Lewati ke konten utama
Minggu, 2 Agustus 2026 / 18 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Sumatera Utara

Dedi Iskandar Batubara: Merajut Ukhuwah, Merawat Peradaban melalui Sinergi Ormas Islam

3 menit baca
Dedi Iskandar Batubara: Merajut Ukhuwah, Merawat Peradaban melalui Sinergi Ormas Islam
Bagikan:

Medan, muisumut.or.id. – Peringatan Milad ke-51 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan dan kolaborasi antarlembaga Islam dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Pada kesempatan tersebut, Ketua Pengurus Wilayah Al Jam’iyatul Washliyah Sumatera Utara sekaligus anggota DPD RI, Dr. H. Dedi Iskandar Batubara, S.Sos., S.H., M.S.P., M.H., C.I.R.B.C., C.W.C., menyampaikan makalah ilmiah berjudul “Merajut Ukhuwah, Merawat Peradaban: Urgensi Kolaborasi dan Sinergitas Ormas Islam terhadap Harakah Islam Masa Kini dan Masa Datang dalam Perspektif Al Jam’iyatul Washliyah.”

Dalam pemaparannya, Dedi Iskandar Batubara menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan berupa keberagaman organisasi kemasyarakatan Islam yang lahir dari tradisi keilmuan, dakwah, dan pemikiran yang berbeda-beda. Keberagaman tersebut, menurutnya, merupakan modal sosial yang sangat besar dalam membangun peradaban Islam yang lebih maju dan berdaya saing.

Namun demikian, ia menilai bahwa potensi besar tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Fragmentasi identitas, persaingan sumber daya, serta belum terbangunnya pola kolaborasi yang kuat antarlembaga menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan kekuatan kolektif umat Islam. Kondisi ini semakin kompleks seiring dengan perkembangan teknologi digital yang mendorong munculnya polarisasi, penyebaran informasi yang tidak terkendali, dan menguatnya berbagai narasi ekstrem di ruang publik.

Menurut Dedi, Al Jam’iyatul Washliyah memiliki posisi strategis dalam menjembatani berbagai perbedaan tersebut. Nama Al Washliyah yang berarti “penyambung” mencerminkan semangat membangun ukhuwah, mempererat persatuan, dan memperkuat kerja sama antarsesama umat Islam. Semangat itu berakar pada ajaran Islam yang menempatkan persaudaraan sebagai salah satu fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menjelaskan bahwa sejak didirikan pada tahun 1930, Al Washliyah telah menunjukkan karakter sebagai organisasi yang mampu mempertemukan berbagai kelompok dan pandangan keislaman. Semangat tersebut terus dipertahankan melalui penguatan nilai-nilai Islam yang moderat, keterbukaan dalam menyikapi perbedaan, serta komitmen untuk menjaga persatuan umat.

Dalam pandangannya, sinergi antarormas Islam perlu diarahkan pada tiga sektor utama, yaitu dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi umat. Pada sektor dakwah, ia mendorong pembentukan konsorsium dakwah digital yang melibatkan berbagai organisasi Islam dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang moderat, menyejukkan, dan mudah dipahami masyarakat.

Pada sektor pendidikan, ia mengusulkan penguatan kerja sama antarlembaga pendidikan Islam melalui pertukaran tenaga pendidik, penyelenggaraan riset bersama, serta pengembangan sistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Sementara itu, pada sektor ekonomi, ia menekankan pentingnya optimalisasi pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dedi juga menawarkan pembentukan forum permanen yang dapat menjadi wadah bagi organisasi-organisasi Islam dalam membangun komunikasi dan memperkuat kerja sama yang lebih terarah dan berkelanjutan. Menurutnya, ukhuwah tidak boleh berhenti pada tataran konsep, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk program yang nyata dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Ia menegaskan bahwa Al Washliyah memiliki modal historis, ideologis, dan struktural yang kuat untuk mengambil peran sebagai mediator sekaligus katalisator dalam membangun sinergi antarlembaga Islam di Indonesia. Dengan semangat tersebut, organisasi-organisasi Islam diharapkan dapat menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat sekaligus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan bangsa.

Melalui pemikiran tersebut, Dedi Iskandar Batubara mengajak seluruh elemen umat Islam untuk menjadikan persatuan sebagai kekuatan utama dalam membangun masa depan yang lebih baik.

“Ukhuwah bukan sekadar slogan, melainkan fondasi peradaban yang harus dirawat melalui kolaborasi, persatuan, dan kerja sama yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-51 MUI Sumatera Utara yang mengusung semangat persatuan dan penguatan peran organisasi Islam dalam membangun kehidupan umat, masyarakat, bangsa, dan negara.