MUI Sebut Maraknya LGBT di Indonesia Dipicu Fenomena Fatherless, Desak Ayah Lebih Terlibat
Jakarta, MUI Digital-Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai salah satu pemicu utama penyimpangan orientasi seksual bukan sekadar faktor lingkungan luar, melainkan akibat maraknya fenomena fatherless, kondisi di mana anak kehilangan figur dan kedekatan emosional dengan ayah di dalam rumah.
Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Dr Siti Ma'rifah, menegaskan bahwa ketimpangan pola asuh di dalam keluarga menjadi celah utama masuknya pengaruh menyimpang pada anak.
"Banyak juga LGBT disebabkan tidak hanya berkaitan dengan orientasi seksual, tapi lebih banyak juga karena adanya fatherless, di mana figur ayah tidak ada. Sehingga kemudian kecenderungan untuk orientasi seksual ini tidak sebagaimana mestinya," ujar Siti Ma'rifah kepada MUI Digital, Selasa (23/6/2026) di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat.
Baca juga: Sebut LGBT Ancaman Kepunahan Bangsa, MUI Dorong UU Ketahanan Keluarga Jadi Payung Hukum
Menurutnya, tidak berfungsinya ayah sebagai kepala keluarga sekaligus teladan membuat anak kehilangan arah dalam mengidentifikasi jati diri mereka.
Ia mencontohkan, anak laki-laki yang kehilangan figur ayah cenderung hanya dekat dengan figur ibu, sehingga potensi kebingungan peran gender bisa terjadi jika tidak diantisipasi sejak dini.
"Kondisi di keluarga ini tidak berfungsinya ayah sebagai kepala keluarga yang menjadi contoh, dan juga ibu yang berperan sebagai pembimbing. Nah itu karena figur ayah tidak ada, sehingga mungkin lebih dekat kepada figur ibu. Nah itu harus didudukkan," jelasnya.
Menyikapi fenomena ini, MUI mendesak para ayah di Indonesia untuk tidak lagi bersikap pasif dan menyerahkan urusan domestik serta pengasuhan anak sepenuhnya kepada ibu. Siti mengingatkan bahwa tanggung jawab membangun mental dan spiritual anak adalah tugas bersama.
Ia meluruskan pemahaman keliru di masyarakat mengenai konsep Madrasatul Ula (sekolah pertama) yang selama ini identik hanya disematkan kepada sosok ibu.
Baca juga: Berikut 37 Organisasi yang Menolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana
"Kami mengajak para ayah, ayo dong. Ini membimbing anak itu juga tidak hanya tanggung jawab ibu. Yang Madrasatul Ula ini tidak hanya perempuan, tapi juga ayah," tegas Siti.
Lebih lanjut, Puteri Wakil Presiden ke-13 RI ini menjelaskan bahwa persoalan keluarga seperti fatherless, masalah ekonomi, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) harus diselesaikan secara komprehensif.
MUI saat ini terus menggalakkan workshop panduan pernikahan sejak usia remaja hingga yang sudah berumah tangga, serta mendorong regulasi kuat untuk melindungi institusi keluarga.
Bagi MUI, ketahanan keluarga adalah fondasi mutlak eksistensi sebuah bangsa. Jika peran ayah dan ibu berjalan seimbang, maka benteng pertahanan anak dari gerakan menyimpang seperti LGBT akan semakin kokoh.
"Karena ketahanan keluarga ini menjadi hal penting, merupakan benteng terkecil dari sebuah bangsa dan negara. Kalau keluarga ini kuat, maka negara kuat. Kalau keluarga ini runtuh, maka negara karam," pungkasnya.