Lewati ke konten utama
Sabtu, 1 Agustus 2026 / 17 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Sumatera Utara

GEMPA BUMI: Peristiwa Geologi Sebagai Sunnatullah Menurut Al-Qur’an, Hadis, dan Sains

9 menit baca
GEMPA BUMI: Peristiwa Geologi Sebagai Sunnatullah Menurut Al-Qur’an, Hadis, dan Sains
Bagikan:

muisumut.or.., 31 Juli 2026, Gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam yang paling dahsyat dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam hitungan detik, getaran bumi mampu mengubah bentang alam, merobohkan bangunan, memicu tsunami, memutus jaringan kehidupan, bahkan merenggut ribuan nyawa. Sepanjang sejarah peradaban, gempa bumi selalu menimbulkan dua pertanyaan mendasar. Pertama, bagaimana gempa bumi terjadi? Kedua, mengapa Allah menciptakan fenomena tersebut?

Ilmu geologi modern menjawab pertanyaan pertama melalui teori tektonik lempeng, mekanika batuan, deformasi kerak bumi, dan pelepasan energi elastik. Sebaliknya, Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ memberikan jawaban yang lebih luas dengan menempatkan gempa bumi sebagai bagian dari sunnatullah, yaitu hukum-hukum Allah yang mengatur seluruh alam semesta secara tetap, teratur, dan penuh hikmah.

Islam tidak mempertentangkan wahyu dengan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an justru berulang kali mengajak manusia memperhatikan bumi, gunung, langit, lautan, serta seluruh fenomena alam sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah (āyāt kauniyyah). Oleh karena itu, semakin berkembang ilmu geologi, semakin terbuka kesempatan manusia untuk memahami kebesaran Sang Pencipta.

Gempa bumi dalam perspektif Islam tidak dapat dipandang hanya sebagai peristiwa fisik ataupun semata-mata sebagai hukuman. Dalam berbagai ayat Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, dan penjelasan para ulama, gempa dapat menjadi bagian dari mekanisme alam, ujian bagi orang beriman, peringatan bagi manusia, atau—pada kisah umat tertentu yang disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an—merupakan azab atas kedurhakaan mereka. Adapun gempa yang terjadi pada masa kini tidak boleh secara otomatis dinyatakan sebagai azab terhadap masyarakat tertentu tanpa dasar wahyu yang jelas.

Artikel ini berupaya mengintegrasikan Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, tafsir para ulama, geologi modern, geofisika, serta nilai-nilai tauhid sehingga pembaca memperoleh pemahaman yang utuh mengenai gempa bumi sebagai fenomena ilmiah sekaligus ayat kebesaran Allah SWT.

Sunnatullah dalam Sistem Geologi
Allah SWT menciptakan alam semesta dengan ukuran, keseimbangan, dan hukum yang sangat teliti. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang berlangsung tanpa aturan. Seluruh benda langit, lapisan bumi, gunung, lautan, atmosfer, hingga inti bumi bekerja menurut hukum-hukum yang telah Allah tetapkan sejak penciptaan alam semesta.
Allah SWT berfirman:
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ
“Dialah yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan engkau lihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah engkau melihat suatu cacat?” (QS. Al-Mulk: 3)

Menurut Imam Ibn Kathir, ayat ini menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah yang bebas dari kekacauan dan kontradiksi. Fakhruddin Ar-Razi menambahkan bahwa keteraturan alam merupakan bukti kesempurnaan ilmu dan hikmah Allah. Sementara Al-Qurthubi menjelaskan bahwa seluruh sistem kosmos bergerak sesuai ketentuan-Nya dan tidak keluar dari sunnatullah.

Dalam perspektif geologi modern, keteraturan tersebut tampak pada siklus batuan, dinamika mantel bumi, pergerakan lempeng tektonik, pembentukan gunung, hingga aktivitas gempa bumi. Semua berlangsung mengikuti hukum fisika yang konsisten. Dengan demikian, hukum geologi merupakan bagian dari sunnatullah yang Allah tetapkan bagi bumi.

Gempa Bumi Menurut Ilmu Geologi
Ilmu geologi menjelaskan bahwa bumi tersusun atas empat lapisan utama, yaitu inti dalam (inner core), inti luar (outer core), mantel, dan kerak bumi (crust). Kerak bumi tidak merupakan satu kesatuan utuh, melainkan tersusun atas sejumlah lempeng tektonik yang bergerak perlahan akibat arus konveksi di dalam mantel.
Indonesia berada pada pertemuan Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina sehingga termasuk wilayah dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia. Pergerakan lempeng tersebut menyebabkan akumulasi tegangan pada zona patahan. Ketika tegangan telah melampaui kekuatan batuan, terjadi patahan mendadak (fault rupture) yang melepaskan energi elastik dalam bentuk gelombang seismik.

Energi gempa mengikuti prinsip-prinsip mekanika dan kekekalan energi. Energi yang semula tersimpan sebagai energi potensial elastik berubah menjadi gelombang primer (P), gelombang sekunder (S), gelombang permukaan (Love dan Rayleigh), panas, dan deformasi batuan. Perubahan bentuk energi ini menunjukkan bahwa hukum-hukum fisika yang dipelajari manusia sesungguhnya merupakan bagian dari sunnatullah yang Allah tetapkan bagi alam semesta.

Mengapa Gempa Terjadi?
Secara ilmiah, gempa terjadi karena beberapa faktor:
Pergerakan lempeng tektonik.
Aktivitas gunung api.
Pergeseran sesar aktif.
Runtuhan bawah tanah.
Aktivitas manusia dalam skala tertentu, seperti bendungan besar, pengeboran dalam, atau eksploitasi panas bumi.
Seluruh mekanisme tersebut berjalan mengikuti hukum fisika yang konsisten. Dalam perspektif Al-Qur’an, seluruh hukum tersebut merupakan bagian dari sunnatullah.
Allah berfirman:
سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“Itulah sunnah Allah yang telah berlaku sejak dahulu, dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (QS. Al-Fath: 23)

Gempa Sebagai Ujian dan Peringatan
Al-Qur’an memandang bencana bukan semata-mata sebagai hukuman. Sebagian merupakan ujian, sebagian sebagai peringatan, dan sebagian lagi merupakan konsekuensi dari hukum alam yang Allah SWT tetapkan.
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Sementara itu Allah SWT juga berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini mengingatkan bahwa sebagian kerusakan lingkungan diperparah oleh aktivitas manusia, seperti eksploitasi sumber daya yang tidak bijaksana, deforestasi, pembangunan tanpa memperhatikan aspek geologi, dan pengabaian mitigasi bencana.

Gunung Sebagai Pasak Bumi
Allah SWT berfirman:
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
“Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS. An-Naba’: 7)
Dan firman-Nya:
وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak bergoncang bersama kamu.” (QS. An-Nahl: 15)

Menurut Ibn Kathir, gunung merupakan penyeimbang bumi sehingga manusia dapat hidup dengan tenteram. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah menjadikan gunung sebagai unsur penstabil bagi kehidupan di bumi.

Penelitian geofisika modern menunjukkan bahwa pegunungan memiliki akar batuan yang menjulur jauh ke dalam mantel. Konsep ini dikenal sebagai isostasy, yaitu keseimbangan massa kerak bumi terhadap mantel. Walaupun gunung tidak menghilangkan seluruh aktivitas gempa, keberadaannya berperan dalam menjaga stabilitas struktur kerak bumi secara regional. Temuan ini memperlihatkan keselarasan antara petunjuk Al-Qur’an dan hasil penelitian geologi modern.

Gempa dalam Sejarah Para Nabi
Al-Qur’an mencatat bahwa gempa pernah menjadi bagian dari sejarah beberapa umat terdahulu. Kaum Nabi Shalih AS ditimpa rajfah (guncangan dahsyat) setelah mendustakan risalah Allah dan membunuh unta mukjizat (QS. Al-A’raf: 78). Kaum Nabi Syu’aib AS juga mengalami guncangan bumi setelah melakukan kecurangan dan menolak dakwah (QS. Al-A’raf: 91). Demikian pula sebagian kaum Nabi Musa AS mengalami guncangan ketika melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah (QS. Al-A’raf: 155).

Para mufassir menegaskan bahwa kisah-kisah tersebut merupakan peristiwa yang secara khusus diberitakan oleh wahyu. Oleh karena itu, tidak boleh disimpulkan bahwa setiap gempa pada masa kini adalah azab bagi masyarakat tertentu. Gempa masa kini lebih tepat dipahami sebagai fenomena alam yang berjalan menurut sunnatullah, sementara hikmah dan ketetapan Allah terhadap setiap individu berada dalam ilmu-Nya.

Gempa Bumi dalam Perspektif Hadis Nabi
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ…»
“Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga ilmu dicabut dan gempa bumi semakin banyak.” (HR. Al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa meningkatnya fenomena gempa merupakan salah satu tanda mendekatnya Hari Kiamat. Namun, hadis tersebut tidak meniadakan penjelasan ilmiah mengenai penyebab gempa. Sebaliknya, hadis mengingatkan bahwa di balik seluruh mekanisme geologi terdapat kekuasaan Allah yang mengatur alam semesta.

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:
«الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ… وَصَاحِبُ الْهَدْمِ»
“Orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan termasuk golongan syahid.” (HR. Al-Bukhari)
Hadis ini memberikan penghiburan kepada keluarga korban gempa bahwa orang beriman yang wafat akibat tertimpa reruntuhan memperoleh kemuliaan di sisi Allah sebagai syahid akhirat.

Gempa dalam Perspektif Kebencanaan Modern
Sains modern menegaskan bahwa gempa tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui ilmu pengetahuan.
Beberapa langkah mitigasi meliputi: pemetaan sesar aktif;pembangunan tahan gempa;sistem peringatan dini tsunami;pendidikan kesiapsiagaan masyarakat;tata ruang berbasis risiko geologi; dan penelitian geofisika berkelanjutan.
Upaya tersebut merupakan bentuk ikhtiar yang sejalan dengan ajaran Islam untuk menjaga jiwa (ḥifẓ an-nafs), salah satu tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī‘ah).
Integrasi Geologi, Fisika, dan Tauhid

Sains menjelaskan bagaimana gempa terjadi. Al-Qur’an dan hadis menjelaskan siapa yang menetapkan hukum-hukum tersebut serta untuk apa manusia mengambil pelajaran darinya. Dengan demikian, geologi, fisika, dan tauhid tidak saling bertentangan, tetapi membentuk satu kesatuan ilmu yang utuh.
Geologi menerangkan struktur bumi, fisika menjelaskan mekanisme energi dan gelombang seismik, sedangkan tauhid mengarahkan manusia untuk menyadari bahwa seluruh hukum alam merupakan sunnatullah. Semakin dalam manusia memahami tektonik lempeng, elastisitas batuan, dan dinamika bumi, semakin kuat keyakinannya bahwa alam semesta tidak mungkin berjalan tanpa ilmu, hikmah, dan kekuasaan Allah SWT.

Seorang ilmuwan Muslim tidak berhenti pada penjelasan mekanistik. Pengetahuan ilmiah harus melahirkan rasa syukur, kerendahan hati, tanggung jawab menjaga bumi, dan komitmen membangun sistem mitigasi bencana sebagai bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Penutup
Gempa bumi merupakan salah satu manifestasi sunnatullah yang memperlihatkan kesempurnaan hukum Allah dalam mengatur alam semesta. Al-Qur’an memberikan landasan teologis, hadis Nabi ﷺ memberikan petunjuk moral dan spiritual, sedangkan geologi dan geofisika menjelaskan mekanisme ilmiahnya. Ketiganya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam membangun cara pandang yang utuh terhadap alam.

Melalui integrasi wahyu dan sains, gempa bumi dipahami bukan sekadar sebagai pelepasan energi dari dalam bumi, tetapi juga sebagai ayat kauniyah yang mengingatkan manusia akan kebesaran Allah, keterbatasan dirinya, pentingnya ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta kewajiban memperkuat tauhid. Dengan demikian, setiap getaran bumi menjadi pengingat bahwa seluruh alam berada di bawah kekuasaan Allah SWT dan seluruh manusia pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Referensi
Al-Bukhari, M. ibn I. (2002). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
Al-Nawawi, Y. ibn S. (2005). Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.
Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2024). Katalog gempa bumi Indonesia. https://www.bmkg.go.id
International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. (2020). World disasters report 2020. IFRC.
Kearey, P., Klepeis, K. A., & Vine, F. J. (2009). Global tectonics (3rd ed.). Wiley-Blackwell.
Lay, T., & Wallace, T. C. (1995). Modern global seismology. Academic Press.
Marshak, S. (2019). Earth: Portrait of a planet (6th ed.). W. W. Norton & Company.
Press, F., & Siever, R. (2001). Understanding Earth (3rd ed.). W. H. Freeman.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. (2023). Mitigasi bencana geologi di Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. https://pvmbg.esdm.go.id
Stein, S., & Wysession, M. (2003). An introduction to seismology, earthquakes, and Earth structure. Blackwell Publishing.
Tarbuck, E. J., Lutgens, F. K., & Tasa, D. (2022). Earth science (16th ed.). Pearson.
Turcotte, D. L., & Schubert, G. (2014). Geodynamics (3rd ed.). Cambridge University Press.
United Nations Office for Disaster Risk Reduction. (2023). Global assessment report on disaster risk reduction 2023. https://www.undrr.org
United States Geological Survey. (2024). Earthquake hazards program. https://earthquake.usgs.gov

Prof. Dr. Ir. Basyaruddin, MS