Lewati ke konten utama
Selasa, 22 September 2026 / 10 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Dari Syukur ke Flexing: Psikologi di Balik Mempertontonkan Nikmat
Ilustrasi seorang pria memilih foto-foto terbaik dari koleksi pribadinya yang menggambarkan kesuksesan hidupnya untuk keperluan posting (flexing) di media sosial. Foto: Pinterest
Opini

Dari Syukur ke Flexing: Psikologi di Balik Mempertontonkan Nikmat

Dari Syukur ke Flexing: Psikologi di Balik Mempertontonkan Nikmat

/ 10 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 76 dibaca
KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A

Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A

Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Ada pengalaman yang sering membuat kita bertanya-tanya. Baru saja kita menceritakan kebahagiaan kepada orang lain, tiba-tiba datang persoalan. Ketika baru mengatakan, “Alhamdulillah, usaha sedang ramai,” beberapa hari kemudian penjualan menurun. Ketika bercerita tentang kesehatan keluarga, tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit. Ketika membagikan keberhasilan, tak lama kemudian muncul masalah yang tidak diduga.

Lalu muncul pertanyaan: Apakah kebahagiaan yang diceritakan kepada orang lain menjadi lebih mudah terkena ujian?

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan hati-hati. Tidak tepat jika setiap musibah yang datang setelah seseorang menceritakan nikmat langsung dianggap sebagai akibat cerita tersebut. Kehidupan memang memiliki hukum pergantian. Ada kelapangan dan kesempitan, kesehatan dan sakit, keberhasilan dan kegagalan. Alquran bahkan menyebut bahwa kebaikan dan keburukan sama-sama dapat menjadi ujian.

Allah berfirman:

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Artinya, nikmat itu sendiri adalah ujian. Kekayaan menguji apakah seseorang bersyukur dan berbagi. Jabatan menguji apakah ia amanah. Popularitas menguji apakah ia tetap rendah hati. Kesehatan menguji bagaimana ia menggunakan tubuhnya. Bahkan kebahagiaan menguji apakah seseorang masih melihat sumber kebahagiaan itu sebagai karunia Tuhan atau justru sebagai hasil mutlak dari kehebatan dirinya.

Namun, Islam juga mengenal etika dalam mengelola nikmat. Tidak semua yang kita miliki harus diketahui semua orang. Ada perbedaan antara mensyukuri nikmat dan mempertontonkan nikmat.

Dalam satu sisi, Alquran memang mengatakan:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.” (QS. Ad-Dhuha: 11)

Ayat ini tidak semestinya dipahami sebagai perintah untuk mengumumkan seluruh kehidupan pribadi. Menceritakan nikmat sebagai bentuk syukur berbeda dengan mempertontonkan nikmat untuk memperoleh pengakuan. Ukuran utamanya bukan sekadar apa yang diceritakan, tetapi juga niat, konteks, dan dampaknya.

Di sinilah relevansi sebuah riwayat yang sangat populer, yang berbunyi sebagai berikut:

اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ

“Mintalah pertolongan untuk berhasil memenuhi kebutuhan dengan menyembunyikannya, karena setiap orang yang mendapatkan nikmat dapat menjadi sasaran kedengkian.”

Riwayat ini memiliki perbedaan penilaian di kalangan ahli hadis. Karena itu, ia tidak seharusnya digunakan secara gegabah sebagai satu-satunya dasar hukum. Tetapi gagasan tentang pentingnya menjaga sebagian urusan pribadi tetap tersembunyi memiliki relevansi kuat dengan ajaran Islam tentang hasad, sebagaimana kita diperintahkan berlindung dari kejahatan orang yang dengki.

Allah berfirman:

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5)

Persoalan ini semakin relevan pada zaman media sosial. Dulu kebahagiaan seseorang mungkin hanya diketahui keluarga dan beberapa sahabat. Sekarang sebuah unggahan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik.

Kita mengunggah rumah baru, kendaraan baru, perjalanan ke luar negeri, pencapaian anak, promosi jabatan, omzet usaha, bahkan rencana yang belum selesai. Media sosial kemudian menjadikan kehidupan pribadi sebagai semacam panggung publik.

Di satu sisi, berbagi kebahagiaan dapat menjadi ekspresi syukur dan inspirasi. Di sisi lain, terlalu banyak membuka kehidupan pribadi dapat menghadirkan konsekuensi sosial yang tidak selalu kita sadari. Orang lain memiliki kondisi ekonomi, pengalaman hidup, dan tingkat penerimaan yang berbeda. Apa yang bagi kita adalah ungkapan syukur, bagi orang lain mungkin menjadi pemicu perbandingan sosial.

Psikologi sosial mengenal fenomena “social comparison”, yakni kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain. Media sosial memperluas ruang perbandingan tersebut secara ekstrem. Seseorang tidak lagi membandingkan dirinya dengan tetangga atau teman kantor, tetapi dengan ratusan kehidupan yang telah dikurasi, diedit, dan ditampilkan dalam versi terbaiknya.

Karena itu, persoalannya bukan apakah kita boleh bahagia di depan orang lain. Persoalannya adalah apakah setiap kebahagiaan harus menjadi konsumsi publik.

Ada kebahagiaan yang memang layak dibagikan. Pernikahan, kelahiran anak, keberhasilan pendidikan, atau pencapaian tertentu dapat menjadi kabar baik yang menghadirkan inspirasi. Tetapi ada pula kebahagiaan yang lebih indah jika disimpan sebagai ruang intim antara seseorang dengan keluarganya dan Tuhannya.

Kedewasaan spiritual salah satunya terlihat dari kemampuan membedakan keduanya. Kita tidak perlu paranoid terhadap hasad. Tidak setiap musibah setelah sebuah unggahan berarti terkena iri orang lain. Jangan pula menjadikan konsep penyakit “‘ain” sebagai penjelasan otomatis atas setiap masalah kehidupan. Tetapi kita juga tidak perlu naif. Tidak semua orang yang melihat kebahagiaan kita memiliki kapasitas hati yang sama untuk ikut bahagia.

 Maka, barangkali hikmah yang lebih tepat bukanlah “jangan pernah menceritakan kebahagiaan”, melainkan “ketahuilah mana nikmat yang perlu diceritakan dan mana yang cukup disyukuri dalam diam.” Sebab ada perbedaan besar antara orang yang menikmati nikmat dan orang yang membutuhkan orang lain menyaksikan bahwa dirinya sedang menikmati nikmat.

 Pada akhirnya, kebahagiaan tidak membutuhkan penonton sebanyak yang kita kira. Ada nikmat yang diumumkan sebagai syukur. Ada nikmat yang disimpan sebagai penjagaan. Ada kebahagiaan yang dibagikan kepada manusia. Ada kebahagiaan yang cukup kita bisikkan kepada Allah dalam sujud.

 Mungkin semakin dewasa seseorang, semakin ia memahami satu hal sederhana, tidak semua yang membuat kita bahagia harus diketahui orang lain. Sebab sebagian nikmat justru terasa lebih utuh ketika kita menikmatinya tanpa merasa perlu menjelaskannya kepada dunia.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
BAGIKAN: