Lewati ke konten utama
Jumat, 23 Oktober 2026 / 12 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Dudung
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, dalam Istighatsah Kebangsaan memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bertema: Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri. Kegiatan ini digelar atas kerja sama Kementerian Agama RI dengan Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2026) malam. Foto: Alwi/ MUI Digital
Berita

Menko Polkam Sampaikan Pesan Prabowo: Loyalitas Santri Hanya kepada Merah Putih

Menko Polkam Sampaikan Pesan Prabowo: Loyalitas Santri Hanya kepada Merah Putih

/ 12 Jumadil Awal 1448 H 4 menit baca 67 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, menyampaikan pesan khusus dari Presiden RI Prabowo Subianto kepada seluruh santri di Indonesia.

Dudung menegaskan bahwa kesetiaan dan loyalitas tertinggi seorang santri harus dipersembahkan sepenuhnya kepada bangsa dan negara, bukan kepada individu atau golongan tertentu.

Pesan tersebut disampaikan Dudung dalam memberikan sambutan dalam gelaran Istighotsah Kebangsaan Hari Santri Nasional 2026 bertema "Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri" yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Komisi Pesantren MUI di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2026).

"Bapak Prabowo, Presiden Republik Indonesia, di benak pikirannya hanya ingin membantu, memberi, dan menyejahterakan. Jangan setia kepada Pak Prabowo, jangan kesetiaan diberikan kepada orang lain, tapi setialah kepada Merah Putih. Loyalitaslah kepada Merah Putih. Ini pesan langsung dari Bapak Presiden Prabowo," ujar Dudung. 

Menko Polkam mengungkapkan betapa pentingnya peran santri bagi masa depan bangsa. Dudung bahkan mengaku rela meninggalkan agenda rapat kerja penting bersama Menteri Dalam Negeri Australia demi hadir langsung di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.

Menurut mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tersebut, memberikan nasihat serta arahan kepada santri tidak kalah krusial dibanding pembicaraan keamanan tingkat internasional.

"Kegiatan meeting dengan Menteri Dalam Negeri Australia saya tinggalkan karena saya harus hadir di acara Hari Santri ini. Menurut saya, ini tidak kalah pentingnya. Tidak serta-merta kita hanya mengkomunikasikan tentang keamanan negara, tetapi justru sangat penting memberikan amanat dan nasihat kepada santri-santri," tegas Dudung.

Dudung mengingatkan bahwa sejarah telah membuktikan peran besar santri dan ulama dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia. Tokoh-tokoh besar bangsa dan pejabat negara, termasuk Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, juga lahir dari rahim pesantren.

Lebih lanjut, Dudung menguraikan tiga pilar utama yang menjadi fondasi sekaligus ciri khas para santri, yakni syariat, akidah, dan akhlak. 

Dari ketiga hal tersebut, Dudung menyoroti akhlak sebagai benteng utama dalam membentuk karakter manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. 

Dudung mengenang kebijakannya saat menjabat sebagai KSAD yang membuka pintu rekrutmen khusus prajurit TNI Angkatan Darat dari kalangan santri, serta menggelar ajang Liga Santri dan kejuaraan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ).

"Ciri khas santri yang membedakan di dalam Islam itu ada tiga: syariat, akidah, dan akhlak. Kenapa dulu waktu saya KSAD mencanangkan rekrutmen penerimaan tentara dari santri? Karena menurut saya, santri itu minimal akhlaknya terjaga. Santri itu hormat kepada orang tua, hormat kepada seniornya, taat kepada kiai, dan taat kepada agamanya," jelasnya.

Dudung menambahkan, penyebaran agama dan kebaikan di dunia tidak didorong oleh besarnya kekayaan, tingginya kepintaran, atau luasnya kekuasaan, melainkan oleh ketulusan orang-orang baik.

"Menteri Agama jadi menteri bukan semata karena pintar atau berkuasa, tetapi karena beliau orang baik. Sekecil apa pun kebaikan yang kamu lakukan akan menjadi riak kebaikan yang tidak pernah berujung. Kita tidak akan menjadi orang baik dengan menjelekkan orang lain, tidak merasa paling benar dengan menyalahkan orang lain, dan tidak merasa mulia dengan menghinakan orang lain," tuturnya.

Selain itu, dalam kesempatan ini, Menko Polkam juga menyoroti dinamika media massa dan media sosial saat ini yang marak dengan ujaran kebencian, fitnah, serta disinformasi. Dudung meminta para santri untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah bangsa.

"Kita lihat di media massa betapa mudahnya orang menjelekkan, memfitnah, dan memojokkan sesama. Saya punya keyakinan santri dan santriwati tidak mungkin terpengaruh oleh berita-berita bohong dan tidak akurat. Biasakan mendengarkan hal-hal yang baik, karena apa yang kita dengar akan mencerminkan apa yang kita lakukan," kata Dudung. 

Acara Istighotsah Kebangsaan ini turut dihadiri oleh Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Sekda Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto, Kabaharkam Polri Komjen Herry Heryawan, Ketua MUI Bidang Infokomdigi KH Masduki Baidlowi, Dirjen Pesantren Kemenag RI sekaligus Ketua Komisi Pesantren MUI KH Basnang Said, Wasekjend MUI H Rofiqul Umam Ahmad, serta Pengasuh Ponpes Asshiddiqiyah KH Mahrus Iskandar.


Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads