Kapolri Ajak MUI Bersama Jaga Kamtibmas Melalui Slogan "Polisi Bersama Masyarakat"
Kapolri Ajak MUI Bersama Jaga Kamtibmas Melalui Slogan "Polisi Bersama Masyarakat"
Jakarta, MUI Digital— Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto melakukan kunjungan silaturahim ke Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Kapolri mengajak MUI untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi bersama Polri dalam menjaga pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas) di seluruh Indonesia melalui pemaknaan slogan baru, "Polisi Bersama Masyarakat."
Kedatangan Kapolri disambut langsung oleh Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Bendahara Umum MUI H Misbahul Ulum, serta para Wakil Ketua Umum MUI yakni KH M Cholil Nafis, Buya Anwar Abbas, dan KH Marsudi Syuhud.
Sementara itu, Kapolri hadir didampingi oleh Kabaintelkam Irjen Pol Dedy Kusuma Bakti, Kabaharkam Komgen Pol Herry Heryawan, Kabareskrim Irjen Asep Safrudin, Kapolda Metro Jaya Komgen Pol Prof Dadang Hartanto, Kadiv Propam Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap, serta Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko.
Dalam silaturahim tersebut, Jenderal Suyudi Ario Seto menekankan bahwa tugas menjaga harkamtibmas dan penegakan hukum bukanlah hal yang bisa dipikul oleh Polri seorang diri. Menurutnya, Polri memerlukan dukungan penuh dari seluruh elemen bangsa, khususnya para ulama.
Sebagai bentuk komitmen pendekatan yang lebih inklusif dan humanis, Polri memperkenalkan doktrin dan slogan gerakan "Polisi Bersama Masyarakat."
Kapolri menjelaskan alasan di balik pemilihan frase tersebut yang sengaja menyoroti sosok individunya, bukan sekadar lembaga institusinya.
"Slogan kita sekarang adalah 'Polisi Bersama Masyarakat'. Kita tidak menyebut 'Polri'-nya, karena kalau bicara Polri itu organisasinya. Tapi kita menyebut 'Polisi'-nya. Hal ini saya pandang sangat penting agar seluruh anggota, dari pangkat tertinggi sampai paling bawah, memiliki tanggung jawab yang sama untuk selalu dekat dan berada di tengah masyarakat," tegas Jenderal Suyudi.
Kapolri menambahkan, keberadaan personel polisi di tengah masyarakat bukan sebatas pelaksanaan tugas formal kepolisian, melainkan bentuk kejujuran niat untuk mengabdi dan mendapatkan tempat di hati rakyat Indonesia.
Mengingat Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, kepolisian berkomitmen untuk terus merawat kedekatan dengan para ulama, santri, dan pesantren.
Lebih jauh, Jenderal Suyudi menyebut bahwa peran kepolisian dan ulama pada dasarnya berada di jalur yang linear, yakni mengemban misi kemanusiaan dan kebaikan yang selaras dengan nilai-nilai agama.
"Tugas polisi dan ulama itu hampir sama, yaitu amar makruf nahi mungkar. Kita memelihara kebaikan serta mencegah kemungkaran dan kejahatan. Jadi, tugas polisi dan ulama sebenarnya sangat linear," ujar Kapolri.
Untuk mengimplementasikan nilai tersebut, kepolisian akan mengintensifkan program-program keagamaan humanis seperti Shalat Subuh Keliling dan Shalat Jumat Keliling di seluruh wilayah Indonesia.
Melalui forum-forum ibadah di masjid, musala, maupun pesantren, jajaran Polri di tingkat Polda, Polres, hingga Polsek diharapkan dapat menyerap informasi serta aspirasi masyarakat secara langsung.
Melalui ruang dialog yang cair dan terbuka bersama masyarakat serta ulama, kepolisian meyakini berbagai potensi gangguan keamanan dapat diantisipasi sejak dini.
Kapolri menyoroti bagaimana peredaran minuman keras (miras) dan obat-obatan terlarang yang sering kali dianggap masalah kecil di lingkungan permukiman justru menjadi akar pemicu aksi kenakalan remaja, tawuran antar warga, hingga balap liar.
Selain masalah miras dan kejahatan jalanan, Kapolri juga mengajak MUI untuk menaruh perhatian serius terhadap ancaman narkotika modal baru yang memanfaatkan rokok elektrik atau vape.
Praktik penyalahgunaan vape yang mengekstrak zat narkotika cair dipandang sebagai ancaman proxy war yang dapat merusak generasi muda bangsa.