankan fungsi pendidikan anak dalam rentang waktu yang jauh lebih panjang.
Ia menjelaskan, ketika anak bersekolah pada umumnya, pendidikan formal berlangsung selama beberapa jam.
Setelah itu, anak dapat mengikuti pendidikan nonformal seperti les bahasa Inggris atau Alquran, kemudian kembali ke rumah dan mendapatkan pendidikan informal bersama keluarga.
“Ketika anak ada di pesantren, semuanya menjadi tanggung jawab pesantren. Dari mengurus fisiknya, mengurus fisik santri, sampai pendidikan formal, nonformal dan informal,” katanya.
Selain pendidikan, pesantren juga harus mengelola berbagai satuan pendidikan yang ada di dalamnya.
Dalam satu pesantren, kata Nyai Badriyah, dapat terdapat beberapa satuan pendidikan sekaligus. Hal tersebut membuat tanggung jawab pengelola pesantren menjadi semakin kompleks.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk melihat persoalan di pesantren secara lebih proporsional, terutama ketika terjadi konflik atau kekerasan di antara santri.
Ia menyebut persoalan terbesar terkait dengan pesantren sebetulnya bukan hanya pada persoalan pendidikan formal dan pendidikan nonformal.
Ketika terjadi kekerasan di pesantren, biasanya bukan pada saat proses belajar mengajar, tetapi ketika anak berada di asrama bersama teman-temannya yang memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda-beda.
Menurutnya, perbedaan karakter antarsantri menjadi salah satu tantangan dalam pengasuhan. Ada santri yang memiliki karakter lebih keras, sementara yang lain mungkin lebih sensitif. Dalam kondisi tertentu, perbedaan tersebut dapat memicu konflik.
Ia menilai, adanya konflik antaranak tidak serta-merta menunjukkan bahwa sebuah pesantren tidak ramah anak. Hal yang lebih penting adalah bagaimana lembaga pendidikan memiliki mekanisme untuk mencegah, menangani, dan memulihkan dampak dari konflik tersebut.
“Yang namanya sekolah dan pesantren, bukan berarti tidak pernah ada anak yang berkonflik. Itu hampir tidak mungkin terjadi,” tuturnya.
Tetapi, menurut Nyai Badriyah, bagaimana ada mekanisme pencegahan, ada nilai-nilai yang disampaikan, kemudian ada penanganan, ada respons cepat, ada pemulihan bagi korban, kemudian juga ada perlindungan khusus bagi pelaku.
Ia menekankan, penanganan persoalan antara korban dan pelaku juga perlu dilakukan melalui mekanisme yang jelas dan berbasis sistem. Sistem tersebut harus berjalan dengan landasan nilai-nilai Islam sekaligus memiliki mekanisme perlindungan anak yang terstruktur.
“Ini yang kita pikirkan. Jadi landasan kita berlandaskan Islam dan juga berlandaskan sistem. Berbasis sistem,” katanya.