Lewati ke konten utama
Senin, 5 Oktober 2026 / 23 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Catatan Pengalaman Haji 2026: “Patah Hati” Terindah
Foto asli dan kombinasi AI yang memotret penulis saat melaksanakan thawaf wada' sebagai penanda akhir rangkaian manasik haji. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Pengalaman Haji 2026: “Patah Hati” Terindah

Catatan Pengalaman Haji 2026: “Patah Hati” Terindah

/ 23 Rabiul Akhir 1448 H 6 menit baca 114 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital —

“Di bawah kiswah-Mu aku pasrahkan duka
Di hadapan-Mu aku tanggalkan seluruh nama
Sebab perpisahan ini bukan akhir cinta
Melainkan benih rindu yang makin membara...”

Entah dari mana bait-bait itu datang. Terlahir begitu saja ketika saya berdiri menatap Ka’bah, menjelang meninggalkan Makkah. Barangkali karena ada perasaan yang sulit dijelaskan dengan kalimat-kalimat biasa. Ada cinta yang tiba-tiba terasa begitu dekat, justru ketika waktu untuk pergi sudah di depan mata. 

Begitulah, dalam perjalanan haji, ada satu ibadah yang terasa berbeda dari ibadah-ibadah lainnya: thawaf wada’. Sebuah putaran terakhir sebelum seorang jemaah meninggalkan Makkah.

Bagi sebagian jemaah, mungkin hal ini terasa sebagai bagian dari rangkaian manasik yang harus ditunaikan. Tetapi bagi saya, hari itu thawaf wada’ terasa seperti sesuatu yang lebih personal. Ada perasaan berat meninggalkan tempat yang selama lebih dari sebulan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kami tergabung dalam Kloter 75 SOC. Sebagian jemaah adalah lansia dan jemaah berisiko tinggi. Karena itu, dalam pelaksanaan thawaf wada, jemaah lansia dan mereka yang membutuhkan pendampingan mendapat perhatian lebih dahulu. Setelah mereka selesai, barulah para pendamping menunaikan thawaf wada’ untuk dirinya sendiri. Dan yang menarik, di situlah kisah Pak Datoem kembali menjadi bagian dari perjalanan saya.

Berpamitan Itu Berat

Barangkali, bagian tersulit dari sebuah perjalanan bukanlah ketika harus berangkat, melainkan ketika harus berpamitan. Begitu pula dengan Mbah Datoem. Saya mendapat amanah untuk menemani beliau melakoni thawaf wada’ di lantai dua. Saya mendorong kursi rodanya perlahan mengitari Ka’bah. Dari atas sana, pandangan kami terhampar luas. Lautan manusia di mathaf (area thawaf) bawah bergerak seperti arus yang tak pernah putus.

Pada thawaf-thawaf sebelumnya, wajah Mbah Datoem nyaris tanpa ekspresi. Makkah seperti menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui, sementara Ajibarang tetap menjadi tempat yang ingin segera dituju. Ada ayam yang harus diberi makan. Ada pasar desa yang dirindukan. Ada rumah yang menunggu kepulangan.

Tetapi hari itu berbeda. Saat posisi kursi rodanya melintas lurus dengan Multazam di bawah sana, wajah Mbah Datoem tiba-tiba berubah. Tangannya yang gemetaran terangkat ke udara. Ia melambaikan tangan. Lalu mengecup telapak tangannya sendiri penuh khidmat.

“Bismillahi, Allahu Akbar,” ucapnya lirih.

Saya terdiam. Lelaki sepuh yang selama ini menjadi tempat kami belajar banyak hal itu, tiba-tiba memperlihatkan sisi yang belum pernah saya lihat sebelumnya: kesedihan karena harus berpisah.

Mungkin selama ini kita terlalu cepat mengira bahwa orang yang ingin pulang berarti sudah tidak memiliki keterikatan dengan tempat yang ditinggalkan. Ternyata tidak. Keinginan untuk pulang ke rumah dan rasa berat meninggalkan “Rumah Allah” bisa hidup bersamaan di dalam hati seseorang.

Di hadapan Ka’bah hari itu, Mbah Datoem seperti sedang berpamitan. Bukan dengan kata-kata panjang. Bukan dengan doa yang terdengar jelas. Hanya dengan tangan yang terangkat, sebuah lambaian, dan telapak tangan yang dikecupnya sendiri.  Sederhana. Tetapi justru karena kesederhanaan itu, perpisahan terasa begitu dalam.

Usai thawaf wada’, saya mengantar Mbah Datoem kembali ke hotel. Perjalanan kami di Makkah belum benar-benar selesai. Saya dan istri pun belum melakukan thawaf wada’ untuk diri sendiri. Masih ada jeda beberapa hari sebelum kami meninggalkan Makkah menuju Madinah.

Ternyata saya baru memahami perpisahan itu beberapa hari kemudian, ketika giliran saya sendiri harus berpamitan.

Pada hari yang lain, ketika keberangkatan ke Madinah sudah semakin dekat, saya dan istri turun ke mathaf di lantai dasar. Kali ini tanpa kursi roda. Tanpa amanah menemani siapa-siapa. Hanya kami berdua, Ka’bah, dan kesadaran bahwa setelah putaran-putaran ini selesai, kami benar-benar harus meninggalkan Makkah.

Setiap putaran terasa hening. Kali ini murni kepasrahan seorang hamba yang sedang memohon pamit. Tak ada yang bisa kami bawa pulang dari tempat ini selain doa, kenangan, dan kerinduan yang mungkin justru akan tumbuh setelah kami pergi. 

Usai putaran ketujuh, kami menepi dan duduk bersimpuh sejajar dengan Multazam. Cukup lama kami bersimpuh dalam doa, khusyuk memandang Ka’bah. Dari jarak dekat itu, rasa enggan berpisah menyergap hebat. Inilah “patah hati” terindah. 

Setelah doa selesai, saya berjalan mundur perlahan. Saya tidak ingin membelakangi Ka’bah. Selangkah demi selangkah saya mundur, sampai akhirnya sebuah tembok menghalangi pandangan. Ka’bah hilang dari pandangan. Dan untuk pertama kalinya, saya merasa benar-benar pergi.

Doa untuk Kembali

Bus perlahan meninggalkan Makkah. Dari balik kaca jendela, kota suci itu semakin jauh. Hotel, jalan, menara, dan keramaian yang selama lebih dari sebulan menjadi bagian dari keseharian kami perlahan berganti menjadi kenangan.

Namun rupanya, meninggalkan Makkah tidak serta-merta membuat rindu ikut pergi. Justru sebaliknya. Semakin jauh bus bergerak menuju Madinah, semakin terasa ada sesuatu yang tertinggal di belakang. Bukan koper. Bukan barang bawaan. Entah apa namanya.

Mungkin doa-doa yang belum selesai. Mungkin kenangan yang belum sempat kami cerna. Atau mungkin sebagian kecil dari hati yang diam-diam masih ingin tinggal di dekat Ka’bah.  

Perjalanan menuju Madinah seharusnya menjadi babak berikutnya. Tetapi hati kadang memiliki jalannya sendiri. Tubuh bergerak ke depan, sementara sebagian perasaan masih tertinggal di belakang.  

Begitulah rindu. Ia tidak selalu datang ketika kita sedang jauh. Kadang ia justru mulai tumbuh ketika kita baru saja meninggalkan sesuatu yang kita cintai.

Dan beberapa waktu kemudian, ketika kami sudah berada di Tanah Air, Indonesia, saya berkesempatan bersilaturahim ke kediaman Mbah Datoem di Ciberung, Ajibarang—satu kecamatan dengan tempat tinggal saya. 

Pertemuan itu berlangsung dalam suasana yang begitu akrab. Kami kembali berbincang, mengenang kebersamaan selama di Tanah Suci, tentang hari-hari indah yang kini perlahan menjadi cerita. 

Di tengah obrolan, saya iseng menggoda beliau dengan nada bercanda. “Mbah Datoem, kaji maning yuk?”

Beliau spontan tersenyum, “Ayuk.”

Hanya satu kata. Tetapi entah mengapa, jawaban sederhana itu terasa seperti doa. Begitulah rindu bekerja. Tidak selalu datang dalam bentuk tangis. Kadang cukup hadir dalam satu kata seperti yang dilontarkan sosok sepuh yang begitu mewarnai perjalanan haji saya tempo hari.  

Ayuk kembali. Ayuk menjadi tamu-Nya lagi. Entah kapan. Entah dengan cara bagaimana. Sebab untuk kembali ke “Rumah-Nya”, manusia hanya bisa berharap. Selebihnya, biarlah Allah yang menentukan jalan. 

Jika kelak benih rindu ini kembali meluap dan dada tak lagi sanggup menampungnya, hanya satu doa lugu yang ingin kami titipkan ke langit: “Ya Allah, panggil kami kembali ke Rumah-Mu. Soal bagaimana caranya, terserah Engkau saja.”

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
BAGIKAN: