Dari Syukur ke Flexing: Psikologi di Balik Mempertontonkan Nikmat
Dari Syukur ke Flexing: Psikologi di Balik Mempertontonkan Nikmat
Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ada pengalaman yang sering membuat kita bertanya-tanya. Baru saja kita menceritakan kebahagiaan kepada orang lain, tiba-tiba datang persoalan. Ketika baru mengatakan, “Alhamdulillah, usaha sedang ramai,” beberapa hari kemudian penjualan menurun. Ketika bercerita tentang kesehatan keluarga, tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit. Ketika membagikan keberhasilan, tak lama kemudian muncul masalah yang tidak diduga.
Lalu muncul pertanyaan: Apakah kebahagiaan yang diceritakan
kepada orang lain menjadi lebih mudah terkena ujian?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan hati-hati. Tidak tepat
jika setiap musibah yang datang setelah seseorang menceritakan nikmat langsung
dianggap sebagai akibat cerita tersebut. Kehidupan memang memiliki hukum
pergantian. Ada kelapangan dan kesempitan, kesehatan dan sakit, keberhasilan
dan kegagalan. Alquran bahkan menyebut bahwa kebaikan dan keburukan sama-sama
dapat menjadi ujian.
Allah berfirman:
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ
فِتْنَةً
“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan
sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
Artinya, nikmat itu sendiri adalah ujian. Kekayaan menguji
apakah seseorang bersyukur dan berbagi. Jabatan menguji apakah ia amanah.
Popularitas menguji apakah ia tetap rendah hati. Kesehatan menguji bagaimana ia
menggunakan tubuhnya. Bahkan kebahagiaan menguji apakah seseorang masih melihat
sumber kebahagiaan itu sebagai karunia Tuhan atau justru sebagai hasil mutlak
dari kehebatan dirinya.
Namun, Islam juga mengenal etika dalam mengelola nikmat. Tidak semua yang kita miliki harus diketahui semua orang. Ada perbedaan antara mensyukuri nikmat dan mempertontonkan nikmat.
Dalam satu sisi, Alquran memang mengatakan:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.” (QS.
Ad-Dhuha: 11)
Ayat ini tidak semestinya dipahami sebagai perintah untuk
mengumumkan seluruh kehidupan pribadi. Menceritakan nikmat sebagai bentuk
syukur berbeda dengan mempertontonkan nikmat untuk memperoleh pengakuan. Ukuran
utamanya bukan sekadar apa yang diceritakan, tetapi juga niat, konteks, dan
dampaknya.
Di sinilah relevansi sebuah riwayat yang sangat populer,
yang berbunyi sebagai berikut:
اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ
الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ
“Mintalah pertolongan untuk berhasil memenuhi kebutuhan
dengan menyembunyikannya, karena setiap orang yang mendapatkan nikmat dapat
menjadi sasaran kedengkian.”
Riwayat ini memiliki perbedaan penilaian di kalangan ahli
hadis. Karena itu, ia tidak seharusnya digunakan secara gegabah sebagai
satu-satunya dasar hukum. Tetapi gagasan tentang pentingnya menjaga sebagian
urusan pribadi tetap tersembunyi memiliki relevansi kuat dengan ajaran Islam
tentang hasad, sebagaimana kita diperintahkan berlindung dari kejahatan orang
yang dengki.
Allah berfirman:
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika ia dengki.”
(QS. Al-Falaq: 5)
Persoalan ini semakin relevan pada zaman media sosial. Dulu
kebahagiaan seseorang mungkin hanya diketahui keluarga dan beberapa sahabat.
Sekarang sebuah unggahan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam
hitungan detik.
Kita mengunggah rumah baru, kendaraan baru, perjalanan ke
luar negeri, pencapaian anak, promosi jabatan, omzet usaha, bahkan rencana yang
belum selesai. Media sosial kemudian menjadikan kehidupan pribadi sebagai
semacam panggung publik.
Di satu sisi, berbagi kebahagiaan dapat menjadi ekspresi syukur dan inspirasi. Di sisi lain, terlalu banyak membuka kehidupan pribadi dapat menghadirkan konsekuensi sosial yang tidak selalu kita sadari. Orang lain memiliki kondisi ekonomi, pengalaman hidup, dan tingkat penerimaan yang berbeda. Apa yang bagi kita adalah ungkapan syukur, bagi orang lain mungkin menjadi pemicu perbandingan sosial.
Psikologi sosial mengenal fenomena “social comparison”,
yakni kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain. Media
sosial memperluas ruang perbandingan tersebut secara ekstrem. Seseorang tidak
lagi membandingkan dirinya dengan tetangga atau teman kantor, tetapi dengan
ratusan kehidupan yang telah dikurasi, diedit, dan ditampilkan dalam versi
terbaiknya.
Karena itu, persoalannya bukan apakah kita boleh bahagia di
depan orang lain. Persoalannya adalah apakah setiap kebahagiaan harus menjadi
konsumsi publik.
Ada kebahagiaan yang memang layak dibagikan. Pernikahan,
kelahiran anak, keberhasilan pendidikan, atau pencapaian tertentu dapat menjadi
kabar baik yang menghadirkan inspirasi. Tetapi ada pula kebahagiaan yang lebih
indah jika disimpan sebagai ruang intim antara seseorang dengan keluarganya dan
Tuhannya.
Kedewasaan spiritual salah satunya terlihat dari kemampuan
membedakan keduanya. Kita tidak perlu paranoid terhadap hasad. Tidak setiap
musibah setelah sebuah unggahan berarti terkena iri orang lain. Jangan pula
menjadikan konsep penyakit “‘ain” sebagai penjelasan otomatis atas
setiap masalah kehidupan. Tetapi kita juga tidak perlu naif. Tidak semua orang
yang melihat kebahagiaan kita memiliki kapasitas hati yang sama untuk ikut
bahagia.