Memaknai Hijrah sebagai Jalan Keluar dari Kebuntuan
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Dalam Islam ada beberapa momentum yang mengajak sejenak menghentikan langkah dan merenung. Mulai dari syahdunya Ramadhan, fitrahnya Syawalan, keikhlasan Idul Qurban, hingga tibanya bulan suci Muharram.
Itu semua bukanlah
sekadar perayaan seremoni tahunan. Di baliknya, tersimpan perintah mengingat
untuk peringatan dan menggali ‘ibrah (pelajaran) dari lembaran sejarah.
Momentum Muharram,
Allah SWT merekam sebuah memoar penting dalam surah Al-Anfal ayat 30, yang
artinya: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya
upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau
mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.
Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”
Kita diminta untuk mengingat kembali sebuah episode menegangkan, sebuah titik balik yang mengubah wajah dunia: peristiwa hijrah.
Baca juga: Tiga Pilar Sistemik Siklus Kehidupan Seorang Mukmin
Jalan Panjang
Menuju Hijrah
Dakwah Rasulullah
SAW di Makkah tidak pernah berjalan mudah. Kuatnya hegemoni dan kerasnya
penindasan kaum Quraisy memaksa umat Islam mencari suaka demi keberlangsungan
akidah.
Jauh sebelum
kesuksesan hijrah di Madinah, Rasulullah SAW telah merancang tiga gelombang
percobaan hijrah. Ketiga fase ini bukanlah sebuah kegagalan, melainkan sebuah
proses pematangan mental, uji coba diplomasi, dan penguatan strategi dakwah.
Hijrah pertama ke
Habasyah (tahun ke-5 kenabian). Dipimpin oleh Utsman bin Affan, rombongan awal
ini berhasil mendapat perlindungan dari Raja Najasyi. Namun, mereka
terburu-buru kembali ke Makkah akibat termakan hoaks bahwa Quraisy telah
menerima Islam, yang realitanya penindasan justru semakin bengis.
Fase ini
mengajarkan umat Islam tentang pentingnya validasi informasi dan kewaspadaan
membaca situasi politik.
Hijrah kedua ke Habasyah lagi. Berangkat dengan rombongan
yang lebih besar di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib. Di hadapan Raja
Najasyi (seorang penguasa Kristen), umat Islam melatih kemampuan diplomasi
tingkat tinggi.
Ja’far secara
elegan membacakan surat Maryam, menemukan benang merah teologis tanpa sedikit
pun mengorbankan akidah.
Fase ini menjadi
simulasi sukses tentang bagaimana umat Islam membangun hubungan luar negeri dan
berdiplomasi lintas agama.
Hijrah ketiga,
perjalanan ke Thaif (tahun ke-10 kenabian). Ketika mencari dukungan dari
kerabat di Thaif, Rasulullah SAW justru diusir dan dilempari batu hingga
terluka parah.
Di titik paling
menguras emosi ini, mental beliau ditempa habis-habisan. Beliau menolak tawaran
malaikat untuk menghancurkan kota tersebut, dan memilih menanamkan visi masa
depan dengan mendoakan agar keturunan mereka kelak memeluk Islam.
Fase ini adalah puncak penguatan mental, mengajarkan kesabaran strategis dan pentingnya visi dakwah jangka panjang.
Baca juga: Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern
Kemarahan kaum
Quraisy terhadap eksistensi dakwah Islam akhirnya mencapai puncaknya. Seluruh
pemuka dan kekuatan otoritas Makkah berkumpul. Mereka melakukan lobi politik
tingkat tinggi, menggalang kekuatan penuh, dan sepakat menyusun sebuah makar
besar, yaitu konspirasi atau makar untuk mengakhiri dakwah Rasulullah secara
permanen.
Dalam ruang
sidang Darun Nadwah, tiga opsi kejam dilemparkan ke meja: Pertama, dipenjara
seumur hidup dalam keadaan terbelenggu. Kedua, diusir dari Makkah, tanah
kelahiran. Ketiga, dibunuh secara bersama-sama.
Keputusan
terberat pun diambil, yaitu Nabi Muhammad harus dibunuh. Malam itu, Makkah
menjadi sangat mencekam dan tegang. Rumah kecil Rasulullah dikepung rapat bak
pagar betis. Pemuda-pemuda terkuat dan paling bengis, yang dipilih mewakili
setiap kabilah, berdiri bersiaga di semua sudut rumah dan jalanan dengan pedang
terhunus.
Manajemen
Krisis ala Nubuwah
Ketika tekanan di
Makkah memuncak pada rencana pembunuhan terencana, bagaimana Rasulullah SAW
merespons? Beliau tidak membalas dengan mengangkat senjata secara membabi buta,
tidak pula pasrah menyerah pada takdir tanpa ikhtiar.
Meski Rasulullah
adalah kekasih Allah, manusia paling mulia yang selalu dalam bimbingan dan
pertolongan Allah, namun tetap melakukan ikhtiar untuk menghadapi konspirasi
kaum Quraisy. Seperti melakukan percobaan hijrah sebelumnya, yang melibatkan
tim kecil dan mengatur strategi.
Di sinilah hijrah bersinar sebagai sebuah “makhraj” (jalan keluar) yang brilian. Rasulullah SAW mempertontonkan manajemen krisis tingkat tinggi dengan menggabungkan kecerdasan intelektual, ketajaman intelijen, dan ketenangan jiwa (sakinah) yang bersumber dari wahyu.
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Mode Jalan Keluar dari Keresahan Hidup
Berikut adalah gambaran
bagaimana krisis tersebut dikelola dengan presisi yang memukau:
Operasi mengecoh
dan lolosnya sang target utama malam itu, kediaman Nabi telah dikepung oleh
para pemuda algojo pilihan dari berbagai kabilah Quraisy. Namun, Rasulullah SAW
menunjukkan keberanian dan ketenangan luar biasa. Beliau menugaskan Ali bin Abi
Thalib untuk tidur di ranjangnya. Sebuah operasi pengecoh bertaruh nyawa.
Sementara itu,
Rasulullah SAW melangkah keluar tepat di hadapan para pengepung. Sambil membaca
surat Yasin, beliau menaburkan segenggam debu ke arah mereka. Keajaiban terjadi.
Pandangan para algojo itu tertutup dan mereka tertidur lelap. Nabi pun
melenggang pergi tanpa tersentuh.
Saat rantai pasokan
logistik dan kontra-intelijen di Gua Tsur dimaksudkan untuk menghindari
kejaran, Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq tidak langsung menuju Madinah
di utara, melainkan bersembunyi di dalamnya, di arah selatan Makkah.
Di sinilah sebuah
tim kecil beroperasi dengan sangat solid. Secara garis besar dapat diperinci
sebagai berikut:
1. Logistik terselubung
Asma binti Abu
Bakar bertugas menyuplai makanan di tengah malam yang gelap dan di medan yang
terjal, mempertaruhkan nyawanya demi memastikan asupan gizi kedua tokoh utama
tetap terjaga.
2. Jaringan intelijen
Abdullah bin Abu
Bakar (putra Abu Bakar) bertugas membaur dengan warga Makkah di siang hari
untuk menyadap rencana musuh, lalu melaporkannya ke Gua Tsur pada malam
harinya.
3. Penghapusan jejak
Untuk menutupi
jejak kaki Asma dan Abdullah, seorang budak bernama ‘Amir bin Fuhairah’ digerakkan untuk menggembalakan kawanan kambing tepat di atas jejak mereka.
Selain menghapus jejak, susu kambing-kambing itu juga menjadi tambahan logistik
segar. Sebuah operasi intelijen yang sangat rapi!
Selanjutnya, Nabi
juga berhasil melakukan manajemen emosi di titik nadir (ketegangan di mulut gua).
Sebagaimana tercatat
dalam sejarah, krisis paling kritis terjadi ketika para pelacak Quraisy
berhasil berdiri tepat di mulut Gua Tsur. Abu Bakar dilanda ketegangan luar
biasa. Sambil berbisik gemetar, ia berkata, “Jika salah satu dari mereka
melihat ke bawah telapak kakinya, pasti mereka akan melihat kita.”
Sebagai pemimpin,
Rasulullah SAW tidak ikut panik. Dengan ketenangan spiritual yang paripurna,
beliau menatap sahabatnya dan menanamkan manajemen krisis psikologis terbaik
sepanjang masa: “La tahzan, innallaha ma’ana” (Jangan bersedih,
sesungguhnya Allah bersama kita). Ketenangan inilah yang akhirnya menjadi
perisai tak terlihat yang membutakan mata musuh.
Ketegangan belum
berhenti meski sudah berhasil keluar dari Gua Tsur. Ternyata ada Suraqah bin
Malik yang mengejar. Seorang pemburu bayaran yang mengincar hadiah 100 ekor
unta.
Rasulullah SAW
kembali menunjukkan ketenangan yang tak tertandingi. Beliau tidak lari
terbirit-birit. Beliau terus berjalan dan berdoa.
Setiap kali
Suraqah mendekat, kaki kudanya selalu terperosok ke dalam pasir hingga ia jatuh
berulang kali.
Ketenangan dan wibawa Rasulullah SAW pada akhirnya meruntuhkan nyali Suraqah. Sang pemburu tak hanya menyerah, namun berbalik arah menjadi pelindung yang mengecoh para pengejar lain agar menjauh dari rute Nabi.
Baca juga: Mengapa Nabi Tidak Pernah Terjebak dalam Ledakan Emosi?
Demikianlah
pelajaran yang dapat dipetik. Hijrah bukanlah pelarian dari ketakutan. Ia
adalah orkestrasi “makhraj” (jalan keluar) yang sangat indah dan
terukur.
Langkah-langkah yang digambarkan di atas membuktikan bahwa tawakal dan keyakinan pada wahyu, apabila dipadukan dengan ikhtiar manusiawi yang profesional dan terencana, akan mampu membalikkan krisis paling mematikan menjadi kemenangan sejarah yang abadi.